34. Bioskop

1148 Kata
Kinara begitu terkejut melihat Arjuna dan Argan duduk di depannya. Kinara celingak-celinguk mencari keberadaan Agatha namun wanita itu belum muncul juga. Kinara kembali menatap Arjuna yang sejak tadi menatapnya juga dengan heran. "Nyari siapa?" tanya Arjuna. "Agatha," jawab Kinara. "Masih telepon." "Oh," jawab Kinara singkat. Lagi pula ia masih kaget dengan kedatangan Arjuna dan Argan yang begitu mendadak. Ia bahkan belum bertanya pada dua laki-laki itu kenapa bisa berada di sini. "Kok disini?" tanya Kinara. "Menjemputmu. Belanja lama sekali." Tatapan Arjuna menjurus pada Kinara, membuat Kinara merinding. "Oh, lagian ngapain jemput segala, aku bisa pulang sendiri, kok," balas Kinara. "Suamimu sudah kangen, Kinara," sahut Argan yang suskes membuat Arjuna menatapnya kesal. Kinara tertawa, mana mungkin Arjuna merindukannya. Kinara yakin Arjuna bosan di rumah sendiri. Terkadang Kinara kasihan pada Argan karena dia harus nurut sama apapun yang dikatakan Arjuna. Menurut Kinara, Argan terlalu patuh. Semua yang di perintahkan Arjuna akan segera dia lakukan tanpa melihat waktu itu pagi, siang, ataupun malam. Laki-laki pekerja keras, batin Kinara. "Bilang saja kamu bosan di rumah sendiri, Jun," ejek Kinara. "Diamlah, Kinar!" ketus Arjuna. "Halo, Juna dan Argan," sapa Agatha yang baru saja kembali. "Halo Agatha," sapa Argan. "Kalian disini---" "Juna merindukan Kinara," jawab Argan yang sukses membuat Arjuna dan kinara menatapnya tajam. Agatha dan Argan tertawa melihat tingkah pengantin baru itu. Sementara Kinara hanya mengulas senyum tipisnya karena malu, beda dengan Arjuna yang bersikap acuh. "Mumpung kalian disini, kita nonton film yuk, aku udah beli dua tiket tinggal kalian beli tiketnya lagi di loket," ajak Agatha. "Aku tidak ada waktu untuk nonton," jawab Arjuna. "Aku mau nonton," ucap Argan semangat. Arjuna langsung protes dengan menatap Argan kesal. "Yaudah kalau Juna gak mau, kita nonton bertiga gimana?" tanya Agatha. Kinara dan Argan kompak mengangguk. Kinara melihat muka kesal Arjuna dan akhirnya Arjuna ikut juga untuk nonton bersama. Kinara sudah lama tidak menonton bioskop, biasanya ia hanya nonton film atau drakor di laptop yang terhubung wifi kampus. "Emang kita nonton apa, Tha?" tanya Kinara. "Film Indonesia judulnya Teluh," jawab Agatha. Kinara langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetik kata Teluh di pencarian google. Seketika tangan Kinara gemetar membaca sinopsis film itu yang ternyata bergenre horor. Astaga, rasanya ingin menjitak kepala Agatha karena sudah membeli tiket film horor. Jujur saja, Kinara takut dengan sesuatu yang berbau horor. "Kinara, kenapa? Mukamu pucat, kamu takut?" tanya Agatha. "Iya, Tha. Aku takut banget sama yang berbau horor," jawab Kinara. Agatha merasa tidak enak pada Kinara dan berniat membatalkan tiketnya. Namun, Kinara tahan karena tiket sudah beli dan Arjuna juga setuju untuk menonton film itu. "Sudah, Tha. Gakpapa nonton saja, lagian Juna dan pak Argan juga setuju," ucap Kinara. "Yaudah iya, tempat duduk kamu paling belakang sama Juna, nanti kalau takut biar di peluk Juna saja." Agatha terkekeh dan dibalas tawa oleh Kinara. Kinara dan lainnya memasuki bioskop. Ia dan Arjuna mendapat tempat duduk pojok paling belakang dan hanya ada mereka di deretan paling belakang, sementara Agatha dan Argan duduk beberapa bangku di depan mereka. Entahlah, sepertinya Argan sengaja memesankan tempat duduk ini untuknya dan Arjuna. Kinara beberapa kali menggigit bibir bawahnya dan gelisah. Ia hanya cukup memejamkan mata atau menunduk selama film di putar. Sebenarnya karena tidak terbiasa dengan film horor, Kinara jadi takut menontonnya. Mungkin saja, kakau dibiasakan ia akan berani. "Baik-baik saja?" tanya Arjuna. "Enggak," jawab Kinara jujur. "Takut?" "Eh.. itu, sedikit," jawab Kinara malu. "Cih, takut bilang saja takut, kenapa tadi masuk?" tanya Arjuna sambil memasangkan earphone ke telinga Kinara yang di hubungkan ke ponselnya. "Maaf, aku gak enak sama kalian, udah beli tiketnya juga, kalau aku bilang takut nanti kalian gak jadi nonton," jelas Kinara. Film dimulai, Kinara langsung menutup mata dan menyenderkan tubuhnya di kursi. Untung saja Arjuna memberikan earphone padanya, jadi ia tidak harus mendengar suara dari film yang diputar. Sebenarnya Kinara penasaran dengan film horor Indonesia tapi karena takut dirinya tidak pernah berani untuk menonton. Lebih baik melihat film lainnya bergenre romantis karena bisa bikin baper dan senyum-senyum sendiri. Kinara senyum-senyum sendiri membayangkan adegan di film atau drama romantis yang sering ditontonnya dengan mata yang masih tertutup. Arjuna menoleh pada Kinara dan mengernyit heran melihat wanita itu tersenyum sendiri. "Kinar?" Tidak ada jawaban dari Kinara, suara musik dari earphone membuatnya tidak bisa mendengar suara dari sekitar. Arjuna memencet hidung Kinara, membuat Kinara membuka mata seketika dan harus dikejutkan dengan wajah Arjuna yang berada tepat di depannya. "Ju.. Juna.. kamu ngapain?" Kinara gugup karena wajah Arjuna yang hampir menyentuh wajahnya. "Kamu yang ngapain senyum-senyum sendiri?" tanya Arjuna. "Musiknya enak, jadi aku reflek senyum sendiri," ucap Arjuna gugup karena Arjuna tidak berniat menjauhkan wajahnya. "Bi.. bisakah kamu jauhkan wajahmu, Jun?" tanya Kinara. "Kalau aku jauhkan wajahku, kamu akan ketakukan melihat film horornya," jawab Arjuna. Arjuna sebelumnya mengecilkan volume di ponselnya dan musik film horor yang di putar juga slow, jadi ia bisa ngobrol dengan Kinara dengan jelas. "Kalau begitu aku akan tutup mataku lagi," ucap Kinara lalu segera menutup matanya. Arjuna tersenyum dan mendekatkan bibirnya untuk mengecup bibir Kinara. Seketika Kinara terkejut dan tubuhnya bergerak ingin memberontak namun di tahan oleh tangan Arjuna. Kinara mulai menikmatinya saat bibir Arjuna menuntut lebih. "Jun, ini di tempat umum," ucap Kinara saat bibir mereka terlepas dengan napas yang masih terengah. "Aku ingin mencobanya sejak dulu," balas Arjuna. "Hah?" Arjuna kembali menempelkan bibirnya pada bibir Kinara. Tangannya bahkan mulai nakal menyentuh leher dan turun ke bawah. "Juna, berhentiiiih... " ucap Kinara saat tautan bibir mereka terlepas. Kinara juga berusaha menyingkirkan tangan Arjuna yang mulai menyentuh titik-titik sensitifnya. "Oke." Arjuna kembali ke tempat duduknya. Kinara memejamkan matanya kembali sambil mengatur napasnya. Ia juga memegang dadanya yang sejak tadi berdebar tidak karuan. Tidak hanya Kinara, Arjuna juga merasakan hal yang sama, entah kenapa dadanya berdebar saat berdekatan dengan Kinara. Arjuna baru saja menetralkan hatinya kembali. Ia menoleh pada Kinara yang sudah menyender di kursi dan memejamkan matanya. Arjuna tersenyum kemudian menaikkan volume ponselnya kembali karena adegan di film yang diputar sangat mencekam sehingga suara dari film pun menggelegar dengan kerasnya. Film selesai, Kinara dan lainnya keluar dari bioskop. Agatha menghampiri Kinara dan memperhatikan muka Kinara dengan seksama. "Mukaku kenapa, Tha?" tanya Kinara yang mulai malu diperhatikan terus. "Kamu gak ketakutan apalagi pingsan kan, Kinara?" Agatha memasang wajah panik. Kinara tertawa mendengar perkataan Agatha, begitu khawatir Agatha sampai panik seperti itu. "Ayo pulang, Kinar," ajak Arjuna. "Berikan kunci mobilnya, Gan. Aku akan pulang dengan Kinar. Kamu antar Agatha pulang ke apartemen. Kamu bawa pulang mobil Agatha, besok pagi minta orang untuk mengatarnya," titah Arjuna. Argan mengangguk dan melemparkan kunci mobil pada Arjuna. "Kalian langsung pulang?" tanya Agatha. "Gak lah. Mau ke hotel," jawab Arjuna. "Apa?" Lagi-lagi Kinara harus dikejutkan dengan perkataan Arjuna yang seenaknya sendiri. Bukan hanya kelakuan yang seenaknya sendiri tapi perkataannya juga. Kinara dan Arjuna sudah berada di mobil. Suasana kembali hening. Kinara malas untuk berbicara karena tubuhnya yang capek dan matanya yang sedikit mengantuk, sementara Arjuna fokus menyetir. "Jadi bagaimana, Kinar?" "Apanya?" "Mampir Hotel?" "Terserahmu, Jun," jawab Kinara asal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN