Pulang ke Rumah

1393 Kata
Aku tidak berani menatap mata orang yang telah melahirkanku tersebut. Dari sorot matanya terpancar luapan kemarahan. Wanita yang masih memiliki garis kecantikan di usianya yang ke lima puluh tahun itu menarik napas panjang. “Begitu cara mertuamu memperlakukanmu, Wo?” tanya ibu.         Aku melirik ke arah Mariska. Tidak sampai hati melihat ibu membicarakan keburukan orang tuanya meskipun sering kali aku mendengar wanitaku itu membicarakan keburukan ibu di depan keluarganya. “Aku sudah menduga. Buah jatuhnya tidak jauh dari pohonnya,” ucap ibu. “Apa maksud ibu?” tanyaku. “Sudah. Tidak usah banyak tanya. Nanti setelah sembuh kamu harus pulang ke rumah. Ibu tidak mengizinkan kamu tinggal di rumah mertua yang sama sekali tidak menganggapmu.” Aku tidak membantah ucapan ibu. Bila ibu sudah berkata seperti itu otomatis aku harus bisa menerimanya. Sebenarnya aku juga tidak betah tinggal di rumah mertua yang tak sedikit pun berkata baik tentangku. Aku pandangi Mariska yang sedari tadi terdiam. Tumben sekali wanitaku itu tidak banyak bicara seperti biasanya. Dia tampak terlihat cantik bila diam seperti itu. “Ibu mau keluar dulu. Mau salat dan cari makan,” pamit ibu. “Ini tadi dibawakan makanan ibu, Bu,” ucap Mariska sambil menunjukkan rantang makanan kepada ibu. “Kamu saja yang makan. Aku sudah kenyang mendengar ucapan ibumu barusan. Di depan ibunya, dia berani-beraninya menjelek-jelekan suamimu, tidak bisa aku bayangkan bagaimana perlakuannya bila di belakangku pasti lebih buruk.” Usai berkata seperti itu, ibu langsung pergi meninggalkan kami. Mariska mendekatiku setelah ibu keluar dari kamar. Istriku ini selalu tampak cantik meski matanya sembab karena habis menangis. Apalagi melihat dia terdiam seperti tadi. Tidak ada yang lebih bahagia rasanya selain melihat sang istri tidak membantah ucapan orang tua. Ada sedikit penyesalan kenapa aku jarang sekali membuat Mariska tertawa. Apakah sebagai laki-laki aku belum bisa memberi nafkah kepadanya lahir dan batin sehingga dia selalu terlihat tertekan. “Mas,” ucap wanitaku itu memulai pembicaraan. “Iya, Sayang,” jawabku. “Kamu dengar apa kata ibu tadi,” ucapnya. “Iya, Sayang. Kenapa?” “Mas pasti akan setuju, kan? Iya, kan?” “Kenapa, Sayang. Kamu tidak ingin tinggal bersama ibu, ya?” ucapku. “Mas tahu sendiri, kan, bagaimana perlakuan ibumu kepadaku. Aku tidak mungkin betah tinggal bersamanya,” ucap wanitaku tersebut. “Doain Mas ya, Sayang. Semoga usaha baru Mas berjalan dengan lancar. Kita mendapat rezeki dan bisa bikin rumah sendiri.” “Selama Mas mencari uang untuk beli rumah, kita tetap tinggal di rumah orang tuaku, kan, Mas,” ucap Mariska. “Kita bicarakan soal ini nanti lagi ya, sayang,” ucapku. Aku tidak ingin mengecewakan Mariska dengan tetap memilih tinggal di rumah ibu. Tapi aku juga masih ragu untuk tinggal di rumah mertua mengingat perilaku mereka kepadaku. Apalagi ditambah usaha baruku yang masih berhubungan dengan pekerjaan warung. “Mas coba cerita! Kemarin Mas untung berapa? Pasti banyak, ya? Sampai berpikir akan bisa mendirikan rumah sendiri?” Apa yang akan aku ceritakan kepada Mariska kalau usaha awalku kemarin mengalami kerugian. Haruskah aku berbohong agar istriku selalu mendukung keputusanku. “Gimana, Mas? Berapa keuntungan Mas kemarin,” desak Mariska. “Sayang ... tidak ada usaha yang selalu memperoleh keuntungan. Yang penting kita sudah berusaha. Untung dan rugi kita pasrahkan kepada yang di atas,” ucapku. “Berarti Mas rugi, kan? Iya, kan, Mas?” tanya Mariska. “Rugi seribu,” ucapku. Terpaksa aku jujur kepada wanitaku tersebut meski harus menanggung konsekuensinya. Aku tidak ingin hidupku penuh dengan kebohongan. Karena kebohongan yang besar berawal dari kebohongan yang kecil. “Lalu kenapa Mas teruskan? Aku kira Mas Bagus memikirkannya karena keuntungannya lumayan,” ucapnya. Wanita itu memanyunkan bibirnya. Bahkan hal seperti itu membuatku bahagia. Itu berarti Mariska tidak lagi menghawatirkan kondisiku seperti tadi. “Aku memikirkannya karena masalah tanggung jawab, Sayang, bukan semata-mata memikirkan keuntungan. Aku yakin kemarin rugi karena aku memang masih belajar bahkan dalam hal timbangan. Setahuku bila di rumah menimbang beras sekilo ya sekilo, lima puluh kilo ya lima puluh kilo tidak ada potongan kotor sama sekali. Kemarin rugiku di situ, Sayang ...,” ucapku. “Begitu, ya, Mas. Jadi besok pasti untung kan, ya?” tanya wanitaku itu. “Doain saja, ya, Sayang. Semoga Mas untung dan kita bisa menabung untuk membangun rumah masa depan.” Mariska memelukku. Dia terlihat ceria ketika aku bercerita kemungkinan-kemungkinan untung yang akan aku dapat bila menjalankan usaha tersebut. Tiga hari setelah perawatan, aku sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit dengan catatan akan kembali memeriksakan lukaku setelah lima hari lagi. Aku berhasil membujuk Mariska tinggal bersama ibu. Sesampai di rumah banyak tetangga yang menengokku secara bergantian. Masing-masing membawa panganan ala kadarnya. Ada yang membawa pisang, umbi mentah, kacang kulit dan lain sebagainya. Karena tiga hari tidak bertemu, kami ngobrol santai sampai malam. Setelah mereka pulang, aku agak tercengang ketika Pak Karta datang menengokku. Laki-laki itu datang membawa jagung rebus. Seketika perutku terasa kram karena mengingat beberapa hari yang lalu dia mengajakku bakar jagung di kebun tetangga tanpa izin. “Jagung, Mas, masih hangat,” ucapnya. “I—iya, terima kasih, Pak,” ucapku. “Gimana, Mas, keadaannya?” tanya laki-laki tersebut. “Alhamdulillah, Pak, seperti yang bapak lihat. Semua baik-baik saja. Kata dokter aku hanya sedikit syok hingga pingsan. Sama ini luka di kaki, tadi baru saja diganti perbannya. Masih sakit tapi tidak apa-apa,” jawabku. “Silahkan, Mas. Baru saja aku tiriskan tadi dari panci. Tuh uapnya harum,” ucap laki-laki tersebut sambil menyodorkan jagung rebus ke arahku. Pak Karta adalah duda tanpa anak yang berusia lima puluh lima tahun. Dia tinggal sendiri di rumahnya. Karena tidak ada istri, Pak Karta makan ala kadarnya. Bahkan kata orang-orang laki-laki ini jarang sekali makan nasi. Dia lebih sering makan singkong dan jagung rebus. Dia lumayan akrab dengan aku karena sering beli rokok. Dan yang menjadi permasalahanku adalah jagung yang dia berikan kepadaku saat ini apakah punyanya sendiri atau jagung curian seperti yang kita bakar beberapa hari yang lalu di kebunnya Pak Wongso? “Ada apa, Mas?” tanya Pak Karta. “Eng—gak ... apa-apa, Kok, Pak,” jawabku gugup karena kepergok memikirkan jagung pemberiannya tersebut. “Eh ... ada jagung, Mas. Minta satu, ya, Mas,” ucap Mariska yang tiba-tiba datang dari kamar ikut bergabung bersama kami. “Eh ... jangan,” ucapku. “Kenapa, Mas?” tanya Mariska. Aku enggan menjelaskan sama Mariska kalau jagung tersebut masih aku ragukan kehalalannya. “Kenapa, Mas?” tanya Mariska lagi. Matanya menatapku penuh harap. “Mas ingin memakannya sampai kenyang, Sayang. Mas lagi ingin makan jagung rebus,” ucapku. “Ih ... tumben Mas Bagus pelit,” ucap wanitaku itu. “Bukan begitu, Sayang, biar aku jelaskan,” ucapku. Mariska memiringkan badannya tanda tidak setuju dengan apa yang aku sampaikan. “Kenapa jelasinnya harus nanti, Mas? Kalau sekarang bagaimana? Masa diminta istrinya satu saja tidak boleh,” ucap Mariska sedikit kecewa. “Hahaha ... kalau Mbak Mariska mau bisa aku ambilkan lagi di rumah,” ucap Pak Karta. “Memang masih, Pakkk?” tanya Mariska terdengar manja. “Masihlah, Mbak. Biar aku ambilkan, Ya!” jawab laki-laki tersebut. “Nggak usah, Pak,” ucapku yang dijawab dengan lambaian tangannya. “Kamu ini bagaimana sih, Sayang. Sudah aku kasih aba-aba malah minta jagung rebus dari rumahnya.” “Habis minta satu saja nggak Mas kasih,” ucap wanitaku itu. “Masalahnya bukan seperti itu sayang. Aku takutnya jagung Pak Karta itu hasil curian. Nanti perut kamu dimasuki barang yang tidak baik,” ucapku. “Masa. Memangnya Pak Karta seperti itu, Mas,” ucap Mariska. “Iya, Sayang ... beberapa hari yang lalu Pak Karta mengajakku bakar-bakar jagung, dan waktu itu kami dikejar-kejar yang punya malah dibawakan sabit.” “Serem banget sih, Mas,” ucap Mariska. “Makanya aku melarangmu tadi. Bukan karena aku ingin makan sepuasnya, tapi karena aku takut kalau jagung itu bukan jagung miliknya,” ucapku yang seketika terhenti karena Pak Karta baru saja datang dari luar dengan membawa satu kantong keresek penuh jagung rebus. Bahkan jumlahnya melebihi jumlah yang dia bawa tadi. “Aku nggak jadi minta, Pak,” ucap Mariska. “Kenapa, Mbak. Ini aku bawa semua. Tadi katanya Mas bagus ingin makan jagung rebus yang banyak. Ini sekalian aku bawa buat Mbak Mariska juga,” ucap Pak Karta. “Tapi aku tidak makan dari hasil mencuri, Pak,” ucap Mariska lantang. Seketika aku terbelalak kaget. Aku sama sekali tidak menyangka kalau Mariska bisa berucap seperti itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN