Ocehan Sang Mertua

1136 Kata
Ruangan serba putih-putih ini menggantikan warna gelap yang menutupi mataku. Tubuhku rasanya sakit semua dan sulit digerakkan. Samar-samar aku melihat Mariska menangis tersedu. Di dekatnya ada ibu yang berusaha menenangkannya. Melihat ibu dan istri terlihat akur hatiku terasa hangat. Tapi di mana ini? Kenapa aku merasa di tempat asing? “Mas Bagus sudah sadar, Bu,” ucap Mariska tampak berbinar memperlihatkan aku kepada ibu. “Syukurlah ... kamu sudah sadar, Wo. Kamu membuat kita cemas,” ucap ibu. Wanita berusia lima puluh tahun itu terlihat tegar. Meski wajahnya berselimut mendung. Ternyata aku di rumah sakit. Sebuah infus terpasang di tanganku. “Apa yang terjadi, Bu?” tanyaku. “Seseorang menemukanmu di jalan dalam keadaan pingsan. Untung orang tersebut mengenalimu dan langsung beritahu ibu,” ucap ibu sambil memijit-mijit ringan kakiku. “Huhuhu ....” Mariska masih saja menangis. “Aku takut sekali, Mas,” katanya. “Aku nggak apa-apa, Sayang,” ucapku berusaha menghiburnya. Aku perhatikan seluruh tubuhku tidak ada cidera yang parah. Kaki dan tanganku masih bisa aku gerakkan meski terasa ngilu dan sakit semua. “Sudah sudah ...,” ucap ibu menenangkan wanitaku itu. “Bagaimana bisa tenang, Bu. Mas Bagus pingsan selama dua hari. Aku bangunkan tidak-bangun-bangun,” ucap Mariska sambil terus saja terisak. “Sekarang sudah bangun, kan? Berhentilah menangis,” ucap ibu kepada Mariska. “Hah ... dua hari? Bagaimana dengan daganganku?” tanyaku. “Mas Bagus malah ngomongin dagangan. Mas tidak tahu betapa khawatirnya aku,” ucap Mariska. “Bukan seperti itu, Sayang. Maafkan mas telah membuatmu khawatir. Tapi ini penting sekali,” ucapku kepada Mariska. “Dalam keadaan seperti ini masih saja memikirkan dagangan, Wo wo ...,” ucap ibu mengulangi perkataan Mariska. “Rezeki ada yang mengatur. Warung ibu tutup. Besok kita bisa jualan lagi.” “Bukan itu, Bu. Bagaimana daganganku di rumah Mbak Wasis? Dua hari pingsan otomatis dua hari aku tidak memberi mereka kabar,” keluhku. Suasana menjadi hening. Tiba-tiba perasaanku menjadi tidak tenang. Siapa yang bertanggung jawab dengan dagangan yang ada di rumah Mbak Wasis karena itu adalah pesananku. Dua hari, pastilah mereka merasa cemas menungguku. Lalu bagaimana dengan nasib sayuran mereka? “Mbak Wasis yang ada di desa Palan itu, ya? “ tanya ibu. “Iya, Bu,” ucapku. “Mau bagaimana lagi? Kamu juga tidak sengaja. Sudah! Jangan kamu pikirkan. Rezeki ada yang mengatur. Mungkin belum rezekimu. Nanti kalau kamu sembuh baru kita pikirkan,” ucap ibu. “Bukan seperti itu, Bu. Lalu tanggung jawabku kepada para petani bagaimana? Kenapa tiba-tiba aku menghilang begitu saja,” ucapku. Masih memikirkan bagaimana wajah-wajah para petani di rumah Mbak Wasis yang menanti sayurannya diambil olehku. Mereka pasti cemas. Ibu diam saja, begitu juga dengan Mariska. Rasanya ingin sekali berlari ke sana memberi tahu kalau aku sedang tidak baik-baik saja, tapi mana mungkin aku melawan infus yang masih melekat di tanganku. Dan kenapa pula aku tidak meminta kontak Mbak Wasis? Rasanya ini amatlah sulit di saat awal-awal memulai usaha. Aku takut mereka kecewa dan tidak mempercayai aku lagi untuk selanjutnya. Pukul sepuluh pagi dokter memeriksa. “Apa sudah boleh pulang sekarang, Dok?” tanyaku. “Maaf, Mas. Belum boleh, ya. Kita lihat perkembangannya besok?” jawab dokter tersebut. “Kenapa besok, Dok? Sekarang aku merasa sudah sembuh,” ucapku. Waktu tiba-tiba terasa sangat lambat. “Kita lewati prosesnya, Mas, Bagus. Kondisi Mas Bagus memang belum memungkinkan untuk pulang hari ini,” ucap pria dengan rahang tegas tersebut. Mendengar penuturan dokter itu aku hanya bisa pasrah memikirkan nasib-nasib sayuran yang menunggu tenagaku untuk membawanya ke pasar. Ibu dan ayah mertua datang menengokku di jam istirahat. Bu Sani membawa rantang makanan yang ditujukan untuk Mariska. “Maaf ya, Bu, baru bisa tengok. Dua hari ini kami sangat sibuk di sawah,” ucap ibu mertua kepada ibuku yang kemudian mendapat kode dari ayah mertua kalau apa yang diucapkannya tidak tepat. Ibu dan ayah mertua adalah petani tulen. Bahkan tiap hari mereka selalu sibuk di sawah. Ada saja pekerjaannya. Menyebar benih, memberi pupuk, menyiangi. Tak pernah sedikit pun pekerjaan mereka itu mereka tunda bahkan ketika sanak saudara mereka terkena musibah. Apalagi musibah itu terjadi padaku, menantu yang tidak diharapkan. “Iya, Bu, tidak apa-apa. Pak Teguh dua malam ini kan sudah menginap di sini. Itu sudah sangat membantu,” ucap ibu. Ternyata ayah mertua dua malam menginap dan itu membuatku terasa haru. Ternyata masih ada yang memperhatikanku dari keluarga istriku. “Aku hanya pindah tidur saja, Bu,” ucap mertua lelakiku tersebut. Aku berusaha menggerakkan tubuhku agar bisa duduk. Mariska dan ibu membantuku mengatur posisi badanku agar bisa nyaman. “Sudah! Fokus sama kesembuhanmu dulu jangan memikirkan yang tidak-tidak,” ucap ibu seakan mengerti yang aku pikirkan. “Memangnya Bagus memikirkan apa, Bu? Tiap harinya sudah dijamin sama ibunya,” ucap ibu mertua. Seketika ibu mertua kembali diberi kode ayah mertua kalau apa yang diucapkannya bukan hal yang benar. Wanita itu mungkin bermaksud untuk memuji ibu dengan cara menghinaku. “Dia lagi merintis usaha baru, Bu. Dan sekarang harus ditinggalkan karena dia mengalami musibah,” ucap ibu berusaha tidak terpengaruh dengan ucapan besannya. “Usaha baru apa?” tanya ibu mertua. “Jual beli sayur, Bu,” ucap ibu. “Memangnya berapa to, Bu, keuntungan jualan sayur?” tanya ibu mertua. Seketika raut wajah wajah ibu terlihat berubah. “Ya nggak tahu, Bu. Namanya saja baru usaha. Untung ruginya juga belum diperhitungkan secara matang. Apa lagi bagus mengalami musibah, tentunya semua tidak semudah seperti apa yang kita bayangkan,” ucap ibu. “Kalau tidak mudah kenapa harus dijalani? Sebenarnya kan banyak pekerjaan yang mudah hanya saja dia malas melakukannya,” ucap ibu mertua. “Ibu!” Kalau tadi ayah mertua mengingatkan ibu mertua melalui kode, sekarang laki-laki tersebut terang-terangan menegur ibu mertua dengan cara membentak. “Benar, kan, Pak. Kalau mau Bagus bisa membantu kita di sawah. Dia tiap hari mondar-mandir ke rumah ibunya karena tidak mau bersedia membantu kita. Lalu ngapain juga mencari pekerjaan yang tidak jelas keuntungannya bila ada pekerjaan yang membutuhkan tenaganya. Selama di rumahku, Bu, Bagus sama sekali tidak pernah membantu pekerjaanku,” ucap ibu mertua. “Ibu!” bentak ayah mertua. “Memangnya apa yang aku katakan salah, Pak. Semuanya benar, kan? Biar Bu Ratih tahu kalau anak laki-lakinya itu pemalas.” Aku menyaksikan wajah ibu terlihat merah padam mendengarkan ibu mertua berucap demikian. Tapi sebelum ibu membuka mulutnya, ayah mertua terlebih dulu menarik tangan ibu mertua agar pergi menjauh. “Ayo pulang! Kamu kemari mau tengok menantu atau mau ngajak ribut?! Bikin malu saja!” ucap ayah mertua sambil menyeret ibu mertua keluar dari kamar inapku. "Bikin malu bagaimana, Pak? Ini justru bapak yang bikin aku malu dengan menarik-narik tanganku seperti ini," ucap ibu mertua yang masih terdengar di luar kamar. Selanjutnya suara ibu mertua perlahan lahan menjauh kemudian menghilang. Ibu menatapku lekat. Dan aku tahu kalau tatapan matanya pertanda sesuatu yang tidak baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN