Usai sholat maghrib di masjid rumah sakit, aku berniat segera pulang. Tidak berniat untuk menjenguk mas adam selepas dipukuli habis-habisan oleh misbah. Atau mencari tau nasip Ningsih yang katanya tidak boleh lagi bertemu Ning Kia. Yang ada dipikiranku sekarang hanyalah pulang. Aku ingin menenangkan diri untuk mengambil keputusan yang tepat. Karena apa yang terjadi hari ini benar-benar menguras tenagaku. Belum lagi kondisiku yang berbadan dua, membuatku cepat merasa lelah. Juan menyuruhku menunggu di mobil terlebih dahulu, karena dia mau memastikan keadaan Adam yang masih di ruang IGD. Entahlah apa yang terjadi pada Juan, kenapa dia jadi perhatian dengan suamiku. Yang jelas aku sudah bilang padanya jika aku tidak ingin bertemu mas adam terlebih dahulu. Ketika sibuk scrolling beranda i**

