“Dari awal aku perhatikan kamu tidak ada sedikit pun hormat sama mantumu. Aku diamkan kok malah semakin menjadi. Kalau kamu tidak sayang sama menantu setidaknya lihatlah Mariska. Bagaimana dia bisa menjadi istri yang baik bila ibunya saja memberi contoh yang buruk,” hardik ayah mertua.
Bu Sani tidak menjawab, kemudian dia pergi menuju ke kamarnya. Aku melanjutkan pekerjaan mencuci piring yang sempat tertunda.
“Nak, Bagus! Jangan lakukan itu, Nak. Jangan pernah kamu mencuri piring di rumah ini,” ucap ayah mertua.
“Aku hanya ingin membantu Mariska, Pak,” ucapku.
“Aku tahu niatmu baik tapi bagaimana kalau tetangga tahu bila menantu laki-laki Pak Teguh mencuci piring. Mau ditaruh di mana mukaku. Lagi pula kenapa kamu menyuruh suamimu untuk mencuci piring, Ris?” ucap ayah mertua.
“Dia yang menginginkan sendiri, Pak,” jawab Mariska.
“Iya, Pak. Aku yang menginginkan sendiri,” ucapku. Takut Mariska kena marah bila ketahuan yang telah menyuruhku.
“Setidaknya kamu harus bisa mencegahnya, Ris! Jangan izinkan suamimu melakukan pekerjaan wanita,” ucap ayah mertua.
Mariska melirik ke arahku. Sepertinya dia kesal karena aku tidak diizinkan ayah mertua membantu pekerjaannya.
“Kalau begitu aku akan bantu kamu masak,” ucapku setelah ayah mertua pergi.
“Tidak perlu,” ucap Mariska ketus.
“Ayolah sayang,” rayuku berharap dia berwajah cerah. Kemudian wanitaku itu pun tersenyum sambil memberikan pisaunya kepadaku.
“Kamu iris kotak memanjang labu siam itu ya, Mas. Kemudian wortel sama kacang panjang,” ucap Mariska sambil mencuci piring.
Aku pun segera mengerjakan apa yang perlu aku kerjakan. Bahkan meracik bumbu sayur asem yang pernah diajarkan ibu kepadaku. Meskipun aku laki-laki sebagai seorang anak janda yang sibuk sering kali aku membantu ibu masak. Kalau hanya sekedar sayur asem, goreng lauk, dan membuat sambal aku sudah sering melakukannya. Apalagi memasak nasi goreng. Itu adalah makanan kesukaanku di malam hari bila kelaparan. Tapi ibu memang tidak pernah sekali pun menyuruhku mencuci piring dan aku tidak tahu alasannya.
Selesai meracik bumbu sayur asem, aku menghaluskan cabe merah keriting dan tomat untuk bahan sambal hingga Mariska tinggal memasaknya saja. Mariska terlihat gembira sekali ketika melihat pekerjaannya menjadi ringan, dan itu merupakan kepuasan tersendiri bagiku bisa membuat wanitaku bahagia.
Sementara itu Pak Teguh, ayah mertuaku mengintip kami dari kejauhan. Aku menatapnya sekilas ketika separoh tubuhnya yang terlihat dari balik korden pintu dapur mendongak mengintip kami. Pria itu sedang geleng-geleng kepala. Mungkin dia sedikit kesal melihatku yang tidak patuh dengan perintahnya.
Setelah matang, aku membantu Mariska mempersiapkan makan siang di meja makan. Adik-adik Mariska belum juga pulang sekolah, sementara itu mertua langsung mengambil piring dan menikmati makan siangnya dengan lahap.
“Tumben sayur asemnya enak,” ucap ibu mertua. Bu Sani tidak tahu kalau yang meracik bumbu adalah aku. Biarlah biar Mariska mendapat pujian.
Aku dan Mariska hanya tersenyum. Aku jarang makan di rumah ini. Pagi, siang, dan malam seringnya makan di rumah ibu terkadang juga di jalan. Jadi aku tidak tahu bedanya makanan siang ini dengan makanan di hari-hari sebelumnya. Mungkin saja masakan Mariska masih berantakan seperti saat masak di rumah ibu sehingga mertuaku mengatakan kalau sayur asem siang ini terasa enak.
Setelah makan aku pamit pergi belanja. Catatan kecil belanjaan siang hari yang sudah aku siapkan tadi pagi aku periksa di kantong jaket di kamar. Seperti biasa Mariska selalu menyusulku ke kamar dan memintaku memberi kecupan kecil ketika aku hendak pergi. Perilakunya yang manja ini pula yang selalu membuat hari-hariku bersemangat.
“Aku berangkat dulu, ya, Sayang. Pertimbangkan lagi keputusanmu. Aku ingin hidup kita lebih baik. Membuka usaha baru dan tentunya tidak akan berjalan lancar bila tidak ada dukungan moral darimu,” ucapku kepada Mariska sebelum aku pergi meninggalkannya. Wanita itu mengangguk dan mengantarkanku sampai di depan pintu.
Setelah belanja bahan kering dan pulang ke rumah ibu, aku izin pamit untuk pergi ke kampung Palan. Di sana Mbak Wasis sudah menantiku dengan beberapa karung sayur di depan rumahnya.
“Ini apa saja, Mbak?” tanyaku.
“Terong sama timun, Maaasss,” ucap pemilik warung kopi tersebut dengan nada bicara yang mendesah. Itu kebiasaan Mbak Wasis bila berbicara dengan pria tampan dan aku merasa tampan karena dia lebih sering terlihat tergoda bila aku datang.
“Kita timbang, ya, Mbak!” ucapku.
“Iya, Mas. Sebentar aku ambilkan timbangan dahulu,” ucap Mbak Wasis.
Mbak Wasis segera mengambil timbangan dan menggantungkan timbangan tersebut ke tali yang telah terhubung dengan blandar rumah. Sepertinya tali ini baru saja dipasang karena kemarin aku belum melihatnya.
“Biasanya potongannya berapa, Mbak?” tanyaku.
“Ya nggak tahu to, Mas. Nggak dipotong kan lebih bagus,” ucapnya.
Akhirnya aku menimbang terong dan timun tersebut tanpa ada potongan. Aku dan Mbak Wasis saling menulis berat sayur yang aku timbang kemudian mencocokkannya. Setelah sesuai aku pun membawa dua kantong timun yang aku taruh di depan dan belakang sepeda motor untuk aku setorkan kepada Ko Heri. Aku harus lima kali mondar mandir karena sayuran tersebut ada sepuluh kantong.
“Jadi total semuanya berapa, Mbak?” tanyaku kepada penimbang saat selesai menimbang timun dan terong di tempat Ko Heri.
“Totalnya ... timun ada dua ratus enam puluh kilo, sedangkan terong ada dua ratus delapan puluh kilo,” ucap wanita berkulit putih tersebut. Di lihat dari kulitnya mungkin dia adalah saudara Ko Heri.
“Selisihnya kok banyak sekali, Mbak?” ucapku.
“Kok bisa? Timbangan ini akurat lho,” ucap wanita tersebut.
“Ini, Mbak. Catatanku timun dua ratus tujuh puluh kilo sedangkan terong dua ratus sembilan puluh kilo,” ucapku.
“Nggak kamu potong ya, berat sayuran ini?” tanya wanita itu.
“Enggak, Mbak,” ucapku.
“Lain kali potong. Satu karungnya dua kilo. Itu sudah potongan wajar untuk sayuran.”
“Begitu ya, Mbak,” ucapku.
Aku harus menerima pembayaran sesuai dengan timbangan wanita tersebut dan kemudian uangnya aku serahkan kepada Mbak Wasis di warung kopinya.
“Timbangannya di potong dua kilo, Mbak, di sana,” ucapku kepada Mbak Wasis. Mbak Wasis mengernyitkan alis mendengar penuturanku tersebut.
“Jadi ini aku potong juga, ya, Mbak, berat yang tadi,” bujukku.
“Tidak bisa to Maaasss ... aku kan sudah bilang sama pemiliknya kalau beratnya sekian-sekian nanti kalau kapok bagaimana,” ucap Mbak Wasis.
“Ya udah, Mbak,” ucapku.
Aku pun menghitung sejumlah nominal untuk terong dan timun yang aku beli. Aku mengambil keuntungan seratus rupiah untuk setiap kilonya.
“Terus terang, Mbak. Aku ambil untung seratus rupiah tiap kilonya. Terserah Mbak Wasis mengambil berapa rupiah dari petani,” ucapku.
“Iya, Mas. Sudah aku pikirkan berapa keuntungan yang akan aku ambil dari mereka,” ucap Mbak Wasis sambil tersenyum menatapku.
“Timun dua ribu kali dua ratus tujuh puluh sama dengan lima ratus empat puluh. Terongnya seribu lima ratus kali dua ratus sembilan puluh sama dengan empat ratus tiga puluh lima jadi total sembilan ratus tujuh puluh lima, ya, Mbak,” ucapku sambil menyerahkan uang dengan jumlah tersebut kepada Mbak Wasis. Mbak Wasis menerimanya dengan senyum yang penuh arti.
Setelah beres semua, aku pun pamit kepada Mbak Wasis kalau akan pulang. Lumayan lelah badanku berulang kali harus bolak balik ke pasar.
Di tengah perjalanan aku menghitung untung rugi dari usaha baruku tersebut. Aku menerima uang dari orangnya Ko Heri sejumlah sembilan ratus sembilan puluh empat ribu kemudian menyerahkannya kepada Mbak Wasis dengan total sembilan ratus tujuh puluh lima ribu rupiah. Setelah membeli bensin dua puluh ribu, aku ternyata masih menderita kerugian sebesar seribu. Bayangan dapat untung sekian puluh ribu ternyata musnah. Rasa capekku hari ini belum terbayar. Semoga besok segera tergantikan.
Karena melamun tiba-tiba aku menabrak jalan berlubang. Seketika aku tidak bisa menjaga keseimbangan dan sepeda motorku tiba-tiba terlempar entah ke mana. Sepertinya aku mengalami hal yang sama dengan sepeda motorku. Tubuhku terasa terhempas. Tapi aku tidak merasakan apa-apa selain semua yang ada di sekelilingku tampak terlihat gelap.