Ternyata usaha yang sesederhana pun tidak menghianati hasil bila dilakukan dengan ketekunan dan kesabaran. Seperti nenek penjual serabi ini. Dia mungkin tidak mendapat keuntungan yang besar tapi nyatanya dia mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana.
Aku mengambil serabi yang masih hangat lalu membawanya ke dekat tukang becak. Becak yang biasanya berjajar hingga puluhan bila pagi hari ini, hanya tinggal tiga saja. Biasanya mereka akan bertambah banyak bila menjelang subuh. Dari ketiga becak di depanku, yang dua orang pada tidur di becaknya. Mereka akan bangun bila ada yang membangunkan.
“Serabi, Pak,” ucapku sambil menyerahkan serabi ke bapak tukang becak yang terjaga, kemudian ikut duduk di dalam becaknya. Kami makan serabi yang hangat tersebut bersama-sama. Makanan yang sederhana ini cukup mengenyangkan diperutku dan membikin badan menjadi hangat.
“Nggak pulang, Pak? Atau baru berangkat?” tanyaku kepada bapak Tukang Becak tersebut.
“Aku tadi berangkat jam dua belas malam, Mas.”
“Memangnya jam segitu ada penumpang, Pak?” tanyaku mulai penasaran. Setahuku penjual yang membawa dagangannya dini hari membawa kendaraan sendiri-sendiri dari rumah.
“Tidak tentu, Mas. Kadang ada ibu-ibu yang menghentikan kami di jalan karena membawa dagangan saat berangkat, kadang juga tidak ada.” Ucap Tukang Becak tersebut.
“Berarti kalau jam segini hanya penumpang dari jalan yang naik, ya, Pak?”
“Tidak juga, Mas. Kadang ada juga pedagang menyuruh kami mengantarkan dagangannya ke rumah pedagang yang lain. Terkadang juga tidak ada yang naik sama sekali. Eman saja, Mas. Kalau ada penumpang yang membutuhkan jasa kami bila kami tidak ada di tempat,” ucap Tukang Becak tersebut.
“Sehari biasanya dapat penghasilan berapa, Pak?” tanyaku lagi sambil membuang daun pisang bungkus serabi di tempat sampah samping becak.
“Tidak tentu, Mas. Kadang kalau rame dapat enam puluh ribu sehari, kalau sepi kadang tidak dapat uang sama sekali. Tapi seringnya ya sekitar dapat empat puluh ribuan, Mas.”
Aku hanya mengangguk mendengarkan ucapan bapak Tukang Becak ini. Dalam hati terkagum juga melihat perjuangannya yang menyediakan jasa hampir dua puluh empat jam di tempat ini.
Semakin pagi suasana semakin rame. Kendaraan roda dua dan roda empat semakin bertambah, dan para tukang panggul menjalankan tugasnya secara bergantian. Aku lihat salah satu di antara tukang panggul itu menerima upah kemudian mengumpulkannya. Mungkin kalau aku berinteraksi dengan mereka pasti akan paham bagaimana cara mereka membagi hasil.
Aku edarkan pandangan menuju ke tempat lain. Ada ibu-ibu yang menghentikan sepeda motornya. Mungkin karena barang yang dibawa terlalu banyak, ibu itu pun terjatuh karena kewalahan. Segera aku berlari ke arah ibu tersebut untuk menolongnya.
“Tidak apa-apa, Bu?” tanyaku sambil menahan sepeda motor yang hendak menindihnya.
“Terima kasih, Mas,” jawabnya.
Ada beberapa orang lain tampak datang menolong. Sebagian dari mereka menurunkan barang-barang yang dibawa oleh ibu-ibu tersebut. Setelah terlihat baik-baik saja, orang-orang yang menolong itu pun meninggalkan tempat kejadian.
“Banyak banget bawaannya, Bu,” ucapku.
“Iya, Mas. Nggak ada yang bantu,” ucapnya.
“Memangnya ibu tinggal di mana?”
“Desa Jepangsari, Mas.”
“Owh ... suaminya?”
“Aku janda, Mas.”
“Owh ... maaf-maaf, Bu,” ucapku.
“Tidak apa-apa, Mas,” jawabnya ibu tersebut.
“Ini cabe merah keriting, ya, Bu?” tanyaku sambil memegang kantong keresek yang ada di dekatnya.
“Iya, Mas.”
“Satu kantong ini berapa kilo?”
“Aku kemas lima belas kilonan, Mas.”
“Sekilonya berapa, Bu?” tanyaku barang kali lebih murah dari yang aku beli kemarin.
“Sekilo tiga puluh lima ribu, Mas.” Mendengar ucapan ibu itu, tentu saja aku kaget. Harga tersebut masih di atas harga yang biasa aku beli. Apakah ibu ini mengira kalau aku bukan orang yang terbiasa belanja di pasar atau memang harga cabe yang sedang naik?
“Memangnya kenapa, Mas?” tanyanya.
“Nggak apa-apa, Bu,” ucapku.
“Mas mau beli, ya?” tanyanya lagi sambil mengamatiku.
“Nggak kok, Bu. Stok cabe merah keriting di warungku masih banyak,” ucapku.
“Pedagang juga, ya, Mas?” tanyanya.
“Iya, Bu,” jawabku.
“Bawa dagangan apa?” tanyanya.
“Aku jualan di rumah. Sembako. Ini tadi kemalaman jadi main dulu sama Tukang Becak sambil menunggu pedagangku datang,” ucapku.
“Owh ...,” jawab ibu-ibu itu.
Beberapa saat kemudian ada seorang laki-laki yang menghampiri ibu-ibu tersebut.
“Cabe dua puluh tiga ribu,” ucap laki-laki itu langsung menawar.
“Kemarin saja dua puluh lima ribu masa hari ini turun,” ucap ibu-ibu tadi. Busyet ... kenapa dia menyuruhku membelinya dengan harga tiga puluh lima ribu tapi faktanya kemarin cuma dua puluh lima ribu.
“Ya udah dua puluh lima ribu. Aku minta dua kantong,” ucap laki-laki tersebut.
“Jangan dua puluh lima ribu, Pak. Tiga puluh gitu loh ....”
“Lho tadi katanya dua puluh lima ribu, kok sekarang jadi tiga puluh. Masa naiknya hitungan detik.”
“Jangan dua puluh lima ya! Itu kan kemarin. Tadi saja Mas ini nawar dua puluh tujuh ribu nggak aku kasih.”
Astaugfirulloh ... ibu ini. Ingin bohong ajak-ajak aku.
“Ya sudah. Kalau begitu dua puluh tujuh ribu,” ucap laki-laki tersebut. Asal percaya saja tanpa tanya dulu kepadaku apakah ibu ini berbohong apa tidak. Dan laki-laki itu pun langsung mengangkat dua kantung cabe merah keriting ke sepeda motornya.
Setelah laki-laki itu pergi, aku langsung menanyakan perihal ucapan ibu-ibu tadi.
“Kenapa Ibu bawa-bawa nama saya untuk berbohong?” tanyaku.
Ibu tersebut diam saja. Apakah begini caranya transaksi di pasar. Sama sekali aku tidak paham. Yang aku tahu di penjualku kami sama-sama saling menawar dan itu pun selisihnya paling hanya satu atau dua ribu saja.
Aku lirik cabe merah keriting milik ibu tersebut. Masih ada lima kantong lagi, dan dia masih menunggu pembeli.
“Ini punya sendiri atau beli, Bu?” tanyaku. Meskipun aku agak jengkel dengan perilakunya yang berbohong tadi tapi tetap aku tahan demi untuk mendapatkan informasi.
“Beli lah, Mas. Masa punya sendiri,” ucapnya.
“Dari petani, Bu?” tanyaku.
“Iya, Mas.”
“Nebas di kebun?”
“Mana ada nebas di kebun, Mas. Ya di rumah lah, tinggal nimbang.”
“Owh ... aku kita nebas di kebun. Sekilonya berapa, Bu, kalau dari petani?”
“Dua puluh ribu,” ucap Ibu itu.
Tapi kenapa aku tidak yakin dengan ucapannya setelah beberapa waktu yang lalu dia bohong kepada pembeli. Sepertinya aku ingin turun langsung beli di petani seperti rencanaku semula. Untuk usahaku yang baru.
Waktu ternyata cepat berlalu. Para pedagang sudah menempati lapaknya masing-masing. Beberapa di antara mereka adalah pedagang tetapku. Aku terbiasa belanja di sana.
Aku pun mulai melangkahkan kaki dan meninggalkan ibu tadi yang masih menunggu pembeli berikutnya.
Dengan cepat aku membeli segala keperluan yang aku catat di rumah ibu tadi malam. Setelah mendapatkan barang yang aku inginkan, aku pun menatanya di keranjang dan segera pulang.
Seperti inilah kegiatan yang aku lakukan setiap harinya. Berteman dengan embun pagi di sepanjang jalan sebelum dia menguap terkena sinar matahari.