Tapi Rama Sahabatku, Pa!

1806 Kata
Dwine Owl berdeham. Suaranya bergetar tapi tak cukup menyurutkan nyali Markus yang terlanjur naik pitam. “Sebaiknya memang kalian dipisahkan bukan?”   “Sebaiknya memang papa tidak ikut campur,” jawab Markus. Menandaskan pisaunya dengan dasar piring. Membuat sedikit suara benturan di sana. “Markus cukup besar untuk mengurus semua urusan sendirian, Pa!”   Mulut Markus terbuka, tangan kanan yang mengapit garpu terangkat. Mengantar potongan roti lapis selai coklat ke dalam mulutnya. Melumatnya, sambil mengamati laki-laki di depannya.   Laki-laki yang sungguh teramat tenang. Sebenarnya, yang dilakukan Markus sedari tadi adalah mengintimidasinya. Tapi tampaknya yang ia lakukan sejauh ini sia-sia. Papanya lebih cerdik dari yang ia duga.   “Tapi seorang laki-laki selalu punya insting melindungi putranya, Kus. Kau tak tahu bahaya apa yang tengah mengancam di belakangmu,” jawab pria paruh baya itu. Membetulkan kaca mata yang menggantung di telinganya. Membuka lembaran koran di depannya lagi.   “Kenapa laki-laki bertindak seperti seorang mama? Aku bisa menjaga diriku, Pa. Markus bisa mengatasi ini tanpa bantuanmu, Pa.” Markus mengernyit. Dua alisnya bertemu, keningnya mengerut.   “Karena mamamu pasti melakukan hal yang sama dengan apa yang kulakukan. Dunia ini terlalu luas untuk kau bangun jalan sendirian,” jawab laki-laki itu lagi. Tangannya bergerak meraih cangkir kopinya. Menandaskan seruput terakhir. “Soal mamamu, jangan pernah lagi mengungkit orang yang sudah tenang dalam kematiannya.”   Markus menghela napas panjang, mendengus kesal. Memberi jeda percakapannya yang rumit. Menyorot mata papanya yang bergerak ke kiri dan kanan, mengikuti kalimat yang ia baca.   “Dia sahabatku, Pa. Dia satu-satunya sahabatku.” Mulut Markus terbuka, jakunnya bergerak naik turun. Menelan suapan terakhir rotinya. “Jika Rama hilang, tidak akan pernah ada lagi orang seperti dirinya.”   “Sahabat?” Koran ditutup, Dwine Owl melepas kacamatanya. Memasukkan karbon dengan lensa ke dalam saku bajunya setelah melipat rapi korannya kembali.   “Kau tahu? Semua atasan kepolisian mengincarmu sekarang. Tahu apa sebabnya? Karena sahabatmu, karena Rama. Berapa surat dilayangkan padamu? Berapa kali juga misi itu gagal kau jalankan? Ke mana semua surat penangkapan itu?”   Markus menelan ludah. Lidahnya tercekat, tenggorokannya kering. Kalimat papanya menyayat hati. Tapi kehilangan Rama lebih menyakitkan dari semuanya. Dan sepertinya benar kata Elle, pria di depannya itu lebih tahu banyak hal soal penangkapan malam itu.   “Kau harus sadar posisimu, Nak.” Laki-laki itu melanjutkan kalimatnya sembari beringsut berdiri. Memundurkan kursinya, menarik keluar kedua kakinya dari bawah meja.   “Kau harus tahu bahwa sampai detik ini pun mereka belum melepaskanmu. Musuh papa bukan cuma orang-orang di surat penangkapan. Tapi juga kadang orang-orang di atas atau sejajar dengan papa.”   “Lebih baik kau tahu bahwa aku adalah dalang di balik penangkapan itu. Daripada penangkapan itu dilakukan justru oleh atasan kepolisian lainnya. Minimal aku bisa menyelamatkan satu orang. Dan maaf jika orang yang papa maksud bukan orang yang kau harapkan.”   “Setiap laki-laki berjalan sesuai pilihannya, Nak. Sama seperti bagaimana kau menghilangkan surat-surat penangkapan Rama itu. Sama seperti bagaimana kau memalsukan semua laporan dengan cerita yang kau ada-adakan. Tapi maaf untuk yang satu ini.”   Laki-laki itu melangkah, berjalan beberapa langkah meninggalkan Markus yang masih duduk tak bergeming menelan semua kalimat papanya.   “Aku orang dibalik penangkapan malam itu, Kus. Kamu boleh marah pada papa, karena kau berhak untuk itu. Tapi kau tidak tahu apa yang papamu tahu. Sudah ada beberapa, oh tidak, belasan bahkan. Belasan jendral kepolisian yang siap menjebloskanmu ke penjara dengan tuduhan menyembunyikan bandar narkoba.”   ‘BRAAAKKK ... !!!’   “TAPI RAMA SAHABATKU, PA!” Markus sudah kehilangan kesabaran. Menggebrak meja, berdiri mengacungkan jari ke arah papanya yang berdiri di ujung meja. “Papa nggak bisa kayak gini. Aku bisa urus Rama, Pa!”   Laki-laki yang sekaligus petinggi kepolisian itu dengan tenang berputar. Menghela napas, berjalan mendekat ke arah Markus, putranya. Wajah mereka bertemu. Jarak mereka hanya kurang dari dua jengkal sekarang.   Dwine Owl, meski tubuhnya kini tak sekekar Markus. Meski sorot matanya tidak lebih mengerikan dari Markus, tapi ketenangannya dan keberanian yang tak bisa diintimidasi itu membuatnya tak terkalahkan.   Tangannya bergerak, menepuk dua kali lengan Markus. “Aku sudah memberimu kesempatan bukan, Nak? Dan kau sudah gagal. Benar, tidak ada yang salah dari gagal. Tapi lihatlah keliar sebentar. Ikuti cara main papa. Demi papa, demi mendiang mama, demi kamu.”   Markus tersenyum miring, membuang muka, menyepelekan sorot mata papanya yang mulai berkaca-kaca. “Papa bilang aja ini demi papa. Bukan demi Markus, apalagi Mama! Mama selalu paham dengan Markus. Beda sama papa! Papa nggak pernah ngerti cara main Markus. Papa nggak pernah paham maunya Markus.”   Jawaban Markus barusan terdengar kejam. Seperti seekor serigala yang mencabik-cabik perut mangsanya. Seperti rahang buaya yang meremukkan tulang mangsanya.   “Jadi? Kau bilang papa jahat? Iya, Nak?”   Markus mengangguk, menghela napas panjang, memutar wajahnya kembali menatap pria di depannya. Kedua lengannya melepaskan diri dari rangkulan telapak tangan papanya.   “Andaikan mama masih hidup. Pasti kita tak akan berdebat seperti ini, Pa. Papa tega ya, ambil satu-satunya temen yang Markus punya,” protes Markus.   Duduk kembali ke kursi makan di sebelahnya. Memungut kembali pisau dan garpu yang sempat terlempar saat ia menggebrak meja tadi.   Dwine menundukkan kepalanya. Hal yang paling jarang ia lakukan sebelumnya pada siapa pun. Ia harus mengakui bahwa kini, semua yang Markus ucapkan memang benar. Ia sudah gagal menjadi seorang ayah dari anak tunggal laki-laki.   “Papamu ini sudah tua, Nak. Kamu, kamu Markus adalah satu-satunya harapan Papa. Kamu masih sangat muda buat nger—“   “Justru karena Markus masih muda, Pa.” Markus memotong kalimat papanya. Membuat seketika bibir pria berumur dua kali lipat umurnya itu terkunci. “Justru karena Markus masih muda. Markus nggak pengen habisin waktu Markus buat benci papa. Jangan sampai hanya karena papa jauhin Rama dari Markus bikin hubungan kita renggang, Pa!”   Dwine mengangkat kedua bahunya. Menggeleng, memijat dahinya. “Papa ngerti, Nak. Papa ngerti! Papa juga udah ngira kalau kamu nggak bakal setuju dengan apa yang papa perbuat malam itu.”   “Tapi papa nggak ngerti perasaan Markus!” bantah Markus membela diri. Menelan ludah, tak mengira percakapan dingin di awal tadi akan berubah jadi sepanas ini. “Papa nggak ngerti perasaan Markus. Papa nggak ngerti betapa berharganya Rama buat Markus. Papa nggak ngerti semati-matian apa Markus nyelametin Rama. Papa nggak ngerti apa yang Markus rasain. Papa hanya tahu kerja, kerja dan kerja. Papa nggak ngerti kan?”   Dwine tersentak, tubuhnya seakan ikut lemas mendengar semua kalimat yang meluncur dari mulut putranya. Semua yang dikatakan Markus benar, semua itu tak terbantah.   “Tapi papa hanya melakukan yang terbaik yang bisa papa lakukan untukmu, Nak.” Suara Dwine mulai bergetar. Bukan, bukan penyesalan, kejadian malam itu pun tak akan bisa diputar ulang. Semua sudah terjadi dan laporan penangkapan itu sudah masuk meja kerjanya.   Ini semua melampaui itu. Melampaui penyesalan, melampaui kesalahan. Melampaui, harga diri seorang atasan kepolisian.   Ini soal seorang ayah yang ikut merasakan nyeri di hati putranya.   “Terbaik? Apanya yang terbaik, Pa? Apanya?” Markus belum menurunkan nada bicaranya. Emosinya kini justru semakin meluap-luap. Semua yang dirasakannya tak bisa lagi dibendung. Yang ia pikirkan sekarang hanya kecewa karena ternyata Elle benar. Dwine Owl, papanya adalah dalang di balik penangkapan Rama di pedalaman hutan Sumatra malam itu.   “Apanya yang terbaik jika sebenarnya ada pilihan untuk membiarkan Rama lolos malam itu? Apanya yang terbaik, Pa?! Markus sedang berusaha. Anakmu ini sedang berusaha membuat laki-laki itu tidak berbuat onar lagi. Markus berusaha, Pa!” Markus menelan ludah sekali lagi, membuat kalimatnya terjeda sebentar.   “Dan sekarang, yang papa lakukan justru membuat hancur semua yang udah Markus coba bangun. Markus kecewa sama papa.”   Percakapan mereka berhenti. Perdebatan mereka berdua sejenak diambil alih sunyi. Markus meneguk segelas s**u di hadapannya. Sementara papanya masih berdiri tak bergeming, tak jauh dari tempatnya duduk.   “Papa kira ada yang lebih kau sayang di atas Rama. Elle, mamamu, atau mungkin papa meski kecil kemungkinannya. Tapi ternyata tidak, ternyata semua perkiraan papa meleset jauh. Tetap laki-laki itu yang ternyata nomor satu. Bahkan kau menyayangi sahabatmu di atas papamu sendiri,” ucap Dwine.   Mata laki-laki itu mengiba. Berkaca-kaca menatap Markus yang ada di bawahnya. “Papa mengira cintamu pada mama akan otomatis berpindah pada papa saat perempuan itu pergi. Tapi tampaknya, aku telah membuat kubangan kuburan untuk diriku sendiri di dalam hati putraku. Aku telah mati jauh lebih lama di sana.”   “Ini bukan soal siapa yang lebih Markus sayang, Pa. Ini bukan banding membandingkan. Tapi ini soal—“   “Apa? Persahabatan? Pertemanan? Balas budi? Atau apa?” potong Dwine balik. “Apa pun itu namanya, itu membuktikan bahwa ada yang lebih kau utamakan selain papa kan, Nak? Ada yang lebih kau sayang selain laki-laki tua ini.”   “Aarrggghhh ... !!!” Markus mengerang, memijat dahinya sendiri dengan kedua jari tangan kanannya. “Ini soal bagaimana Markus ingin kita tetap baik-baik saja, Pa. Hanya itu dan itu satu-satunya yang Markus butuh sekarang!”   “Markus cuma mau papa tenang. Papa tetap tenang di kursi kantor. Mengurus apa pun yang biasa papa urus. Markus cuma pengen Rama juga tenang. Bekerja sebagaimana dia bekerja. Biarkan Markus melihat kalian berdua tetap hidup, tetap ada. Tidak ada istilah Markus lebih sayang Rama atau Papa, sama sekali tidak ada!”   Dwine tersenyum miring, “yang seperti itu hanya ada di negeri dongeng, Nak!”   Kalimatnya kali ini berhasil membuat wajah Markus berputar.   “Usiamu dua puluh lima tahun lebih sekarang. Dan kamu harus paham bahwa sejak membuka mata tidak ada yang baik-baik saja di dunia ini. Ketakutan, kehilangan, bayangan, kecewa, luka, kesepian adalah semua bagian dari dunia yang lebih kekal dari matahari dan bulan. Mustahil rasanya jika kau memimpikan dunia yang baik-baik saja.”   “Hidup tidak mudah dan kau harus camkan itu dari sekarang. Dunia ini tidak adil dan begitulah kenyataannya. Sebagai seorang laki-laki kau harus bisa memilih, mengendalikan luka mana yang kau terima. Jangan terjebak di sana. Jangan terjebak dalam bayangan seolah-olah kamu korban dari segala korban. Setiap manusia punya tragedi masing-masing dalam dunianya.”   “Papa hanya merenggut sahabatmu, Rama. Orang yang jelas-jelas terjerat hukum. Bukan, bukan untuk melukaimu. Tapi untuk mengajarimu satu hal, bahwa suatu hari nanti, ada rumah lain yang kau kunjungi saat kau rindu papa dan kematian sudah lebih dulu datang memisahkan kita berdua.”   Markus terdiam, semua kalimat Dwine terasa penuh di dadanya. Meski tak bisa ia ungkiri, luka kehilangan Rama di hatinya tak bisa disembuhkan dengan nasehat. Tak bisa dikelabui dengan kata-kata mutiara.   Markus tahu, ini semua akan lebih pelik dari yang ia kira. Ini semua akan jadi perdebatan panjang, atau bahkan mungkin dendam. Tapi yang jelas, Markus tak ingin melepaskan Rama begitu saja dari hidupnya.   “Pa,” panggil Markus.   Membuat Dwine kembali memutar tubuhnya yang sudah hendak pergi meninggalkan Markus. Menatap anaknya yang sudah jauh tumbuh besar itu, menunggu kalimat berikutnya.   “Laki-laki itu.” Markus menelan ludah. Suaranya serak, pita suaranya bergetar. “Ap–apa dia masih hidup? Apa Rama masih hidup? Di mana ia sekarang?”   Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN