Motor Baru

1116 Kata
Seperti rencana sebelumnya. Sayuran beberapa hari ini tidak langsung aku setorkan ke Ko Heri. Lagi pula kalau dipikir-pikir bila aku setorkan ke Ko Heri keuntungannya akan habis untuk biaya transportasi karena aku tidak bisa mengantarnya sendiri. “Hari ini kita untung banyak, Mas, karena tidak ada sayuran yang busuk,” ucap Mariska. “Iya, Sayang,” ucapku. “Kalau tiap hari begini kita bisa kaya, Mas,” ucapnya Mariska lagi sambil tersenyum. “Semua tergantung yang menyimpannya. Kalau yang menyimpannya hemat ya bisa kaya kalau yang menyimpannya boros, kapan kayanya?” ucap Ibu. Ibu selalu menilai kalau orang yang suka beli kosmetik dan pakaian adalah orang yang boros. Dan ibu selalu mengatakan kalau Mariska adalah orang yang yang suka menghambur-hamburkan uang karena menghabiskan lebih dari empat ratus ribu hanya untuk beli skin care, belum lagi pakaiannya. Ah ... ibu. Dia hanya terlalu kuno. “Tapi aku tidak boros, ya kan, Mas? Sebulan paling aku cuma beli pakaian satu kali doang,” ucap Mariska. “Iya, Sayang,” jawabku sambil mengelus rambut wanitaku itu. Ibu yang jarang beli pakaian dan hanya membeli saat hari raya saja menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Mungkin dia lagi menahan diri agar tidak berkata kasar kepada Mariska. Ibu takut kami akan kembali pulang ke rumah mertua. “Mulai besok kamu tidak usah membawa sayuran itu seorang diri karena Mas sudah sembuh,” ucapku. “Mas kan bisa cari dagangan lain. Yang khusus buat setor ke warung biar aku yang urusin,” ucap Mariska. “Tapi Mas cuma punya satu motor, Sayang,” ucapku. “Ya suruh beliin ibu satu lagi dong, Mas. Selama ini kan Mas sudah membantu ibu. Wajar kan kalau Mas minta dibeliin ibu motor,” ucap Mariska. Aku menatap ke arah ibu. Sebenarnya aku merasa kalau usul Mariska ada baiknya. Hanya saja aku tidak sampai hati meminta ibu membelikan motor untukku. “Iya. Nanti ibu beliin,” ucap Ibu. “Benarkah, Bu?” tanyaku setengah tidak percaya. Ibu hanya mengangguk. Wanita itu pasti sudah memikirkan matang-matang kenapa dia menuruti keinginan Mariska. Dan pastinya Beliau telah memikirkan dampak baik dan buruknya. Ibu berjalan dan masuk ke dalam kamarnya, kemudian keluar dengan membawa dompet usang. “Ini tabungan ibu,” ucap ibu sambil menunjukkan dompet di hadapanku. Aku tidak berani menyentuh dompet yang disodorkan ibu kepadaku sebelum orang yang melahirkanku tersebut benar-benar memberikannya. Melihatku ragu, ibu membuka dompetnya. “Kamu ingin beli motor baru atau bekas?” tanya Ibu kepadaku. “Bekas saja, Bu, yang penting nyaman dipakai,” jawabku. “Yang baru dong, Mas! Nanti biar aku yang pakai,” ucap Mariska. Aku menatap ke arah ibu berusaha meminta pendapat apa yang diinginkan Mariska. “Kata Mariska, dia minta dibeliin motor yang baru, Bu,” ucapku. “Ini ada tujuh belas juta. Kalau beli bekas, ambil saja sepuluh juta. Tapi kalau mau beli baru, kalian boleh ambil yang lima belas juta tapi kekurangannya kalian tambahi sendiri,” ucap Ibu. “Bagaimana, Sayang. Kamu, kan punya uang lima juta. Kamu bisa pakai uang itu untuk tambah-tambah beli motor biar dapat yang baru,” ucapku kepada Mariska. “Enak saja. Itu uang simpananku, Mas. Nggak ada yang boleh ambil,” ucap Mariska. Seketika aku dan ibu kaget. Kenapa istriku berkata demikian. “Katanya kamu ingin motor baru. Kalau motor baru uang ibu yang lima belas juta bisa kamu tambahi uang kamu yang lima juta biar dapat baru,” ucapku menjelaskan hal yang seharusnya Mariska sudah paham apa yang kami bicarakan. “Tapi itu uang aku, Mas. Tabunganku. Dan lima juta itu banyak. Nanti kalau lima juta terpakai, uang kita habis,” ucap Mariska. “Itu nanti kan buat kamu, Sayang, motornya. Katanya kamu ingin yang baru,” aku mencoba menjelaskan lagi kalau uang yang akan dia keluarkan itu kepentingannya sendiri. Tapi wanitaku itu ngotot dan tidak bersedia mengeluarkan uang tersebut. “Begini saja. Uang ibu kan tujuh belas juta. Yang tiga juta kamu cari utangan Bank,” ucap Mariska. “Kalau aku menyisakan dua juta itu untuk pegangan ibu. Aku kan sudah kasih kalian yang lima belas bila kalian ingin motor baru,” ucap ibu. “Sebenarnya kemarin lebih dari cukup uang ibu bila hanya sekedar buat beli motor dari dealer, tapi Bowo mengalami kecelakaan jadi uang ibu berkurang. Lagi pula motor itu kan nantinya kamu yang naiki kenapa kamu tidak mau mengeluarkan sedikit uang untuk dirimu sendiri?” “Uang itu hasil jerih payahku mengumpulkannya, Bu. Akan aku gunakan untuk membangun rumah nanti,” ucap Mariska. “Nanti kan kalian dapat rezeki lagi, Mariskaaa!” jawab Ibu. Setelah beberapa hari Mariska ikut bekerja menyetorkan sayur-sayuran ke warung-warung dan penjual sayuran di desa tetangga, hubungan ibu dan Mariska tampak baik-baik saja. Ibu membiarkan aku membantu Mariska mencuci pakaian. Sedangkan untuk pekerjaan dapur ibu yang melakukannya. Mariska juga tidak pernah protes tentang masakan ibu, bila dia tidak cocok wanitaku itu membeli lauk di jalan untuk dimakan sendiri. Sesekali aku menasehatinya agar membelikan lauk buat ibu juga. Saat aku nasehati, Mariska bersedia melakukannya tapi esok hari Mariska selalu melupakan pesan dariku. Dia sering membeli lauk dan jajanan buat dirinya sendiri, terkadang lelah juga aku menasehatinya. “Bagaimana, Sayang? Kamu bersedia, kan? Menggunakan uang kita untuk tambah-tambah beli motor?” bujukku kepada Mariska. “Tidak bisa, Mas!” tegas Mariska. “Pokoknya tambahannya Mas harus cari dari tempat lain. Entah dari pinjam Bank atau rentenir. Pasti kita akan mampu membayarnya kok!” “Astaugfirulloh ... Sayang ... kalau kita mampu buat apa pinjam, Sayang,” ucapku. Mariska diam saja. Dia tidak menyahut apa yang aku ucapkan. Wanitaku itu terlihat keras dengan pendiriannya. Sedikit pun dia tidak goyah dengan bujukanku. “Ya sudah kalau begitu. Kamu beli motor yang bekas saja, Wo! Jadi kamu ibu kasih uang sepuluh juta saja tidak lebih,” ucap ibu sambil menyodorkan uang sepuluh juta yang sudah ditali pakai karet sebelumnya. “Kok cuma sepuluh juta, Bu?” protes Mariska. “Sepuluh juta sudah dapat motor bekas, Ris,” ucap Ibu sambil melotot. “Tapi aku tidak ingin motor bekas, Bu,” ucap Mariska. “Aku tidak ingin motor bekas, Mas,” ulangnya menatap ke arahku. “Kamu itu maunya bagaimana, Ris? Aku kasih lima belas juta aku suruh tambahi sendiri buat beli motor buat dirimu sendiri tidak mau. Bukankah lebih baik sepuluh juta saja, kan cukup buat beli motor tidak perlu tambah uang lagi!” hardik Ibu. kemudian dia pergi ke kamar. “Mas ...,” rengek Mariska sambil menghentak-hentakkan kakinya. “Iya, Sayang,” jawabku. “Aku ingin motor baru, pokoknya. Tidak ingin motor bekas,” ucap Mariska sambil merengek seperti anak kecil. Aku bingung apa yang hendak aku lakukan. Apa benar aku harus meminjam Bank atau rentenir untuk menambah kekurangan buat beli motor baru?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN