“Bagaimana, Bu?” tanyaku kepada ibu disela-sela melayani pembeli. “Untuk apa kamu bertanya sama ibumu bila ujung-ujungnya kamu turuti istrimu,” ucap ibu. “Aku tidak serta merta menurutinya, Bu. Hanya dia terlihat bersemangat ketika mengantar sayuran ke warung-warung jadi aku hanya ingin membuatnya senang saja.” “Terserah kamu saja. Kamu lihat sendiri, kan? Bagaimana dia rapat dalam membawa uang. Bagaimana kalau kamu pinjam Bank atau rentenir tiba-tiba Mariska tidak mau memberikan uang simpanannya? Bukankah kamu sendiri yang repot?” ucap ibu. Ternyata ibu berpikir sejauh itu. Tapi kalau dipikir-pikir ucapan ibu ada benarnya juga. selama ini Mariska selalu mendapat uang belanja, kelebihannya aku tidak pernah bertanya untuk apa dan ketika tadi aku tahu dia menyimpan uang keuntungan hasil

