“Ini sayuran sudah berapa hari, Mas?” tanya Cik Yeni.
“Ada yang sudah empat hari, Cik,” ucapku.
“Aku terima barang yang masih baru saja, ya! Yang dua hari masih bisa dimaafkan tapi kalau sudah tiga hari ke atas aku tidak bisa terima,” ucapnya.
“Lalu bagaimana dengan nasib sayuranku yang separuh, Cik?” tanyaku.
“Pokoknya aku terima yang masih baru. Soalnya nanti masih diecer di pasar. Kalau di pasar tidak habis, kalau masih baru, kan, besoknya masih bisa bertahan.”
“Tolonglah, Cik. Beli terserah Cik Yeni biar ruginya tidak banyak,” ucapku penuh harap.
“Sekarang Mas Bagus bisa bayangkan sendiri, kan? Mas Bagus pedagang juga, kan? Kalau Mas Bagus beli sayuran pasti beli yang masih segar. Tidak mungkin yang sudah layu apalagi busuk di beli meski murah sekalipun. Di mana-mana pembeli pasti milih yang segar,” ucap Cik Yeni.
Aku terduduk lesu. Bayangan keuntungan untuk penjualan yang kedua kali musnah sudah. karung-karung di depan mata itu sudah menjelaskan berapa kerugian yang aku alami hari ini. Ini adalah pukulan bukatku di hari ke dua saat menekuni usaha baru.
“Aku pergi dulu, ya, Mas,” ucap sopir mobil pick up yang membawa sayuran tadi sambil masuk ke dalam mobil.
“Tunggu, Mas,” ucapku. Kemudian aku mendatanginya ke mobil.
“Tolong bawa sayuran-sayuran ini ke rumah,” ucapku sambil menunjukkan sayuran yang tidak jadi di beli Cik Yeni tersebut.
“Baik, Mas,” ucap Sopir itu sambil menyuruh kuli panggulnya mengangkat kembali sayuran-sayuran tadi.
“Mau di bawa ke mana, Mas?” tanya Mariska.
“Dibawa pulang, Sayang,” ucapku.
“Kenapa nggak dikembalikan saja ke Desa Palan,” ucap Mariska.
“Tidak sayang. Aku sudah pesan sayuran tersebut jauh-jauh hari, mereka tidak menjualnya ke orang lain. Itu sudah merupakan kepercayaan buat, Mas. Dan aku tidak ingin menyia-nyiakan kepercayaan tersebut. Kita mikir ke depannya. Bagaimana pun barangnya asal bukan kesalahan mereka, aku siap menanggungnya.”
“Kira rugi, dong, Mas ....”
“Pasti akan terganti di lain hari, Sayang,” ucapku meski dalam hati meragukannya.
Sampai di rumah sayuran-sayuran sudah diturunkan di depan rumah sedangkan sopir dan kuli panggul sudah pergi dari tempat ibu. Biasanya aku akan memberinya uang bila bertemu kembali.
Turun dari sepeda motor langsung dijemput ibu yang baru saja melayani pembeli dari warung. Ibu melipat tangannya di depan d**a sambil memandangi sayuran tersebut. Aku menundukkan kepalaku, siap menerima omelan karena tidak mendengarkannya. Waktu itu ibu pernah melarangku berjualan sayuran karena menurutnya cepat busuk kalau tidak segera dijual. Ditambah lagi ibu mengatakan aku harus punya pasar lain selain tempatnya Ko Heri. Dan aku nekat belum menemukan tempat tersebut asal buka usaha begitu saja.
“Benar, kan, kataku. Kalau usaha sayuran itu tidak bisa main-main. Harus cepat gerakannya,” ucap ibu lembut dan itu membuat hatiku terasa tenang. Aku kira akan mendengar seperti suara kaleng dipukul saat tiba di rumah, ternyata ibu lebih bersikap bijaksana.
“Maafkan aku, Bu,” ucapku.
Mariska langsung masuk ke dalam rumah tanpa basa-basi. Wanitaku itu terlihat kecewa karena usahaku merugi.
“Cepat panggil beberapa tetangga yang nggak ke sawah buat sortir itu sayuran,” ucap ibu.
“Maksudnya gimana, Bu?” tanyaku tidak mengerti.
“Ada lebih dari dua puluh karung sayuranmu yang dikembalikan. Memangnya kamu mau rugi sebanyak itu,” ucap ibu.
“Tidak, Bu,” jawabku.
“Ya sudah. bongkar saja. terong dan timun itu tidak akan layu selama empat hari.”
“Kata Cik Yeni ada yang busuk, Bu,” ucapku.
“Nah. Yang busuk itu nanti di buang, yang bagus bisa kamu ecer ke pedagang sayuran,” ucap ibu.
Pikiran ibu benar juga. Sebenarnya terong dan timun ini tidak separah yang aku bayangkan. Aku segera memanggil para tetangga sesuai saran ibu. Dengan cekatan mereka membantu dengan di arahan ibu pula.
“Ini yang besar dibungkus plastik sama yang kecil,” ucap ibu kepada para tetangga. Aku hanya duduk memperhatikan mereka bekerja. Aku sering kali membeli sayuran dengan kemasan plastik seperti itu, kenapa aku tidak pernah kepikiran ke sana? Dan harganya juga lebih mahal dari pada dijual dalam karung.
Mariska ke luar rumah. Sepertinya dia penasaran melihat keramaian di luar rumah. Maklum ibu-ibu kalau kumpul ada saja yang mereka omongkan. Dari sekedar cerita kebutuhan rumah, masalah pertanian sampai gosib terhangat.
“Jangan diam saja, sini bantuin!” titah ibu kepada Mariska.
Mariska segera mengerjakan apa yang disuruh ibu. Aku beristirahat di dalam rumah dan melihat wanitaku itu dari dalam rumah. Istriku sangat manis sekali bila sedang melakukan sesuatu. Ternyata aku perhatikan Mariska lama kelamaan bisa juga dia berbaur dengan tetangga.
Hanya dalam beberapa jam saja pekerjaan menjadi beres. Ada tumpukan sayuran yang dikemas dalam kantong plastik, dan ada sedikit tumpukan sayuran yang menguning dan membusuk. Sebagian tetangga mengambil timun yang sudah menguning itu. Kata mereka timun tersebut masih bagus untuk dikonsumsi. Sedangkan ibu memberi mereka upah yang nominalnya aku tidak tahu karena tidak terlihat dari tempatku tiduran di kursi tamu.
Aku berdiri melihat keadaan sayuran-sayuran tersebut. Sayuran itu tampak segar dikemas dengan kemasan plastik. Sekarang tinggal memikirkan bagaimana sayuran tersebut sampai ke tangan pembeli.
“Kamu bawa saja sayuran-sayuran ini ke pedagang sayuran dan warung sembako di desa-desa tetangga, Wo,” ucap ibu.
“Nggak ke pasar, Bu?” tanyaku.
“Kamu bawa ke pasar kalau tidak habis saja. Kalau tidak habis kamu bisa jual murah-murahan di pasar. Pasti laku kok,” ucap ibu.
Dengan semangat aku melakukan apa yang dikatakan ibu. Aku segera menata sepeda motor kesayanganku.
“Tunggu, Wo!” titah ibu.
“Ada apa lagi, Bu?”
“Kakimu masih sakit. Jangan terlalu memaksa bila tidak bisa,” ucap ibu.
“Lalu bagaimana dengan sayuran ini, Bu?” tanyaku.
Ibu melirik ke arah Mariska. Seperti dikasih saran, Mariska paham apa yang ingin dikatakan ibu.
“Kalau hanya mengantar ke warung-warung aku bisa melakukannya, Mas,” ucap Mariska.
“Kamu serius, Sayang?” tanyaku tidak percaya.
“Nggak apa-apa, Mas, dari pada jemu di rumah,” ucapnya.
“Terima kasih, ya, Sayang. Tapi pas saat aku sakit saja, ya! Besok-besok kamu tidak boleh melakukannya!” ucapku.
“Iya, Mas,” jawabnya.
Aku segera menata keranjang ke sepeda motor yang akan dijalankan Mariska. Menata sayuran ke dalam keranjang biar bisa muat banyak. Ibu mengajari nominal bagaimana Mariska menjual sayuran-sayuran tersebut. Dan sepertinya Mariska sangat paham saat diberi penjelasan oleh ibu.
Sampai sore Mariska mengecer sayuran-sayuran itu. Sepertinya dia menikmati pekerjaannya karena wajahnya berseri-seri. Dengan memakai topi lebar yang kami beli saat piknik ke candi Borobudur, Mariska tidak protes lagi soal panasnya sinar matahari.
Setelah enam kali bolak bali, akhirnya pekerjaannya selesai juga. Istriku itu menaruh uang hasil penjualannya di atas meja agar bisa kita hitung bersama. Dan ternyata hasilnya luar biasa. Mariska mendapat untung dua ratus ribu lebih.
“Lihat, Mas. Kita nggak jadi rugi, Mas. Kita untung. Lihatlah, Mas,” ucap Mariska dengan mata berbinar-binar.
“Iya, Sayang,” ucapku ikut senang atas pencapaian hari ini.
“Kalau begitu besok kita ecer seperti ini saja, Mas,” ucapnya.
“Iya, Sayang. Bagaimana baiknya saja,” jawabku.
Ibu hanya tersenyum melihat kebahagiaan yang hari ini kami rasakan.