"Ra, nggak turun?" Suara Juan membuyarkan lamunanku. Sejak tadi aku tengah menatap foto yang menampakkan Adam bersama seorang wanita. Lima belas menit yang lalu ketika aku menghubungi Ningsih untuk menanyakan dimana keberadaannya, aku malah dikirimkan Ningsih foto sialan itu. Tempat foto itu di sebuah ruangan serba putih, Mas adam sedang duduk di kursi samping tempat tidur pasien yang warnanya senada dengan dinding kamar. Di tempat tidur itu, tentu saja ada pasien yang merupakan sosok Kia. Kia sangat cantik sekalipun wajahnya terlihat pucat. Harus aku akui, Kia memang wanita yang memiliki paras sempurna. Bibirnya tipis, alisnya tebal tanpa sulam alis, bulu matanya lentik, kedua matanya bulat, hidungnya tidak pesek dan tidak mancung, kulitnya kuning bersih. Sungguh definisi cantik alami

