Mariska tidak menyahut. Kali ini dia tampak merasa sangat bersalah kepadaku.
“Maafkan aku, Mas,” ucapnya.
“Iya, Sayang,” jawabku.
Ibu terlihat kesal melihat kelembutan sikapku. Dia langsung pergi ke warung untuk mempersiapkan bahan untuk sarapan kami.
“Lalu bagaimana dengan lukamu, Mas?” tanya Mariska.
“Coba ambilkan kasa dari dokter dan etanol biar Mas bersihkan,” jawabku.
Wanitaku itu pergi meninggalkanku dan mengambilkan apa yang aku inginkan. Setelah barang tadi aku terima, aku pun membuka perban luka yang belum saatnya dibuka.
“Tolong ambilkan kapas kecantikanmu, Sayang!” titahku.
“Untuk apa, Mas?” tanyanya.
“Untuk membersihkan luka, dong, Mariska ... masa mau Mas buat pakai perawatan kulit.”
“Oh ... iya, Mas. Tunggu sebentar,” ucapnya.
Mariska kembali ke kamar dan mengambil kapas kecantikannya. Segera kubersihkan darah yang tadinya mengalir. Ternyata darah yang merembes tadi sudah berhenti. Kemudian aku menutup luka yang mengeluarkan darah tadi dan menutupnya menggunakan kasa.
“Sudah! Beres kan?” ucapku kepada Mariska sambil tersenyum.
“Bagaimana, Mas?” tanya Mariska tidak mengerti.
“Ya sudah ... begini saja ... Sudah tidak perlu lagi pergi ke rumah sakit,” ucapku sambil menunjukkan kakiku kalau sedang baik-baik saja. meski darahnya masih ada yang sedikit ke luar tapi tidak separah tadi.
“Kamu yakin, Mas, kalau tidak perlu ke rumah sakit?”
“Yakin, Sayang. Pergi ke rumah sakitnya nanti saja sesuai rencana semula. Setelah lima hari,” ucapku.
“Gimana, Wo?” tanya ibu yang sepertinya sedari tadi memperhatikanku dari warung.
“Sudah baikan, Bu. Tidak perlu lagi pergi ke rumah sakit,” ucapku.
Ibu datang dan memerhatikan kakiku.
“Benar? Kakimu baik-baik saja?”
“Iya, Bu. Masa tidak baik-baik saja aku bilang baik-baik saja,” ucapku.
“Ya sudah, lain kali hati-hati. Jangan dekat-dekat orang yang lagi menyapu maupun mengepel. Nanti kalau dia kerasukan, kakimu bisa terluka lagi,” ucap ibu.
Tidak seperti biasanya, pagi-pagi sekali aku sudah sarapan dengan Mariska. Selesai sarapan aku merasa kebingungan. Sudah berhari-hari tidak pergi ke pasar badan terasa kaku. Apalagi ketika mengingat sayuran yang berada di rumah Mbak Wasis. Hatiku terasa tidak tenang.
Ibu di warung sedang melayani pembeli sendirian. Ingin sekali aku membantunya tapi dilarang. Para pembeli ini ada saja yang datang menanyakan keadaanku. Sampai lelah aku menjawab pertanyaan yang sama. Tetap saja yang datang berikutnya menanyakan pertanyaan yang sama pula. Apa yang aku rasakan? Sudah sembuh atau belum? Bla ... bla ... bla ...
Para pembeli itu lebih betah berada di dekatku dari pada berdesak-desakan di warung. Mungkin karena stok warung menipis, mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka jadi berharap agar aku segera sembuh dan kembali lagi beraktivitas sebagaimana biasanya untuk memenuhi kebutuhan mereka.
“Mas!” teriak Mariska. Beberapa orang yang sedang melihat keadaanku serentak menengok ke arah Mariska yang datang dari arah kamar mandi.
“Ada apa, Sayang?” tanyaku dengan nada lembut. Kalau Mariska seperti itu pasti dia ada maunya.
“Aku lagi mencuci,” ucapnya sambil memanyunkan bibirnya. Pahamlah aku yang wanitaku itu inginkan.
“Bawa saja ke penjemuran, nanti biar Mas yang jemur,” ucapku.
“Ya udah,” jawab Mariska. Kalau biasanya aku mengangkatkan bak mandi ke penjemuran, kali ini aku terpaksa menyuruh Mariska melakukannya. Aku hanya tidak enak saja sama orang yang sedang menjengukku bila aku tinggal gara-gara menjemur baju.
“Mas Bagus ini terlalu baik hati, ya,” ucap Bu Yuli. “Kalau suamiku boro-boro mau jemur baju. Orang hujan saja baju di depan mata tidak mau angkat, akhirnya baju satu rumah kehujanan. Padahal aku tidak ada di rumah. Beda sekali dengan Mas Bagus.”
“Bu Yuli bisa saja,” ucapku merasa sedikit tersanjung.
“Iya, lho, Mas. Kamu memang beda. Beruntung sekali Mbak Mariska mendapat suami seperti kamu,” ucap Bu Ani. Aku hanya tersenyum mendengar perkataan mereka.
Setelah keadaan sepi aku menuju penjemuran untuk menjemur baju. Sebenarnya tidak ada masalah bila aku harus menjemur baju. Tapi ketika aku menjemur pakaian dalam istriku entah mengapa aku merasa malu apa lagi bila ada tetangga yang memperhatikan.
“Istrimu itu kebiasaan, Wo. Masa suami lagi sakit dia tega menyuruhmu menjemur baju,” ucap ibu, kesal.
“Aku tidak apa-apa, Bu,” jawabku.
“Tidak apa-apa bagaimana? Orang jalannya saja masih diseret-seret begitu.”
Aku segera pergi meninggalkan ibu karena selesai menjemur dan menghindari perdebatan. Entah mengapa bila kedua wanita yang aku sayangi ini berada di atap yang sama selalu saja terjadi keributan hanya karena masalah sepele. Ibu tidak suka bila aku disuruh-suruh oleh Mariska. Sedangkan aku merasa tidak ada masalah karena bisa melakukannya. Bahkan aku merasa senang bila disuruh istriku karena merasa dibutuhkan oleh orang yang kita cintai.
“Sayang ... jalan-jalan, yuk!” ajakku kepada Mariska selesai menjemur pakaian.
“Ke mana, Mas?” tanyanya.
“Ke Desa Palan,” ucapku.
“Owh ... desa yang katanya Mas buat usaha Mas yang baru itu, ya,” ucapnya.
“Iya, Sayang,” jawabku.
“Itu namanya tidak jalan-jalan, Mas,” ucap Mariska.
“Iya ... iya ... hahaha ... kamu mau nggak?” tanyaku sambil tertawa.
“Ayuk lah, Mas. Dari pada di sini terasa sesak napas karena bertemu dengan ibu melulu.”
Aku segera pamit kepada ibu untuk melihat keadaan di Desa Palan. Ibu hanya diam saja. Mungkin dia juga khawatir tentang keadaan daganganku di sana.
Aku mencoba menyalakan sepeda motor kesayanganku. Aku belum tanya kepada ibu, tentang kerusakan sepeda motor ini. Tapi kuperhatikan memang ada yang beda. Deknya seperti baru saja diganti juga spionnya yang tampak berubah warna. Pasti spion ini habis diganti juga. Karena sering aku pakai ke pasar dan terbiasa tergores dengan keranjang orang, goresan yang tampak pada bodi sepeda motor aku tidak bisa memastikan apakah ini goresan baru atau lama.
Meskipun tubuh terasa lemah, dengan mengendarai sepeda motor secara perlahan-lahan akhirnya aku sampai juga di rumah Mbak Wasis. Tampak di depan rumah ada puluhan karung tertumpuk rapi di sana.
Astaga! Untung aku cepat ke mari. Kalau menunda sampai besok, karung-karung ini mungkin akan bertambah banyak.
“Ya ampun Mas Bagus ... aku was-was memikirkan nasib sayuran-sayuran ini,” ucap Mbak Wasis setibanya aku di warung kopi miliknya.
“Maaf, Mbak. Waktu pulang dari sini aku mengalami kecelakaan,” ucapku.
“Lalu bagaimana keadaanmu, Mas?” tanyanya panik tapi dengan nada biasa-biasa saja tidak seperti sebelumnya. Mungkin karena aku mengajak Mariska bersamaku, Mbak Wasis agak sedikit menjaga sikapnya.
“Alhamdulillah, Mbak,” ucapku.
“Syukurlah kalau begitu. Ini istri Mas Bagus, ya?” tanya Mbak Wasis.
“Iya, Mbak,” jawabku. Aku memberi aba-aba kepada Mariska agar berjabat tangan dengan Mbak Wasis.
“Lalu bagaimana dengan sayuran ini, Mas? Mas Bagus bawa kapan?” tanyanya.
“Sekarang juga, Mbak,” jawabku.
“Syukurlah ... kemarin hampir saja jatuh ke pedagang lain. Untung aku bisa memberi pengertian kepada para petani,” ucap Mbak Wasis.
Aku segera menghubungi pemilik mobil pick up yang aku kenal untuk datang ke rumah Mbak Wasis.
Mobil pick up itu pun segera datang dan langsung membawa sayuran yang ada di teras rumah Mbak Wasis untuk di antar ke tempat Ko Heri.
Aku mengikuti mobil tersebut sampai ke tempat tujuan tanpa harus menyentuh sayurannya karena tenagaku belum pulih benar. Ada seseorang yang aku bayar khusus untuk menurunkan sayuran tersebut.
Mariska masih bersamaku ketika orangnya Ko Heri yang barusan aku tahu bila dia bernama Cik Yeni sedang menimbang sayuran dan kemudian memeriksanya.
“Ini sayurannya yang separuh kok sudah layu, mas? Banyak yang busuk pula. Ini tidak layak di jual kenapa kamu bawa kemari?” ucap Cik Yeni dengan tatapan yang penuh tanya.
Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan?