Setelah membantu ibu di warung aku berkeliling desa mencari desa mana yang palawija dan sayurannya siap panen. Dengan modal beli kopi di warung kopi, informasi apa pun dapat aku terima dengan gratis. Dan di setiap desa pastilah ada warung kopinya.
“Memangnya kalau di Mas Bagus harga sayuran berapa belinya?” tanya pemilik warung kopi yang bernama Mbak Wasis.
“Tidak tentu, Mbak. Tapi saya menyesuaikan harga pasar,” ucapku.
“Wah ... Mas Bagus ini masih muda pekerja keras, ya?” ucap wanita tersebut dengan kerling menggoda.
Agak merinding tiap kali aku berhadapan dengan wanita seperti itu. Mereka kira aku ini laki-laki apaan? Tapi demi mendapatkan informasi untuk melancarkan usahaku, aku bersabar menghadapi orang-orang macam mereka. Tidak semua juga pemilik warung kopi bersikap demikian, tapi satu dua orang yang bersikap seperti itu membuat semua warung kopi terkesan buruk.
“Jadi gimana, Mbak,” tanyaku kepada wanita pemilik lesung pipit tersebut.
“Begini saja, Mas. Nanti biar barangnya kumpul di sini. Mas Bagus tinggal timbang. Jadi Mas Bagus tidak perlu bersusah payah mencari siapa saja pemilik sayuran di desa ini,” ucap wanita tersebut tetap dengan tatapan yang mungkin membuat laki-laki hidung belang mabuk kepayang.
Sudah ada kabar gembira untuk memulai usaha. Karena di Desa Sukasari hasil panennya menunggu beberapa hari lagi, terpaksa aku mencari dagangan di desa tetangga. Dan mulai besok aku sudah bisa mendapatkan pasokan sayuran dari Desa Palan.
Setelah mendapat tanggapan yang gembira dari Desa Palan, aku teruskan perjalananku ke Desa Dulung. Tidak banyak yang aku dapatkan dari desa ini selain sikap acuh dari pemilik warung kopi. Katanya di desanya tidak ada yang boleh membeli hasil bumi mereka selain warga desa asli.
Aku hormati putusan mereka meskipun kecewa.
“Ada apa, Wo?” tanya ibu setelah pulang ke rumah ibu.
“Di Desa Dulung tidak ada orang luar yang boleh beli hasil bumi mereka, ya, Bu?” tanyaku.
“Kamu pergi ke Desa Dulung? Dari dulu desa itu tidak ada pedagang yang boleh masuk ke sana. Kamu akan mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan karena rezeki pedagang di sana kamu ganggu. Sebenarnya kasihan juga penduduknya. Para pedagang di desa itu menguasai pasar lalu seenaknya saja menentukan harga.”
“Ibu kok tahu,” tanyaku. Kenapa aku tadi tidak tanya ibu saja dari pada ditolak mereka.
“Tahulah dan itu sudah menjadi rahasia umum. Pernah ada pedagang sayuran keliling yang mencoba keberuntungan di sana. Salah satu siasat mereka adalah membeli dengan uang pecahan ratusan ribu untuk membeli seikat sayuran atau beberapa barang dengan harga murah. Kemudian orang yang lain melakukan hal yang sama sampai pedagang sayuran tidak ada uang kecil untuk memberi mereka uang kembalian. Kemudian datang lagi orang yang lain dengan membawa uang pecahan ratusan lagi. Karena tidak punya uang kembalian akhirnya penjual sayuran mengutangkan barang dagangannya. Selalu seperti itu hingga dagangan tukang sayur tersebut habis. Keesokan akhirnya kejadian seperti itu berulang hanya selang tiga hari pedagang sayuran tersebut pun bangkrut tanpa bisa menagih dagangan yang dia utangkan karena tidak tahu rumah orang yang berhutang.”
“Kenapa tidak tahu, Bu? Bukankah yang berhutang asli warga sana?”
“Itulah liciknya mereka. Yang namanya pedagang keliling luar desa mana tahu rumah mereka sebelah mana. Bayangkan saja rumahnya tengah sengaja beli di sebelah utara, pasti pedagang mengira rumahnya sebelah utara, kan? Lalu yang rumahnya utara beli saat pedagang tiba di sebelah selatan, tentunya tukang sayur itu mengira kalau rumahnya sebelah selatan, kan? Yang namanya belum pernah masuk di desa tersebut pasti juga nama-nama mereka tidak kenal. Bisa kamu bayangkan sendiri bagaimana tukang sayur tersebut kerepotan menagih hutang.” Ibu memberi penjelasan tanpa titik dan koma tapi sangat jelas maknanya.
“Ngeri sekali sih, Bu,” ucapku.
“Iya. Ngeri sekali dan kamu tidak akan cukup mental untuk menghadapinya,” ucap ibu, kemudian dia berdiri karena ada pembeli yang datang.
Aku menatap jam di dinding. Terlalu asyik memikirkan usaha baru membuatku mengabaikan perasaan istriku yang sedang marah.
Ya Tuhan ... Segera saja aku beranjak ke luar dan pulang ke rumah mertua.
Sesampai di sana kondisi rumah tampak sepi meski pintu terbuka lebar. Mungkin karena adik-adik iparku ke sekolah dan mertua pergi ke sawah. Tapi bukankah seharusnya Mariska ada di rumah.
“Sayang ...,” panggilku dari depan pintu. Tak ada sahutan dar dalam rumah.
“Sayang ...,” panggilku lagi. Tetap tak ada sahutan.
Aku pun masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan istriku. Dari ruang tamu, kamar, ruang televisi, dapur, dan kamar mandi semua terlihat sepi. Di mana Mariska?
Aku menjadi panik dan mencoba mencarinya lagi ke semua ruangan. Ternyata istriku itu berada di pojok kamar. Dia sedang duduk bersandar di dinding memeluk lututnya. Aku pun lega meski mendapatinya telah menangis.
“Kenapa sayang?” tanyaku dengan lembut dan penuh perasaan.
Mariska menatapku, matanya terlihat bengkak. Sepertinya sudah lama wanitaku itu menangis.
Aku mendekatinya, ku kecup keningnya. Kemudian memeluknya. Seperti inilah caraku agar istriku bisa tenang.
“Mas ke mana saja?” tanyanya sambil menangis.
“Kamu tahu sendiri kan kegiatan Mas?” ucapku. Kupererat pelukanku kepada wanitaku itu.
“Tapi Malam mas kenapa pergi begitu saja,” ucapnya.
“Sayang ... kamu menuntut hal yang tidak bisa mas lakukan. Kamu ingin mas punya penghasilan tambahan, kan? Mas pasti akan melakukannya tapi jangan meminta sama ibu,” ucapku.
“Lalu?” tanya Mariska sambil mendongakkan kepalanya.
“Aku ingin mengajakmu bicara soal ini, tapi kamu beberapa hari ini entah mengapa selalu uring-uringan dan marah-marah tidak jelas jadinya mas tunda sampai emosi kamu mereda,” ucapku.
“Bicara soal apa, Mas?” tanyanya.
“Jadi Mas ingin membuka usaha sampingan di samping warung sembako ibu. Dan soal ini aku ingin kamu mendukungku, memberi kekuatan untukku,” ucapku.
“Caranya gimana?”
“Selalu berada di sisiku sayang. Menjadi penyemangatku di saat aku lelah.”
“Apakah ini artinya mas berusaha merayuku mengajak tinggal di rumah ibu kamu lagi?!” ucap Mariska dengan nada meninggi.
“Dengarkanlah sayang. Mas ini anak ibu satu-satunya apa salahnya kalau kita tinggal dengan ibuku? Kalau kamu tidak suka nanti kita bisa membuat rumah di samping rumahnya setelah usaha kita berjalan dengan baik.”
“Tidak mas. Ibu kamu itu bawel, bisanya ngomel-ngomel melulu. Tidak mungkin aku bisa tinggal dengannya.”
“Sayang ... sadarlah Mariska! Orang yang kamu bilang bawel itu adalah ibuku. Orang yang melahirkanku. Seharusnya kamu menghormatinya.”
“Ooo ... jadi mas kira aku selama ini tidak menghormati ibumu? Dari awal ibu kamu sudah tidak suka sama aku. Dia sering kali menjelek-jelekkan aku di depan para pembeli. Seharusnya orang yang mas suruh sadar itu ibu kamu, Mas. Bukan aku.”
Apa yang mesti aku lakukan ya Tuhan? Kedua wanita yang aku cintai tidak cocok satu sama lain. lalu bagaimana aku bisa menjalankan usaha baruku dengan tenang?