Apa Rama Masih Hidup?

1811 Kata
Tanpa melepas sepatu atau berganti pakaian, Markus melempar tubuhnya ke atas kasur empuk di kamarnya. Terpelanting, terbang sedikit mengambang di udara sebelum mendarat dengan empuk di atasnya.   Menghela napas, melepaskan semua penat yang seolah-olah tiba-tiba menyergapnya. Percakapan dengan papanya di bawah barusan kini terkurung mengganggu pikirannya.   “Apa yang laki-laki itu pikirkan? Ia bisa menyerahkan urusan Rama padaku. Kenapa harus ikut campur urusan ini?” gumam Markus, bertanya dalam hatinya sendiri.   Tidak, ini tidak berhasil. Beban luka dan persakitan itu masih ada meski ia telah berusaha meluapkannya pada papanya. Ini bukan permainan antara menang atau kalah. Ini bukan perebutan benar atau salah. Perasaan ini, sesuatu yang belum pernah Markus definisikan.   Ia benci pada papanya sekaligus berterima kasih. Perasaan yang sama ia rasakan pada Rama hingga detik ini.   “AAAARGGGGGHHHH ....!!!”   Markus mengerang, mengempaskan semua kepenatan di dalam kepalanya. Tengkurap, membekap wajahnya sendiri dengan bantal. Berteriak sekuat-kuatnya, meluapkan semua kemarahannya.   Bagaimana mungkin semua yang sudah ia rencanakan justru berbalik menyerangnya? Lagi pula, kenapa laki-laki itu menyelamatkanku? Kenapa papanya membiarkan Markus bebas sementara ia bisa menangkap Markus juga malam itu.   Dan jika itu terjadi, semua masalah pasti akan ikut selesai hari itu juga.   Markus ingat sesuatu, lebih tepatnya ingat seseorang. Ia beringsut, melompat dari ranjang tidurnya. Berjalan gesit ke arah meja rias yang berada tak jauh dari pintu masuk.   “Sorry El, aku baru sempat membukanya,” gumam Markus dalam hati.   Dua belas pesan masuk, lima kali panggilan tak terjawab. Markus menghempaskan napas panjang. Memijat keningnya sendiri, tampak sangat menyesal. Tapi kemudian tersipu sendiri membaca semua pesan masuk yang Elle kirim padanya.   Hatinya melunak, dadanya melega. Markus akhirnya bisa kembali tersenyum. Dengan kepala yang masih menunduk berjalan mundur duduk di pinggir ranjang tidurnya.   Tangan kirinya melerai sepatu pantofel yang ia kenakan. Melucutinya dari kaki yang hampir seharian penuh tak mendapat sinar matahari.   “Awwww ... Aakhhh ... sialan aku lupa!” pekik Markus.   Tiba-tiba saja kakinya terasa nyeri saat tangan kirinya memaksa melepaskan sepatu kulit sapi itu dari sana. Ia baru ingat, ternyata waktu berputar jauh lebig cepat dari ingatannya. Kejadian malam itu batu terjadi tadi malam baru dua puluh empat jam yang lalu.   Markus mengerang lagi. Kali ini mau tidak mau harus dengan dua tangan ia melepaskan sepatunya. Meletakkan ponselnya di sebelah ia duduk. Meringis menahan sakit. Pelan-pelan menarik sepatu sialan itu dari kakinya.   Bulir-bulir keringat mengucur, menetas dari pori-pori kulit dahinya. Menggigit giginya sendiri kuat-kuat, merasakan otot-otot di kakinya yang menegang lagi setelah sebelumnya sudah dipijit.   Hingga akhirnya sepatu sial itu terlepas. Dibayar dengan wajahnya kini basah kuyup karena keringat. Napas terengah-engah karena menahan sakit. Dan kaki kanannya yang tak bisa digerakkan sementara.   Markus terkulai lemas. Membiarkan tubuhnya terkapar di atas kasur dengan kaki yang mengawang di bibir ranjang. Saat tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk mendarat.   Hanya karena Markus sudah bisa menebak siapa orang di baliknya, segera ia mengangkat panggilan itu.   “Tega sekali ya pesan aku tidak dibalas. Telepon aku dianggurin. Katanya suruh kasih kabar,” protes perempuan di seberang telepon. Tanpa salam, tanpa pembukaan. Langsung pada poinnya, dan sebetulnya cara perempuan itu berterus terang adalah salah satu hal yang membuat Markus jatuh hati padanya.   Tentu saja selain kecantikan dan tubuhnya yang menggoda.   “Hah ... iya maaf, El. Aku masih ada masalah sedikit barusan,” jawab Markus. Napasnya masih terengah-engah, bulir-bulir keringat itu masih di sana. Masih membasahi wajahnya. “A ... aku kerepotan melepas sepatuku sendiri.”   “Hahaha ... !!!” Suara tawa Elle terdengar menyalak di telinga Markus. Membuat laki-laki itu refleks menjauhkan ponselnya dari telinga sampai tawa gadis itu surut.   “Ketawa aja terus,” ketus Markus sembari mengatur napas. Mengelap keringat yang sedari tadi mengucur di pori-pori wajahnya.   Elle terkekeh, suaranya seperti berbisik pelan di dalam ponsel Markus. “Opppss ... !! Jangan marah komandan. Aku hanya tertawa, dan kau terbukti menyurutkan marahku. Di mana salahnya tertawa?”   “Ya ... ya ... ya ..., yang salah itu pertanyaanmu. Arrghhh ...” Markus mengerang lagi. Susah payah mengangkat tubuhnya. Melepaskan satu sepatunya lagi di kaki kiri. Kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kasur kembali.   “Pertanyaan? Pertanyaan yang mana, Kus?” tanya Elle balik.   “Iya pertanyaan di mana salahnya tertawa? Jelas salah dong. Kan yang benar mutlak hanya milik perempuan.”   Kalimat Markus membuat dua orang yang terhubung dalam satu panggilan itu terpingkal bersama.   Sebelum akhirnya Elle menghela napas. Entah lelah tertawa, atau gemas dengan Markus. “Kenapa lama sekali, Kus? Ada masalah baru lagi? Atau seperti dugaanku, kau membuat masalah baru dengan papamu?”   “Hah ... begitulah, El. Akhirnya laki-laki itu mengaku. Semua firasatmu terbukti benar sekarang,” jawab Markus.   “Oh My God! Really?” Elle memekik. Kalimatnya terpotong, hanya hening, tak terdengar apa pun dalam jeda yang cukup panjang. “Mak–maksudmu bukan soal Rama kan? Pasti kasus lain kan maksudnya?”   “Bukan, ini betul-betul kasus Rama, El. Laki-laki itu yang ada di balik penangkapan malam itu.” Markus memejam, memijat keningnya dengan tangan kanan. Sementara tangan kirinya menahan ponsel miliknya tetap menempel di daun telinga.   “Tapi apa alasan paling logis untuk itu, Kus? Apa alasan yang ia benarkan untuk penangkapan malam itu?”   Markus menelan ludah, tersenyum kecut mendengar pertanyaan Elle. “Justru kita yang aneh, El. Aku, atasanmu yang aneh. Kita yang tak punya pembenaran atas apa yang kita lakukan. Kita yang tak punya pembenaran karena telah melindungi seorang pelaku kejahatan. Tapi tetap saja, aku benci cara itu.”   “Maksudmu cara mereka menangkap Rama? Atay cara mereka yang tidak melibatkanmu?” Elle kembali menodong Markus dengan pertanyaannya.   “Keduanya, aku tak suka cara mereka mengakhiri semua ini dan membuat usahaku menyembunyikan Rama sampai hari ini sia-sia,” jawab Markus. Tangannya bergerak melepas satu persatu kancing kemejanya.   “Tapi kalau bukan dengan cara ini, Rama pasti tidak akan tertangkap kan, Kus? Kau pasti juga tahu soal itu. Menurutku tidak ada yang perlu disesali atas apa yang udah terjadi deh.” Elle berusaha meredam kesedihan Markus. Hati-hati sekali agar tidak menyulut emosi Markus lebih jauh.   “Ta ... tapi aku memang belum bisa menerimanya, El. Jauh dari kata terima. Aku tak bisa hanya tingg diam melihat Rama kesusahan di sana,” bantah Markus.   Elle menghela napas panjang lagi. Bagaimana bisa seorang komandan dalam kesatuannya bisa seroyal ini pada satu orang. Dan bagaimana takdir membawa mereka pada dua alam yang berbeda. Markus si penegak hukum, dan Rama si pelawan hukum.   Dua sahabat yang sudah seperti api dan air. Dua sahabat yang seharusnya tidak diciptakan sama kerasnya dengan dunia tempat mereka berpijak.   “Di sana? kau tahu di mana Rama berada sekarang, Kus?”   “Itu dia,” balas Markus. “Aku butuh bantuanmu soal ini. Kau satu-satunya informan yang kupunya. Satu dan yang terbaik sekaligus paling cantik.”   “Gombal! Rayuan pas lagi butuh terdengar lebih manis sih emang,” balas Elle. Keduanya kembali tertawa.   Tak tampak lagi kesakitan di wajah Markus. Keringat di wajahnya sudah sempurna kering. Kaki kanannya juga sudah mulai bisa digerakkan meski pelan-pelan.   Obrolannya dengan Elle malam ini menjelma aspirin. Rasa sakit itu seakan tergerus dengan gelak tawa mereka. Rasa sakit dan kerumitan tadi terurai begitu saja seperti setetes cat yang jatuh di permukaan air.   “Tapi kenapa kau tidak coba tanya langsung pada papamu, Kus. Tampaknya Om Dwine juga tak sejahat itu. Dia pasti akan jujur kan?” Elle membuka mulutnya lagi setelah sadar satu fakta yang mereka berdua lewatkan.   Rama menggeleng, semua kancing bajunya sudah lepas sekarang. Tubuh kekar berotot dengan lekukan yang seksi terpampang di antara bajunya yang tersingkap. “Itu dia masalahnya. Laki-laki itu tak mau jujur padaku. Aku sudah bertanya padanya tapi jawabannya nihil. Ia pergi begitu saja melewatkan pertanyaanku.”   Elle terdiam, tubuh lelahnya tidur telentang menghadap langit-langit kamarnya sendiri. Memejamkan mata, memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi pada Rama sekarang. Menghela napas, tak bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterima mafia narkoba kelas kakap itu.   “Lalu sekarang? Apa rencanamu, Kus? Aku yakin kita tak punya banyak waktu. Apalagi jika targetmu membebaskan Rama dari semua kejahatannya.” Elle tak ingin terlena dengan pikirannya yang keruh. Bertanya pada Markus pilihan yang mungkin saja lebih baik dari semua kemungkinan yang ia pikirkan.   Markus yang sudah terdiam cukup lama berdeham sekali. “Mau tidak mau aku harus tahu di mana mereka menahan Rama. Dan aku perlu bantuanmu.”   “Akhirnya kau mengucapkannya juga. Kukira seorang komandan Markus benar-benar tidak butuh orang lain.”   Markus tersenyum kecut, terpingkal pelan. “Ayolah, jangan menggodaku. Kalau perlu aku akan membayarmu lebih untuk yang satu ini.”   Mendengar kalimat Markus, Elle justru terpingkal. “Apa menurutmu uang masih penting untuk seorang gadis yang mendapatkan New BMW di ulang tahu ke dua puluh empat dari pacarnya, Kus? Aku sama sekali tidak butuh itu sekarang.”   “Lalu? Bayaran jenis apa yang kau ingin? Liburan? Atau kenaikan jabatan?” Markus menawarkan opsi lainnya.   “Em ... kenaikan jabatan mungkin. Tapi bukan untuk hal sesepele ini. Itu bisa kita bicarakan lain waktu. Yang aku butuh hanya izin aksesmu,” jawab perempuan di seberang telepon itu dengan tenang.   “Akses? Kau kan sudah punya semua itu, El. Kau punya wewenang yang sama denganku. Karena memang dari awal kau adalah tangan kananku di kesatuan tugas,” balas Markus. Keningnya mengerut dua ujung alisnya seakan bertemu.   “Benar, tapi bukan akses itu yang kuperlukan sekarang, Kus. Ini kasus yang sengaja disembunyikan dari media. Semua rekan reporter dan redaktur berita yang kupunya tidak melaporkan berita itu dirilis di televisi. Yang artinya, ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di sini,” terang Elle.   “Stop! Langsung ke poinnya saja. Akses apa yang kau butuh dariku?” potong Markus.   “Sederhana, aku cuman butuh izin darimu untuk sedikit menggoda mereka. Ya kau tahu lah, rahasia untuk narapidana sekelas Rama siapa yang pegang? Bukan polisi kesatuan apalagi sipir penjara. Aku harus menjelajah beberapa petinggi kepolisian untuk tahu pelan-pelan.”   “Dan seperti yang kau tahu, tidak ada yang gratis untuk sebuah rahasia, Kus. Sialnya lagi, mereka sama denganku. Tidak butuh uang, tidak butuh perhiasan. Kau tahu kan ke mana arah pembicaraan kita?”   Markus tersenyum kecut. “Sejak pertama mengenalmu, ini yang kusuka darimu, El. Kau liar dan penuh topeng. Kau bilang ingin minta akses padahal tanpa harus aku tahu pun kau pasti akan melakukannya bukan? Dasar perempuan licik.”   Elle tertawa lagi mendengar jawaban Markus. “Jadi, apa jawabannya?”   “Ya mau bagaimana lagi? Asal nyawamu tidak terancam oleh mereka lakukan saja,” jawab Markus. “Tapi kalau ada di antara mereka yang sampai mengancammu, aku orang pertama yang akan turun tangan.”   Elle mengangguk mantap. Ini pekerjaan yang cukup mudah baginya. “Tapi sebenarnya ada satu pertanyaan yang cukup mengganjal dari tadi di hatiku, Kus.”   “Apa itu?”   “Emmm ....” Elle tampak sedikit ragu. Pertanyaannya seperti berhenti di tenggorokan. “Seberapa yakin kamu bahwa peluru malam itu tidak menembus jantung Rama? Seberapa kamu yakin laki-laki itu masih hidup minimal sampai detik ini?”     Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN