“What!!?” pekik Elle. Kalimat yang sampai bisa mengangkat kepalanya dari d**a Markus. Mengerutkan kening, menatap tajam ke arah laki-laki yang tidur di depannya. “Mak–maksudnya? Ka–kau dan Irish? Nggak, nggak mungkin, nggak bisa gitu dong, Kus!”
Bagaimana mungkin Markus tega mengatakannya pada Elle. Bahkan ini sama sekali bukan waktu dan tempat yang pas. Mereka di kamar hotel. Mereka baru saja memadu kasih. Bahkan aroma keringat percintaan itu saja belum benar-benar surut dari kamar ini.
“Kenapa kau mesti cemas begitu, El? Aku hanya menjaganya, tidak bermain api di belakangmu.” Markus membela diri, mencubit kecil ujung dagu Elle kekasihnya itu, menggodanya.
Sementara Elle justru semakin menekuk wajahnya. Membuang muka, tak peduli dengan Markus yang justru semakin terkekeh karena tingkah Elle.
“Kamu jahat, Kus! Tidak bukan berarti belum. Kau curang, Kus!” Elle berucap sambil beringsut turun dari ranjang. Meraih bra dan celana dalamnya, mengenakannya kembali sebelum kemeja putih miliknya menyusul. Memungut lembar demi lembar pakaiannya yang tercecer di lantai.
Markus masih tak bergeming. Menatap gerak-gerik perempuan itu dari atas ranjang tempatnya tidur. Menghela napas panjang, penyesalan seakan tergambar jelas di mimik wajahnya. Ada yang mengganjal di hatinya saat matanya tak bisa lepas mengekor tubuh Elle.
Tubuh ramping berbalut kemeja putih kerja dengan rambut panjang yang dicat pirang itu mondar-mandir. Mengambil sebotol air mineral, meneguknya sembari kembali memandang kosong ke luar jendela. Tak bergeming, melipat kedua tangannya di d**a.
Tatapan itu seakan menggambarkan isi hati Elle sekarang. Kosong, hampa, kecewa dan berantakan, hanya untuk satu alasan.
Jauh di dalam lubuk hati Elle, perempuan itu bersyukur atas tertangkapnya Rama. Meski ia ungkiri, tapi perasaan itu adalah perasaan yang tak bisa ia tampik.
Fakta bahwa setelah Rama tertangkap, semua ini akan jadi sangat sederhana. Satu gembong narkoba kelas kakap sudah tertangkap. Petualangan Rama selama ini akhirnya berakhir apa pun caranya. Bagaimana pun kisah persahabatan romantis antara Rama dan Markus yang dikorbankan dibaliknya.
Kini Markus bisa lebih fokus dengan tugas kesatuannya. Tak perlu memutar otak mencari cara untuk menyembunyikan jejak Rama lagi. Kini tak ada lagi yang menghalangi Markus dalam bertugas. Kini tak ada lagi pemandangan membakar surat tugas penangkapan yang harus disaksikan langsung oleh Elle.
Namun ternyata itu semua belum cukup. Semua perkara ini tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Rama memang hilang, ia lenyap, setidaknya belum ada kabar sampai detik ini. Tapi laki-laki itu ternyata masih menyisakan beban untuk Markus. Beban yang seharusnya tidak mengikat Markus lagi.
Apalagi kali ini soal Irish. Perempuan mana yang tidak cemburu jika kekasihnya berurusan dengan perempuan lain. Mau itu kekasih sahabatnya, mau perempuan itu sahabatnya sendiri.
Tetap saja Elle tidak terima, apa pun urusan dan alasan mereka. Elle sama sekali tak peduli.
Yang ia mau tahu, Markus hanya miliknya. Yang ia mau tahu, tak ada yang boleh merebut Markus dari dirinya.
Dan lamunannya berakhir saat tiba-tiba tangan kekar itu melingkar di pinggangnya lagi. Tubuh hangat itu, otot-otot yang terasa jelas di belakang tubuhnya saat pria ini merapatkan tubuhnya. Meski belum cukup membuat Elle bergeming.
Perempuan itu masih diam menatap kosong ke deretan gedung tinggi di depannya. Bahkan tersenyum sedikit pun tidak. Ia terlanjur sebal mendengar satu nama yang diucapkan Markus tadi. Ia masih belum bisa terima soal itu.
“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” ucap Markus. Berbisik lembut di depan telinga Elle. “Tapi tak ada yang perlu minta maaf di antara kita kan?”
Elle hanya menggelengkan kepalanya. Tangannya bergerak melepas rangkulan tangan Markus, menggeliat, meloloskan tubuhnya. “Memang semahal itu kah permintaan maaf bagimu, Kus?”
Markus menggeleng, tubuhnya sudah terbalut kemeja putih lengkap dengan celana hitamnya. Mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Mengapit selenting tembakau itu dengan kedua bibir, kemudian menyulut ujungnya.
“Ini bukan soal minta maaf, El. Ini soal aku yang lagi-lagi tak bisa mengambil mempertimbangkan perasaan dan pendapatmu,” jawab Markus sembari menghempaskan asap pekat yang tadi diisapnya dalam-dalam.
“Dan kau tak pernah berencana berubah barang sedikit pun. Kau keras kepala, Kus!” balas Elle cepat. “Kau kira membahas perempuan lain setelah bercinta itu bagus?”
“Aku tak pernah mengatakan itu,” bantah Markus.
“Tapi kau melakukannya, Kus!” Elle kehabisan kesabaran. Membalik tubuhnya, membantah Markus dengan suara tinggi. “Kamu nggak pernah mikir betapa cemburunya aku saat kau mengucapkan namanya.”
“Oh My God!” Markus mengisap rokoknya lagi. Berputar mengalihkan tubuhnya dari depan Elle. Berbalik, meraih segelas minuman baru di meja sebelah ranjang sana. “Tebakanku ternyata benar. Kau pasti tak akan setuju soal ini.”
Elle menggeleng, memijat keningnya. “Tapi kali ini sudah kelewatan, Kus! Urusan surat penangkapan yang kau bakar. Atau laporan investigasi yang kau palsukan demi menyembunyikan Rama. Aku bisa memahami itu. Aku bisa memakluminya, Kus! Tapi ini? Irish? Perempuan mana yang tega berbagi, Kus?”
“Hey!” Jari Markus mengacung menunjuk ke arah Elle yang kini balik mengamati gerakannya. “Tak ada yang dibagi di sini. Tak ada yang menduakanmu. Tak ada yang mengambilku. Aku tetap milikmu, El.”
“Tapi, Kus!” potong Elle cepat. “Sekarang mungkin kau bisa bilang itu. Sekarang mungkin kau bisa dengan enteng berkata bahwa aku tetap milikmu. Tapi siapa yang tahu nanti, Kus? Siapa yang bisa menjamin kau akan tetap jadi milikku? Sedangka–“
“Sedangkan ada Irish yang mendapatkan perhatian lebih dariku,” potong Markus balik. Membuat percakapan terjeda, berubah hening tak bersuara. “Itu kan yang ingin kau ucapkan? Kau menuduhku, El. Itu yang membuat hal sepele kali ini jadi terdengar tidak adil.”
Jawaban Markus justru kini terasa merajam hati Elle. Perempuan yang masih tak bergeming. Bersandar di tembok. Menunduk, memijat keningnya, menggeleng tak percaya dengan apa yang barusan telinganya dengar.
“Kau berpikir seolah hanya dirimu yang bisa setia, El?” Markus melangkah, suara sepatu yang mengetuk lantai terdengar menyalak. Berdetak seirama detik jarum jam dinding. Mengetuk gendang telinga Elle.
“Satu alasan yang mengharuskanku untuk tidak meminta maaf. Pertama, karena aku tahu. Maaf tak akan mengubah apa pun. Tak akan mengubahmu jadi percaya padaku. Tak akan mengubahmu untuk menyetujuinya.”
“Dan alasan bahwa aku harus melakukan itu semua atas nama persahabatan. Aku harus melakukannya untuk Rama. Aku harus menjaga Irish suka atau tidak, demi sahabatku itu. Sialnya, apa pun pendapatmu soal ini. Sedikit pun tak akan mengubah keputusanku,” tuntas Markus.
Tubuh tinggi kekar itu sudah menjajari Elle di depan jendela lagi. Bedanya, dua orang ini seperti dua orang yang tengah bermusuhan.
Elle yang hanya bisa merunduk dan Markus yang membuang pandangannya jauh ke luar jendela lantai 10 hotel. Diam menguasai percakapan. Keduanya bertengkar dengan isi kepalanya sendiri.
Masalah ini sejujurnya amatlah sederhana. Elle cemburu jika Markus harus dekat dengan perempuan bernama Irish itu. Sementara Markus, tak bisa menolak permintaan terakhir Rama. Sahabatnya sejak mereka duduk di bangku sekolah pertama. Sahabat yang harus terpisah di dua dunia yang berlawanan.
Seperti air dan api. Seperti batu dan angin. Seperti langit dan lautan. Markus dan rama adalah dua elemen penting yang terlahir berbeda dunia.
Markus tahu Elle tak akan pernah setuju dengan ini. Markus tahu, Elle pasti akan cemburu jika ia harus memberi perhatian lebih pada perempuan lain. Meski seberapa keras pun Markus mencoba untuk terus meyakinkannya.
Sebaliknya, Elle juga tahu. Mau sekeras apa pun rasa cemburunya. Mau sekuat apa pun ia menahan Markus. Laki-laki itu tak akan pernah mendengarnya. Markus bukan laki-laki biasa. Ambisius, keras kepala, arogan, passionate, jiwa pemimpin yang mengalir dalam darahnya membuat laki-laki itu bertindak seolah tak butuh orang lain.
“Bagaimana caranya membuatmu mengerti, Kus?” ucap Elle lirih. Perempuan itu akhirnya membuka mulutnya lagi setelah cukup lama terkunci.
Markus tersenyum miring. Menandaskan isapan terakhir rokoknya, mengadu bara itu dengan permukaan asbak tak jauh dari tempat ia berdiri. “Bagaimana cara membuat kita saling percaya lagi bahwa kita akan tetap baik-baik saja?”
Elle mengangkat wajahnya, membesarkan pupil matanya, menyorot wajah Markus yang masih menatap kosong ke luar. “Kus, tolong! Kali ini saja kumohon, jangan mengorbankanku lagi. Aku tak bisa melakukan itu atas dasar cinta.”
“Ya, dan andai saja ada cara yang seperti itu maka kita tidak akan terjebak di percakapan tawar menawar menyebalkan ini, El. Aku harus melakukannya. Terlepas kau setuju atau tidak sama sekali,” jawab Markus ringan.
Diam lagi, percakapan dingin ini seperti tiada akhir. Tak ada yang mau mengalah, tak ada yang mau melepaskan obsesinya.
“Adakah yang lebih menyakitkan dari dilukai kekhawatiran kita?” tanya Elle. Tubuhnya beringsut menjajari Markus, menatap ke luar jendela.
Laki-laki yang membalas pertanyaan dengan tersenyum miring. Melipat tangannya di d**a, membiarkan kepala Elle bersandar di bahunya.
“Ada, yaitu berusaha membangunkan orang yang terlalu sayang untuk mengakhiri khayalannya. Masalah ini sangat sepele, El. Semua usahaku kalah dengan ketakutanmu. Kau lupa fakta bahwa usahaku nyata sedang bertarung dengan kekhawatiranmu yang fana. Kau lupa fakta bahwa kini ini sedang berjalan beriringan bukan balap lari menuju garis finis yang kau tentukan,” jawab Markus.
Satu jawaban yang akhirnya bisa menarik kedua ujung bibir Elle. Perempuan itu tersenyum, tergambar jelas di wajah dan kepala yang bersandar di bahu Markus. Bahu yang masih tercium pekat aroma asap tembakau biasanya.
Elle bahkan sudah hafal betul rokok kesukaan Markus.
“Aku benci pertanyaan ini, tapi apakah keputusan itu masih tidak juga berubah?” telisik Elle.
Markus menggeleng, ujung dagunya bertemu kepala Elle. “Kau sudah bisa menebak jawabannya kan?”
Gadis itu mengangguk, sedikit mendengus sebal. “Bagaimana soal cemburuku, Kus?”
Pertanyaan yang membuat Markus melingkarkan tangannya di pinggang Elle. Merapatkan tubuh gadis itu hingga tak berjarak dengan tubuhnya. Merunduk, mengecup keningnya.
“Aku akan lebih dulu datang sebelum cemburu itu sampai di hatimu,” jawab Markus.
Refleks membuat Elle mencubit perutnya. Membuatnya menggeliat, melepaskan rangkulan tangannya melompat menghindar, terpingkal.
“DASAR GOMBAL!!”
Bersambung ....