Tragedi Cuci Piring

1117 Kata
“Terserah kamu saja! Tapi jangan menangis bila aku akan lebih banyak waktu buat bekerja dan jarang pulang,” ucapku. Mariska hanya diam saja. Dia terus saja bertahan dengan keangkuhannya. Aku sandarkan tubuhku di tempat tidur. Sudah menyerah menghadapi sikap istriku yang manja itu. Apa benar hubungannya dengan ibu seburuk itu hingga tidak bisa diperbaiki? Aku menarik napas dalam kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Belum lagi aku menjalankan usaha baru tapi tubuh terasa layu. Apa mungkin cukup begini saja? Bekerja di tempat ibu dan dapat uang hanya untuk kebutuhan makan? Lalu harus menerima bila tiap hari dapat sindiran dari mertua kalau aku bukan laki-laki yang bertanggung jawab yang hanya bisa menafkahi istri dari uluran tangan orang tua. “Arh ....” Kuacak-acak rambutku sendiri. Sedikit frustrasi menghadapi semua ini. Baru dua bulan menjalin rumah tangga, ada saja masalah. Bukan hanya sekali atau dua kali, tapi hampir tiap hari hatiku merasa tidak tentram. Selalu saja salah di mata semua. Dari ibu yang bilang kalau aku tidak bisa menasehati istri, dari Mariska yang terlalu banyak tuntutan, dan dari mertua yang selalu memandangku sebelah mata.  Cukup lama aku dan Mariska saling diam di lantai. Tidak ada pembahasan lagi. Otomatis aku yang harus menuruti keinginannya, dan kehidupan kami akan seperti ini seterusnya. Terdengar suara langkah kaki dari luar. Kemungkinan itu adalah mertua yang baru pulang dari sawah. Selama mertua di rumah jarang sekali aku berinteraksi dengan mereka. Bu Sani mertuaku selalu saja bersikap dan berkata seolah-olah aku adalah beban di keluarganya. “Ris ... Riska ...!” panggil Bu Sani kepada istriku Mariska. Mariska segera beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke luar kamar. “Ris ... Riska ...!” Baru sampai di pintu kamar panggilan mertua semakin keras. “Ngapain saja kamu seharian? Rumah berantakan, belum masak, belum cuci piring, belum nyapu.” Terdengar Mertua perempuanku itu sedang memarahi anak perempuannya. “Di kamar melulu mengabaikan pekerjaan rumah. Sana ke kamar lagi! Erami itu suami biar banyak telurnya. Mana tiap hari seperti seperti itu mana bisa menetas rezekinya. Hah ... lama-lama aku nek melihat perilaku kalian berdua. Memangnya kalian bisa kenyang bila seperti itu melulu. Untung belum punya anak kalau sudah punya anak lalu bagaimana dengan nasib anak kalian coba?” Bu Sani kalau marah-marah bicaranya merembet ke mana-mana. Ujung-ujungnya harga diriku yang jadi taruhannya. Dia berbicara seenak hatinya mengenai aku yang mungkin seperti sampah di matanya. Ocehan demi ocehan keluar dari mulut ibu dari istriku tersebut. Tak satu kata pun yang keluar dari mulut wanita itu sama sekali tidak bisa aku telan semua penuh dengan penghinaan. Dari awal tinggal di rumah ini sampai saat ini. Aku sama sekali tidak dianggap. “Mas ....” Mariska berdiri di ambang pintu kamar. Kalau seperti ini pasti ada yang harus aku lakukan. “Kenapa, Sayang?” tanyaku. “Bantuin cuci piring!” titahnya. “Aku tidak pernah cuci piring sayang, mana bisa,” ucapku. “Tinggal diusap doang pakai sabun masa nggak bisa,” ucap Mariska, bibirnya terlihat mulai manyun. Aku pun beranjak karena tidak sanggup menolak permintaannya. Aku berjalan ke dapur mengikuti wanitaku itu. Piring-piring kotor sudah menumpuk di tepi bak cucian piring. “Bagaimana caranya?” tanyaku kepada Mariska. “Begini loh, Mas. Kamu rendam kemudian kamu usap pakai sabun colek, kemudian kamu bilas,” ucap Mariska sambil mempraktekkan adegan cuci piring di depanku. Aku segera melakukan pekerjaan cuci piring setelah diajari Mariska. Wanitaku itu duduk di dekatku sambil mengupas bawang merah. “Mau masak apa, Sayang?” tanyaku. “Sayur asem, Mas,” ucapnya. Teringat bagaimana rasa masakan Mariska ketika di rumah ibu. Dia masak sayur asem yang rasanya tidak keruan. Ketika dia bertanya kepadaku terpaksa aku ngomong enak demi menyenangkannya. Tapi berbeda dengan ibu. Ibu jujur mengatakan masak sayur asam kok rasanya tidak keruan, sama sekali tidak bisa dimakan. Dan itu membuat ibu dan Mariska bertengkar apa lagi ketika dia bertanya padaku dan aku menjawab kalau masakannya enak. Mariska langsung menyerang ibu dengan kata-kata yang membuatku kaget. Pranggg! Gara-gara melamun tiba-tiba piring yang aku cuci meluncur dari tanganku karena terlalu licin. “Apa Ris?” teriak ibu mertua dari kamar mandi. Aku tertegun ketika menyaksikan ada dua piring yang pecah di hadapanku. Piring yang meluncur dari tanganku tadi dan piring yang di timpa paling atas. “Ada apa ini?” tanya ibu mertua yang ternyata sudah berdiri di dekat kami dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya. “Ya Tuhan ... Bagus ... apa yang kamu lakukan dengan piring-piringku? Kamu memang dasar menantu tidak berguna,” ucap perempuan berdagu lancip tersebut sambil berkacak pinggang. Mariska diam saja. Tidak sedikit pun wanitaku itu menunjukkan reaksi untuk membelaku. “Maaf, Bu. Aku tidak sengaja,” ucapku. Begitu caraku untuk menyelesaikan masalah bila berhadapan dengan Mariska. Dan sekarang kata maaf aku ucapkan juga untuk ibunya agar masalahku cepat selesai. “Maaf maaf ... apa kalau minta maaf piringku bisa kembali ke semula,” ucap perempuan tua itu lantang. “Ada apa, Bu?” tanya ayah mertua yang tiba-tiba datang melihat kami. “Lihat ini, Pak!” “Lihat apa?” tanya ayah mertua. “Lihat menantumu sudah merugikan kita,” ucap ibu mertua sambil melotot matanya. “Nak Bagus cuci piring?” tanya ayah mertua kepadaku mengabaikan Bu Sani yang merah padam. “Iya, Pak,” ucapku. “Kenapa cuci piring? Itu kan pekerjaan wanita,” ucap ayah mertua. “Dia kalau mau cuci piring biar saja, Pak. Asal tidak merugikan kita seperti ini. Lagi pula selama tinggal bersama kita menantumu ini sama sekali tidak mau membantu pekerjaan kita,” ucap ibu mertua. “Kamu jangan berkata begitu, Bu. Nak Bagus ini menantu kita. Meski dia tidak membantu pekerjaan kita di sawah tapi dia menafkahi Mariska tiap hari dan dari uangnya pula kita bisa makan lauk sehari tiga kali,” ucap ayah mertua. “Harusnya dia juga harus membantu mertuanya. Lagi pula uang yang diberikan kepada Mariska uang pemberian ibunya bukan dari kerja kerasnya,” ujar Bu Sani tidak mau kalah. “Dari mana pun itu ibu, yang penting halal. Bagus sudah membantu ibunya bukankah itu bekerja? Omonganmu itu loh, Bu lama-lama tidak enak didengar.” “Di rumah ini saja kamu kapan lihat Bagus bekerja, Pak. Tiap kita pulang saja dia pasti selalu berada di kamar. Pasti di rumah ibunya juga begitu. Lihat! Cuci piring saja tidak becus.” “Astaugfirulloh ... Ibu ... istigfar .... Lagi pula itu bukan tugas Bagus buat cuci piring. Ibu ngapain saja?” tanya ayah mertua. “Kok malah ibu yang disalahkan?” “Memang kamu yang salah, Bu. Seharusnya jadi orang tua harus bisa beri contoh baik kepada anak-anaknya!” “Lihat Bagus. Gara-gara kamu aku bertengkar dengan ayah Mariska. Puas kamu?” “Diam kamu, Bu!” ucap ayah mertua. Seketika suasana menjadi tegang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN