"Pak, jangan macam-macam! Bapak mau apa?" Ajeng refleks menjauh dari Panji. Dia kaget. Panji tak pernah begini sebelumnya. "Ini buat anakku di kandunganmu. Jangan salah paham. Buka mulutnya! Aku nggak mau dia kelaparan di dalam sana. Kamu jangan ge-er!" Anak lagi-lagi jadi alasan. Tapi kalau boleh jujur memang Ajeng merasa lemas sih karena dari pagi dia jadinya belum makan apa-apa. Bubur yang dimakannya bersama Iwan juga ikut keluar berbarengan dengan lontong sayur yang dimakan Ajeng pagi tadi. Ajeng belum makan lagi sampai sekarang sudah menjelang matahari terbenam. Panji benar, ada rasa lapar di dalam perutnya yang tidak disadari Ajeng. Lalu apa dia harus menerima suapan itu? Tak salah kan? Dia juga suamiku, sepintas ada pikiran ini di dalam benak Ajeng tapi secepat mungkin dia m

