Sebuah Koran Sore.

1814 Kata
Mobil sedan hitam menerobos kemacetan jelang malam. Orang-orang yang baru pulang dari tempat mereka bekerja. Lapak kaki lima yang baru didirikan, belakangan ini jumlah mereka bertambah pesat di jantung dan di pinggir-pinggir jalan Artileri.   Menyelinap di antara barisan mobil-mobil yang menumpuk. Bergerak di bawah siraman matahari sore yang jingga telur setengah matang.   Alunan radio terdengar dari dalam mobil. Sanga penyiar yang sepertinya sudah fasih dengan request lagu mengantar syair-syair cinta memenuhi ruangan mobil.   Markus tersenyum saat Locked of the heaven dari Bruno Mars diputar. Meraih tangan gadis yang duduk di sebelahnya. Mengecup punggung tangan Elle.   “Jangan menggodaku! Aku masih marah padamu,” sergah perempuan itu, sengaja menarik tangannya kembali.   Markus terkekeh, tangannya berpindah lagi memutar setir mobilnya. Berputar, belok kanan ke arah yang sudah mereka berdua sama-sama tahu. Kencan singkat mereka telah usai. Markus harus segera pulang.   “Kau masih sibuk menggoda laki-laki yang ada di i********:? Yang suka mengirimimu pesan tidak jelas itu?” Markus melayangkan pertanyaannya. Elle yang memang sudah bosan dengan layar ponselnya kemudian mematikan layar. Memasukkan kembali handphone-nya ke dalam tas mungil yang dipangkunya.   “Ya setidaknya mereka masih sanggup menghiburku,” jawab Elle singkat. Membuang muka ke luar jendela. Mengabaikan Markus di sisi kanannya. “Bukan malah sibuk menjaga perempuan lain.”   “Oh god, that hurt enough. Tapi aku juga yakin, aku bisa membuktikan semua janjiku,” balas Markus membela diri.   “Bukannya janji ada untuk dilanggar? Kau bahkan tak perlu berjanji kalau memang tak ada pikiran untuk berniat melakukannya,” jawab Elle dingin.   Markus mengernyit, tersenyum miring terkejut dengan jawaban gadis di sebelahnya. “Sekarang aku tahu alasan kenapa perempuan sepertimu mudah sekali mendapatkanku.”   Kedua alis Elle bertemu, keningnya mengerut. Memutar wajahnya menelisik Markus. “Apa? Karena aku anak buahmu?”   Laki-laki itu menggeleng. “Aku punya belasan anak buah perempuan tapi tidak ada yang secerdas kamu. Oh, aku juga tak bisa melewatkan fakta bahwa tidak ada yang secantik kamu dari mereka.”   “GOMBALLL!!” Elle memekik, gemas menghujani lengan komandannya itu dengan pukulan. “Bilang saja karena aku yang paling mudah kau belokkan jalan ke hotel.”   Jawaban terakhir Elle membuat keduanya terpingkal. Sekaligus menghapus kekesalan di wajah Elle. Sekaligus meluruskan wajahnya yang kusut. Mencerahkan sorot matanya yang sebelumnya mendung.   Namun tidak dengan rasa cemburunya. Masih jauh, masih sangat jauh dari kata hilang. Rasa cemburu itu justru semakin bercokol. Semua perlakuan Markus, cara laki-laki itu membuatnya tertawa, semakin membuat Elle jatuh cinta padanya.   Meski pada akhirnya Elle sadar. Dalam dua hati yang bertaut cinta, hanya menunggu waktu sampai memutuskan, ego siapa yang paling banyak diberi makan.   Seperti saat ini di mana ia harus mengalah. Markus benar-benar tak bisa dirayu. Tetap teguh memilih menjaga Irish, terlepas dirinya suka atau tidak.   “Mampir dulu ya. Aku bikinin minum,” ujar Markus. Tangannya memutar setir 180 derajat kali dua saat empat roda mobil BMW hitam tahun 2020 yang ia tunggangi memasuki gerbang.   Gerbang setinggi tiga meter dengan fitur canggih membuka atau menutup otomatis saat ada kendaraan yang melewati sensor.   Rumah besar bergaya klasik. Tentu saja punya Dwine Owl, ayah Markus Owl. Markus hanya punya satu apartemen mewah yang saat ini juga masih dalam tahap renovasi.   “Emm ... kayaknya enggak dulu deh malam ini, Kus. Aku kan perlu ke kantor buat beresin berkas, sebelum makin malem. Besok kan sudah masuk. Bisa-bisa komandanku marah lagi kalau semua berkas di mejanya berantakan,” jawab Elle sopan.   Tawa Markus pecah, menggelitiki pinggang Elle dengan tangan kirinya. “Kau mau menghinaku? Kan aku komandanmu!”   “Tidak, tidak menghinamu, Kus.” Kalimat Elle terpotong memiringkan tubuhnya ke arah laki-laki di kursi kemudinya itu, kemudian mendekatkan wajahnya. “Kau tahu kan? Aku bahkan belum mandi sejak kau cairanmu membasahiku. Aku harus segera pulang. Jangan sampai ayahmu mencium aromanya.”   Markus yang tersudut di kursinya beringsut. Mencium bibir Elle, memagutnya, menarik tubuh ramping gadis itu semakin dekat ke arahnya. Elle melenguh, merasakan tubuhnya kembali memanas. Sebelum pada akhirnya;   ‘Tok ... Tok ... Tok ...!!’   Seseorang tinggi besar berseragam satpam mengetuk kaca jendela mobil dari luar. Membuat Elle refleks menarik kepalanya. Menatap Markus yang mendengus kesal. Membuatnya terpingkal, sembari menurunkan kaca mobilnya pelan-pelan.   “Oh tuan Markus, maaf tuan saya kira siapa tadi. Habis kacanya gelap jadi saya tidak tahu,” ucap satpam itu. Menangkupkan kedua tangannya, menunduk-nunduk malu setelah melihat siapa orang di dalam mobil yang ia ketuk kaca jendelanya.   “Dasar satpam sialan!”   Elle terkekeh, menatap tubuh tinggi besar itu beringsut pergi dari spion di depannya. “Udah ah, jangan marah-marah. Lagian kan dia cuman menjalankan tugasnya. Kamu turun dong, kan aku mau balik.”   “Oh iya lupa. Eh tapi kamu beneran nggak mampir dulu ini?” ujar Markus sekali lagi. Belum menyerah merayu Elle.   Sementara gadis yang digodanya menggeleng. “Sayang .... Udah jam 6 sore loh sekarang. Mau selesai kapan kerjaanku nanti kalau masih mampir juga. Lain kali ya,” jawab gadis dengan mata teduh itu.   Tangannya bergerak mengusap garis wajah Markus yang ditumbuhi bulu halus. Markus menyusul, menangkupkan tangannya di atas tangan Elle, mengusapnya lembut.   Kehangatan lebih dulu terasa sebelum mata mereka kembali bertemu. Gelora api cinta mereka belum surut. Bahkan semakin besar seiring detik demi detik, menit demi menit yang mereka lewati.   Markus menghela napas panjang. Menatap lekat wajah Elle di depannya. Wajah cantik yang disiram remang cahaya dari taman pribadi keluarga Owl. “I love you, El.”   Elle tersenyum, hatinya yang beku seketika mencair seperti lilin yang disulut api. Pipinya mengembang, bibirnya tertarik, mencetak lesung pipi di sana. “I love you more, Kus.”   Makin meledak-ledak saat bibir Markus bergerak, mengecup keningnya. Perlakuan kecil yang sanggup membawa  Elle terbang melayang hingga langit ke tujuh.   Mengingat laki-laki di depannya ini adalah pria idaman semua perempuan. Tampan, cerdas, bertubuh proporsional dengan rahang besar ditumbuhi bulu halus. Pria paling sempurna di mata Elle.   Tangan Markus bergerak membuka pintu di belakangnya. Tubuh itu turun dari bangku kemudi. Digantikan Elle yang menyusul turun, beranjak pindah.   “Hati-hati, kabari aku jika sudah sampai kantor,” ucap Markus sembari merunduk. Merendahkan kepalanya, menatap kekasihnya yang sudah siap menginjak gas setelah mengenakan sabuk pengaman.   Elle mengangguk, “jaga dirimu, Kus. Tolong jangan buat keributan baru di dalam sana,” balas Elle. Matanya bergerak, berputar, menatap rumah besar dengan dua tiang penyangga menopang tiga lantai di depan teras.   Perpisahan mereka terjadi beberapa kalimat kemudian. Mobil BMW mengkilap itu meraung. Klakson khasnya memekik sekali seiring kaca jendela yang menutup otomatis pelan-pelan. Keempat rodanya berputar, diantar lambaian tangan Markus. Hingga sempurna menghilang ditelan gerbang pintu masuk yang kembali menutup.   Kaki Markus melangkah dengan tenang. Meniti dua anak tangga yang cukup tinggi sebelum tiba di depan pintu masuk setinggi dua setengah meter berbahan kayu jati tebal.   Rumah besar dengan lantai marmer. Dua tiang penyangga utama berdiri kokoh seperti rumah mewah yang sering ada di televisi.   Arsitektur Belanda yang ayahnya pilih punya selera yang tinggi. Semua bahan yang dipakai, semua interior yang dipasang punya nilai artistik yang tinggi. Mulai dari lampu taman yang sering dijumpai di bahu jalan Malioboro Jogjakarta hingga sofa berbahan kulit dengan corak yang mengerucut seperti pecahan kaca.   Di ruang tengah, lampu gantung degan bohlam besar memancarkan warna jingga. Dikelilingi berlian-berlian yang terbuat dari kaca tebal. Tak lupa lampu LED yang menggantung di pinggir berwarna emas. Mengantarkan kesan mewah dan elegan.   Tangga yang berkelok, mengular menghiasi sudut lantai dasar. Dengan bahan kayu dan pernis mahal mengkilap, anak tangga yang tersusun itu tampak bisa mengimbangi guci-guci besar dan mahal yang berjajar di bawahnya.   “Hooohh ... akhirnya, ini dia jagoan papa pulang,” seorang laki-laki menutup koran yang ia baca. Meletakkannya di atas meja, beranjak dari kursinya. Berjalan menghampiri Markus, putra semata wayangnya, memeluknya. “Kenapa lama sekali, Kus?”   “Uh ... biasa lah, Pa. Kau tahu macetnya jalan ibukota,” balas Markus melonggarkan rangkulan tangan ayahnya. “Lagi pula aku harus bersenang-senang dulu bukan?”   Laki-laki itu terkekeh mendengar jawaban putranya. “Bi Asih, tolong ambilkan makan malam untuk Markus,” teriaknya sebelum kembali duduk. Tenggelam dengan koran yang terbit hari ini di kedua tangannya.   Meski tampak ramah, perasaan Markus justru sebaliknya. Ia benci ayahnya, sangat benci.   Laki-laki ini yang menyebabkan Rama tertangkap. Laki-laki ini yang membuat usahanya menyembunyikan bandar narkoba itu sia-sia. Dan laki-laki ini pula dalang di balik penangkapan di hutan sawit pedalaman Sumatra dua puluh jam yang lalu.   “Silakan malam malamnya, Tuan.” Seseorang dengan celemek putih dan wajah yang tak asing bagi Markus datang membawa dua roti lapis dan segelas s**u. Meletakkannya di atas meja, mempersilakan Markus.   “Terima kasih, Bi Asih. Jangan lupa beristirahat,” balas Markus sebelum perempuan paruh baya itu beringsut mundur. Dengan tubuh menunduk, melangkah mundur beranjak meninggalkan Markus dan ayahnya di meja ruang tengah.   Percakapan dua laki-laki itu kembali hening. Suara pisau dan garpu yang beradu dengan piring. Atau lembaran koran yang dibalik pelan lebih pintar mengisi keheningan. Markus memasukkan potongan roti pertamanya ke dalam mulut. Mengunyah adonan tepung ditambah pengembang itu, melumatnya sebelum melewati tenggorokan.   Selesai coklat, Bi Asih tahu betul selai kesukaan Markus dari kecil. Bahkan mungkin lebih tahu dari ayahnya sendiri.   “Berita penangkapan?” Markus membuka obrolan. Mengalihkan mata ayahnya, membuat laki-laki yang berumur dua kali lipat umurnya itu menghela napas panjang.   “Tidak semua penangkapan itu menyenangkan untuk dibaca, Kus. Kadang media juga sering kelewat berlebihan. Berita olahraga bagi papa jauh lebih menarik,” jawab laki-laki itu. Telunjuknya menggapai permukaan lidah yang sedikit menjulur. Mengapit ujung halaman. Membalik lembar koran berikutnya.   “Ada benarnya juga,” balas Markus. Meraih gelas besar s**u di depannya, meneguknya perlahan. “Aku yang baru delapan tahun di kepolisian saja sudah merasakannya. Apalagi ayah yang sudah puluhan tahun.”   Laki-laki di depan Markus teralihkan perhatiannya. Membetulkan kaca mata yang menggantung di dua daun telinganya. “Maksudmu? Apa yang sudah kau rasakan?”   Dua alis lebatnya bertemu saat keningnya mengerut. Kumis tebal dan janggut yang menghiasi garis wajahnya menambah kesan mengerikan di mimik mukanya.   “Hanya merasakan membaca cerita penangkapan lebih menyenangkan lewat laporan bukan lewat koran,” jawab Markus. Tangannya bergerak lagi, mengiris roti berikutnya. Selai coklat meleleh, menyembul dari dua bilah lapisan rotinya. “Hanya itu saja, tidak lebih. Kau juga merasakannya kan, Pa? Detail banget kalau di laporan. Berapa orang yang ditemukan. Berapa pasukan yang dikirim, koordinat lokasi, sampai kondisi tersangka.”   Laki-laki itu mulai sadar ke mana arah pembicaraan putranya. Meraih secangkir kopi di depannya, menyeruputnya, menandaskan hingga pangkal lidah. “Sebaiknya kau tidak main-main dengan instansi yang selama ini menghidupimu.”   Markus tersenyum miring, kunyahan di mulutnya memelan. Kedua tangan dengan masing-masing memegang garpu dan pisau bertemu. Menangkup, rapat di depan pangkal hidungnya. Seperti seorang detektif yang dihadapkan pilihan sulit dan teka-teki yang sebentar lagi akan dipecahkan.   Markus ingin membuat korbannya mau mengakui semua fakta tanpa paksaan.   “Jadi benar? Koran itu adalah koran sore? Dan pagi hari papa ditemani lembaran laporan yang masih hangat baru dirilis pihak redaksi kepolisian?”   Pertanyaan nekat Markus barusan, apa dia siap jika besok jadi hari terakhirnya bekerja?     Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN