39: De javu Siang itu langit sangat biru dengan matahari yang terik. Aku duduk di salah satu kursi yang ada di warung bambu, ditemani Candra yang kala itu wajahnya masih dipenuhi jerawat. Ia menggunakan peci untuk menyembunyikan kepalanya yang gundul akibat hukuman. Aku tidak ingat kesalahan apa yang dilakukan candra saat itu sampai rambutnya digundul, yang jelas, Candra memang sudah sering mendapatkan itu sehingga gundulnya kala itu bukan hal baru. Aku menatap Candra sesekali yang terlihat antusias menatap menu makanan. Kasihan sekali Candra waktu itu masih santri polos yang belum mengerti apa-apa. baginya datang ke warung bambu pasti seperti datang ke surga kecil. tak heran jika dia langsung bersemangat ketika aku mengajaknya ke sini, bahkan tanpa mempertanyakan lebih lanjut apa tuju

