'Syukurlah aku hanya overthinking.' Ajeng memasuki rumah keluarga Pradana dari pintu depan dan rasanya lega betul karena semua firasatnya hanya buah dari pikiran negatifnya saja. Ajeng juga merasa bodoh. Kenapa juga dia berpikir kalau Panji akan menunggunya di ruang tamu atau di dapur keluarga Pradana? Ajeng juga memperhatikan gudang tempat Panji menariknya waktu itu saat dia berjalan ke arah dapur. Apa-apaan pikirannya ini? Panji pasti sedang sibuk dengan istrinya bukan? Ck! Sudahlah! Kenapa Ajeng tidak bisa berpikir jernih kalau hubungannya dengan Panji hanya sekedar tanggung jawab terhadap bayi di dalam kandungannya saja? Yah, tak ada yang lebih dari itu. Panji tak menyukainya. Ajeng pasti terlalu muluk dan berharap pernikahannya sama seperti pernikahan orang-orang pada umumnya y

