Bab 38: Warung Bambu Jaman mondok ke warung bambu lah aku dan teman-teman melepas penat. Ketika menjadi santri polos, aku ke warung bambu hanya ketika hari libur. Naik ke tingkat tiga, aku sudah berani diam-diam pergi ke sana tanpa ijin pengurus. Dan ketika sudah ngabdi, hampir sertiap malam aku selalu sempatkan untuk ngopi di warung. Letak warung bambu yang sangat dekat dengan pondok lah yang membuat santri pondok sangat akrab dengan warung tersebut. apalagi pemilik warung itu juga dulunya santri Romo Yai, membuat warung bambu benar-benar ramah bagi para santri. Maksudnya ramah adalah di warung itu santri bisa makan atau minum kopi dulu tapi bayarnya nanti kalau sudah punya uang. Atau istilah gampangnya bisa ngutang sepuasnya, asal sadar diri. Sebenarnya yang paling spesial dari waru

