Setelah Anjarani mengagumi rumah Jessie yang bagai istana, Jessie membawanya ke lantai dua. Dimana disana juga ada ruang tamu dengan sofa dan juga TV besar yang menempel di dinding. “Kamu duduk dulu Ran, aku mau ganti baju sebentar.” Anjarani mengangguk saja sambil langsung membuka toples cemilan di atas meja. Ia pikir selama ini hanya keluarga Dananjaya saja yang ia kenal sebagai orang paling kaya di Kalimantan, tetapi ada lagi saudagar kaya seperti keluarga Jessie. Entah apa pekerjaan orang tua Jessie, yang pasti rumah sebagus ini tidak mungkin akan berdiri dengan biaya satu atau dua milyar. “Non?” “Y-ya?” Anjarani hampir saja melompat kaget saat seorang pembantu menghampirinya. Demi tuhan! Ibu-ibu itu datang dari belakang. Tentu saja Anjarani tidak menyadari kedatangan pembantu itu

