HAPPY READING GUYS:)
Setelah selesai memfotonya, Jessica bertanya pada salah satu anak disana.
"Siapa nama anak yang digendong Aurel tadi?" Tanya Jessica.
"Namanya adalah Agatha" Jawab salah satu anak disana.
"Aku tidak tau siapa nama kalian semua, bisa kalian katakan satu persatu siapa nama kalian?" Tanya Jessica.
"Dia adalah Clara, ini adalah Kevin, dan ini adalah Justian" Ujar Kiano kecil sambil menunjuk satu persatu dari mereka.
"Kau pasti adalah yang tertua diantara merekakan. Siapa namamu?" Tanya Jessica.
"Namaku Kiano" Jawab Kiano kecil.
"Hah Kiano!?" Ujar Jessica kaget.
"Iya, namaku sama dengan kakak itu kan" Ujar Kiano kecil.
"Kalau nama aja ya ga cuman kalian aja yang punya nama itu" Ujar Jessica lalu mereka pergi kedapur.
Sementara itu, Kiano dan Aurel sedang berada dikamar Agatha. Aurel meletakkan Agatha, tepat setelah Aurel meletakkan Agatha tiba tiba Agatha bangun dan menangis. Aurel kebingungan harus bagaimana karena sebelumnya dia tidak pernah memiliki adik kecil ataupun pernah mengurus bayi, tapi itu berbeda bagi Kiano karena Lauren sudah mengajari semuanya sejak dia kecil sehingga dia tau apa yang harus dilakukan. Kiano menggendong Agatha lagi.
"Hei jangan menangis, lihat aku" Ujar Kiano sambil terus membuat wajah lucu.
Agatha perlahan berhenti menangis dan Aurel malah tertawa melihat Kiano dan itu juga membuat Agatha ikut tertawa. Kiano merasa bahwa pemandangan seperti ini sangat indah dia berharap bahwa waktu bisa berhenti sebentar saja dan membiarkan dia untuk menyaksikan pemandangan ini, tapi tentu saja itu semua tidak mungkin terjadi.
Waktu berjalan sangat cepat, setelah berjam jam akhirnya Agatha kembali tidur. Kiano memanggil ibu Agatha untuk berhenti bekerja dan sebaiknya menjaga Agatha yang sedang tidur lalu Kiano dan Aurel menyerahkan Agatha pada ibunya dan pergi ke dapur untuk melihat Jessica dan Sebastian.
Sesampainya disana ternyata mereka sudah tidak berada didapur lagi dan sudah berada diruang tamu dan bermain bersama.
"Kalian sudah selesai makan es krim?" Tanya Aurel.
"Iya es krim buatan kakak Jessica sangat enak sekali" Ujar Kevin.
"Oh ya aku belum tau nama kalian satu persatu. Bisakah kalian menyebutkan nama kalian satu persatu?" Tanya Aurel.
Semua anak yang ada disana menganggukkan kepala mereka dan memperkenalkan diri mereka satu persatu dan tentu saja saat mendengar ada salah satu anak yang namanya juga Kiano itu membuat Aurel kaget seperti Jessica tadi.
"Eh namanya sama denganmu" Ujar Aurel menunjuk Kiano besar.
"Kan bukan hanya aku yang memiliki nama Kiano didunia ini kan" Ujar Kiano menanggapi perkataan Aurel.
"Ya juga sih" Ujar Aurel.
Mereka berempat bermain bersama anak anak hingga waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
"Ini sudah jam 4 aku dan Jessica harus segera pulang" Ujar Aurel.
"Oh ya, kalau kalian terlambat pulang pasti akan dimarahi" Ujar Sebastian.
"Kakak jangan pulang, ayo bermain lagi kami masih belum puas bermain" Ujar Kiano kecil dan yang lainnya hanya bersorak iya.
"Kiano, kakak ini juga harus pulang kalau mereka tidak pulang mereka akan dimarahi dan tidak diizinkan kemari lagi. Apakah kau tidak mau bertemu mereka lagi?" Tanya Kiano berusaha untuk membuat Kiano kecil mengerti.
"Mereka kan sudah besar, mana mungkin mereka akan dimarahi jika pulang terlambat seperti anak kecil saja" Ujar Kiano kecil.
Sebastian, Jessica, Aurel, dan Kiano hanya bisa menghembuskan nafas panjang saja dan pasrah setelah mendengar perkataan Kiano kecil.
"Bukan hanya namanya saja yang sama t*i bahkan sifatnya saja hampir sama dengan Kiano yang dulu" Ujar Sebastian.
"Husttt" Ujar Kiano menyuruh Sebastian untuk menutup mulutnya.
Kiano lalu berjongkok didepan Kiano kecil.
"Kiano, semakin tumbuh dewasanya seseorang tanggung jawabnya juga akan bertambah. Kakak kakak ini juga memiliki tanggung jawab di rumahnya masing masing, jika mereka tidak menjalankan kewajibannya bagaimana bisa mereka akan mendapatkan haknya. Seseorang akan mendapatkan hak mereka setelah mereka melakukan kewajibannya" Ujar Kiano memberi nasihat pada Kiano kecil.
"Kiano, kau mengatakan hal yang begitu dewasa pada anak kecil, apakah dia akan mengerti?" Tanya Aurel dan Jessica.
"Bukan hanya namanya saja yang sama denganku, bahkan sifatnya saja sama denganku saat aku masih kecil dulu. Dulu aku juga pernah bertanya pertanyaan yang sama lalu orang yang mengurusku mengatakan itu padaku, aku mengerti apa yang dia katakan dan aku yakin bukan hanya nama atau sifat saja yang sama tapi otak juga sama" Ujar Kiano menjawab pertanyaan kedua wanita itu.
"Kau paham yang aku katakan?" Tanya Kiano pada Kiano kecil.
"Tentu saja aku paham semua yang dikatakan Kak Kiano, walaupun aku masih kecil tapi aku adalah anak tertua dibanding yang lainnya dan karena aku adalah yang tertua aku harus pintar dan kuat karena yang kuat dan pintar harus bisa..." Ujar Kiano kecil.
"Melindungi yang lemah dan mengajari yang bodoh" Ujar Kiano besar dan Kiano kecil bersamaan.
Setelah mengatakan itu, mereka berdua langsung tos untuk semua kesamaan yang ada dalam diri mereka.
"Kok bisa gitu ya" Ujar Aurel dan Jessica bersamaan.
"Mereka berdua tinggal dilingkungan yang sama, dengan orang orang yang sama. Bagaimana bisa mereka berdua tidak berkelakuan sama" Ujar Sebastian.
"Kau mengatakan itu pasti kau juga sering berantem disekolahmu kan?" Tanya Sebastian pada Kiano kecil.
"Eeeee kalau soal itu ya tidak perlu ditanya lagi sepertinya" Jawab Kiano kecil sambil menggaruk belakang kepalanya dan mengalihkan pandangannya.
"Dengarkan aku mulai saat ini kau jangan berkelahi lagi dengan temanmu, selesaikan masalahmu dengan membicarakannya baik baik atau bisa bisa nanti kau menjadi seperti mereka" Ujar Aurel sambil menunjuk kearah Kiano dan Sebastian.
"Memang apa yang mereka lakukan?" Tanya Kiano kecil.
"Dari awal mereka bersama mereka berdua ini hanya berkelahi saja, kau tau saat pertama kali mereka masuk sekolah saja sudah menimbulkan keributan dan yang paling mengkhatirkan lagi adalah dia" Ujar Aurel sambil menunjuk Kiano.
"Dia berkelahi hingga terluka sangat parah bahkan dia hampir kehilangan nyawanya hingga akhirnya dia dibawa kerumah sakit" Ujar Aurel.
"Kau jangan mencontoh dirinya, itu sangat tidak baik untukmu. Jangan pernah membuat orang lain khawatir, itu perbuatan yang tidak baik. Kau mengerti?" Ujar Aurel lagi sambil bertanya.
Anak anak didepan Kiano langsung khawatir padanya dan mengatakan bagaimana keadaannya. Kiano yang diserbu anak kecil itu langsung berdiri.
"Kau harusnya tidak mengatakan itu. Kau membuat mereka semua khawatir" Ujar Kiano.
"Aku harus mengataka itu agar Kiano kecil tidak mencontoh perbuatanmu yang melindungi kami semua dengan menyerahkan nyawamu. Kau pikir nyawamu tidak berharga hah? apakah kau tidak melihat seberapa khawatirnya kami saat melihatmu seperti itu. Kau juga masih memiliki tanggung jawab didunia ini dan kau belum selesai dengan tanggung jawabmu dan malah ingin pergi begitu saja" Ujar Aurel yang marah pada Kiano.
Kiano terdiam sejenak dan melihat wajah satu persatu dari temannya dan anak anak yang ada disana.
"Maafkan aku semuanya aku benar benar tidak memikirkan itu semua" Ujar Kiano yang merasa bersalah pada teman temannya.
Lalu Kiano kembali berjongkok dan mengatakan pada anak anak disana bahwa dia baik baik saja.
"Baiklah Kiano karena kau sudah mengetahui semua itu, aku tidak akan mempermasalahkan itu semua"
"Walaupun kau mengira bahwa nyawamu sudah tidak berarga sekalipun kau tetap tidak boleh pergi untuk meninggalkan kami semua yang ada disini. Berjanjilah padaku" Ujar Aurel sambil mengulurka jari kelingkingnya.
Kiano terdiam sejenak dan menatap Aurel serta jari kelingkingnya dan akhirnya dia menyetujuinya dengan mengulurkan jari kelingkingnya juga dan berjanji untuk tidak meninggalkan mereka semua yang ada disini.
"Aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian semua" Ujar Kiano.
Saat jari kelingking mereka masih terhubung tiba tiba Lauren datang dan menyerukan kata "Ehem" dan itu membuat mereka semua yang ada disana menoleh seketika kearah Lauren. Kiano dan Aurel melepaskan jari kelingking mereka. Aurel dan Jessica meminta izin pada Lauren untuk pulang dan Lauren sempat menolaknya dan menyuruhnya untuk tinggal tapi Aurel dan Jessica tetap bersikeras untuk pulang dan Lauren terpaksa mengizinkannya dan mereka berduapun pergi darisana.
"Ibu aku rasa aku juga harus pulang" Ujar Kiano.
"Kau pulang kemana lagi, ini adalah rumahmu" Ujar Lauren.
"Aku akan kembali keapartemenku" Ujar Kiano.
"Kau masih menjalankan pekerjaanmu itu?" Tanya Lauren.
"Iya aku masih melanjutkannya dan tetap menggunakan nama samaran" Jawab Kiano.
"Pantesan kau tidak pernah meminta uang padaku" Ujar Lauren.
"Baiklah kalau begitu aku akan pulang sekarang" Ujar Kiano.
"Kakak jangan pergi, nanti siapa yang akan melarang kami jika kami masuk keruang olahraga lagi?" Tanya Kiano kecil.
"Aku tidak akan khawatir untuk itu karena aku sudah menguncinya" Ujar Kiano.
"Kakak pokoknya tidak boleh pergi!!" Ujar semua anak disana bersamaan.
"Anak anak sudahlah jangan memaksanya" Ujar Lauren sambil memegangi mereka.
Kiano dan Sebastian berjalan pergi meninggalkan anak anak disana. Kiano sebenarnya sangat tidak ingin pergi meninggalkan semua anak yang ada disana termasuk ibunya sendiri tapi dia melakukan itu semua demi melindungi mereka, Kiano merasa sangat tidak berdaya dan hanya itu yang bisa dia lakukan untuk melindungi mereka semua.
...................................................................
Saat dalam perjalanan pulangnya.
"Jangan memasang muka datar seperti itu, itu sangat menakutkan, jika kau sedih maka pasang saja muka sedih tidak perlu kau memasang muka datar seperti itu" Ujar Sebastian.
"Candaanmu sangat tidak lucu" Ujar Kiano.
"Aku tau kau sedih meninggalkan anak anak itu terutama ibumu sendiri, setelah sekian lama akhirnya kalian bisa bersama tapi malah harus berpisah karena masalah seperti ini" Ujar Sebastian.
"Kau taukan aku tidak bisa berbuat apapun lagi selain melakukan itu. Orang itu bisa muncul kapan saja, jika aku tetap memaksakan untuk tinggal disana dan tiba tiba orang itu muncul, aku benar benar tidak bisa membiarkan mereka semua yang ada disan terluka. Keselamatan mereka adalah tanggung jawabku dan aku pasti melakukan tanggung jawabku dengan sebaik baiknya." Ujar Kiano menanggapi Sebastian.
"Kau memikul tanggung jawab yang besar. Setidaknya bagi juga tanggung jawab itu padaku, kau taukan seberapa kuat dirimu tapi tetap saja kau masih membutuhkan orang lain untuk tetap berada disisimu dan aku siap untuk melakukan itu" Ujar Sebastian sebagai seorang sahabat.