Rama Titip Irish, El.

1316 Kata
Markus melenguh panjang untuk kali terakhir. Bola matanya berputar mengawang, jatuh di langit-langit kamar hotel yang menggantung tiga lampu remang berwarna jingga.   “Apa yang sebenarnya terjadi, Kus?” tanya Elle. Pertanyaan yang refleks memutar kepala Markus. “Apa yang terjadi di dalam hutan itu?”   Elle menggeliat, menarik selimut yang ada di sebelahnya. Setengah menutupi tubuh telanjangnya yang bermandikan keringat. Udara dingin AC mulai terasa menggigiti pori-pori kulitnya lewat keringat. Sementara untuk berpakaian, rasanya itu bisa nanti. Sembari menunggu energinya pulih setelah permainan barusan.   “Kau yakin?” telisik Markus saat meta mereka bertemu.   Elle mengangguk, tersenyum, kemudian mendorong kepalanya. Kecupan kecil ia labuhkan di bibir Markus. Laki-laki dengan bola mata biru dan bulu halus yang tumbuh di rahang besarnya.   “Percaya aku, tak ada kamera pengintai, perekam atau apa pun. Kau tahu sendiri kan? Kematian tiga polisi di tangan Pablo itu membunuh mentalku. Aku tak akan mengulangi kesalahan itu,” terang Elle meyakinkan Markus.   Markus tersenyum yakin. Mengelus garis wajah Elle di depannya. Menyingkirkan anak rambutnya yang berantakan dari pipi dan ujung matanya. “Kau masih sangat muda waktu itu. Wajar saja jika kau ketakutan. Bukan hal yang mudah menangkap Pablo. Dia laki-laki yang berbahaya.”   “Tapi bukankah laki-laki bernama Rama itu sama bahayanya?” tanya Elle lagi.   Pertanyaan yang seketika mengerutkan kening Markus. Matanya menyipit, menatap tajam ke arah perempuan di depannya.   “Kecuali karena aku membakar surat tugas yang bisa memberi kita bonus banyak uang, Rama bukan laki-laki seperti yang kau dan mereka pikirkan,” jawab Markus tegas. Gigirnya gemertuk, siapa yang terima sahabatnya dijelek-jelekkan di depan dia sendiri.   “No, bukan begitu maksudku, Kus. Kau jangan tersinggung dulu,” sergah Elle cepat. “Aku hanya banyak tidak tahu soal Rama, Kus. Kau terlalu banyak menyembunyikannya dariku. Siapa dia? Bagaimana rupanya? Apa yang terjadi di antara kalian? Aku tak pernah tahu soal itu bukan?”   Raut wajah Markus melunak. Kerutan di keningnya berkurang, menghela napas panjang. Memutar tubuhnya, memijat keningnya sendiri dengan dua jari tangan kanannya.   “Ceritakan yang perlu kudengar untuk meredakannya, Kus. Aku mengerti ada beban yang tidak hilang hanya dengan bantuan cinta dan sexs. Kau butuh lebih dari itu, Kus. Kau butuh orang lain,” timpal Elle lagi.   Markus memejam, menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan. Seolah menggambarkan beban di kepalanya yang terkumpul jadi satu.   “Malam itu harusnya aku tak memaksanya bertemu—“   “Jadi?” sergah Elle. Membulatkan bola matanya, menelisik wajah Markus yang ada di sebelahnya dengan penuh keheranan. “Kukira kau hanya ingin berakhir pekan di Sumatra. Kukira penangkapan Rama itu tak ada kaitannya denganmu.”   Markus menggeleng, meringis, seperti menelan bulat-bulat pahit empedu ayam. “Aku ada di sana, El. Aku ada di malam penangkapan Rama.”   “Nggak, nggak mungkin. Harusnya—“   “Ya kau benar,” potong Markus cepat. “Harusnya aku juga ikut tertangkap malam itu. Aku ada di gudang kecil tengah hutan sawit malam itu saat belasan, bukan tapi puluhan. Aku ada di sana saat puluhan polisi diam-diam mengepung hutan sawit itu.”   “Lalu? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau sampai segegabah itu, Kus?” tanya Elle lagi belum puas.   “Rama menarikku, persis saat ia tahu kami sedang terkepung. Kami berdua berpencar. Lari tunggang langgang di tengah gelapnya hutan dan di bawah derasnya guyuran hujan. Aku tak tahu ke mana Rama berlari dan aku juga yakin Rama tak tahu ke mana aku berlari. Kami berpencar menyelamatkan hidup kami masing-masing,” ucap Markus dengan maya yang masih terpejam.   “Damn! That scary,” balas Elle. Tangannya beringsut, melingkar memeluk tubuh Markus yang terbaring di bawah selimut tebal bersamanya.   “Aku hanya memperingatkan laki-laki itu bahwa kini ia dalam masalah besar. Ini soal penyerangannya di markas polisi dua minggu yang lalu. Tapi justru aku yang mengantarkan masalah besar itu padanya. Aku hanya tahu lari dan lari. Aku tahu risiko terbesarnya jika aku tertangkap,” lanjut Markus. Terjeda, menghela napas panjang lagi.   Membuat Elle harus merapatkan tubuhnya lagi. Meyakinkan Markus bahwa kini ia tak sendiri. Ia tak perlu ragu untuk menyelesaikan ceritanya.   “Aku merasa sudah cukup jauh berlari. Dan itulah kenyataannya, bahwa aku berhasil meninggalkan Rama jauh di belakangku. Tapi alasan yang membuat itu semua jelas yang tidak bisa kuterima. Suara tembakan, teriakan Rama yang menggaung di tengah sepi malam, di antara suara guyuran hujan. Suara tang membuatku sadar, petualangan Rama selesai,” tuntas Markus.   Kini setelah cerita itu selesai, ganti Elle yang menghela napas panjang. Menghela napas untuk satu fakta yang kini bisa ia benarkan. “Jadi benar gosip yang beredar sangat cepat di antara para kepala kesatuan itu.”   Markus memutar wajah, mengernyit, membuang sorot matanya pada wajah sendu gadis di sebelahnya. “Gosip? Soal apa?”   Elle mengangguk, menelan ludah. Seperti ada kalimat yang menyangkut di tenggorokannya. Ia ragu tapi Markus juga perlu tahu soal ini. “Soal ayahmu, Kus. Dwine Owl, laki-laki yang bahkan kau lebih kenal jauh daripada diriku.”   “Ayah? Ke–kenapa dengan laki-laki itu? Dan apa kaitannya dengan penangkapan Rama?” ujar Markus.   “Ada gosip yang berembus kencang. Bukan bermaksud aku tak memberitahumu tapi aku baru mendengarnya saat kau menghilang di awal pekan tanpa memberiku kabar.” Kalimat Elle terpotong. Menatap ke dalam biru pupil mata Markus.   “Ini soal kedekatan kalian yang sudah dicium petinggi kepolisian. Dan kau tahu kan? Salah satunya adalah ayahmu, Dwine Owl. Kabar itu sengaja dirahasiakan dari semua pihak, dari semua kesatuan. Aku hanya mendengar sedikit. Mencuri obrolan antara Albert dan Tom saat mereka tak sengaja bertemu di kantor Tom. Aku di sana untuk menyerahkan beberapa berkas bukti-bukti penyerangan markas kepolisian.”   “Dan mungkin kau sudah bisa menebak apa yang ingin aku sampaikan. Kau cerdas, Kus. Aku yakin kau bisa menghubungkan semua fakta yang sudah kuceritakan padamu barusan bukan? Tentang kamu dan Rama, tentang kantor polisi yang diserang bandar narkoba kelas kakap. Tentang ayahmu, salah satu pertinggi kepolisian itu—“   “Langsung saja pada intinya El,” potong Markus tak sabar.   Elle menarik napas dalam-dalam. Menelan ludahnya sekali lagi. “Ayahmu adalah orang di balik penangkapan Rama. Orang di balik pengepungan hutan sawit tempat kalian bertemu.”   “SETAN!” umpat Markus setengah tertahan. Meremas tangannya sendiri, memejam menahan amarahnya. Wajahnya memerah, udara tak teratur keluar masuk hidungnya. “Dari mana laki-laki itu bisa tahu?”   Elle yang sadar kabar barusan akan semakin memukul mental Markus hanya bisa memeluknya. Menggeliat, tangannya mengular, tubuh telanjangnya coba mendinginkan darah Markus yang seakan mendidih.   “Itu yang sedang aku telusuri, Kus. Ada satu hal lagi, tapi aku belum bisa menyebutnya fakta. Ini baru kecurigaanku. Dan berkaitan dengan bagaimana ayahmu bisa tahu hubungan antara kamu dan Rama,” jawab Elle.   “Dan apa itu?” balas Markus cepat. Membuka matanya, berputar ke arah Elle di samping lengannya.   “Dwine Owl, adalah orang yang ada di belakang Pablo. Dan jika benar ini adalah kisah paling klise. Kau melindungi Rama, seorang bandar narkoba nomor dua. Sedangkan ayahmu, melindungi bandar narkoba nomor satu. Satu hal yang membuatku ragu adalah, aku tak ingin melihat dua polisi diadu domba oleh sesuatu yang harusnya kalian tumpas,” terang Elle.   “Ini soal manusia El, bukan soal profesionalisme. Ini soal nyawa seseorang. Dan aku tak tahu bahwa selama ini laki-laki itu ternyata sudah mengotori tangannya.” Markus mendengus, rahangnya bergerak menggigit giginya sendiri. Hingga suara gemertuk itu terdengar hingga telinga Elle.   Tak banyak yang bisa dilakukan Elle. Kecuali menidurkan kepalanya di atas d**a Markus. Mendengar jantung laki-laki itu yang berdetak lebih cepat. Tepat sebelum ia menarik napasnya panjang lagi.   “Akan kucari tahu sendiri soal itu, El. Terima kasih sudah memberiku informasi penting tadi,” ujar Markus sambil mengecup kening perempuan yang bersandar di dadanya. “Tapi ada satu pesan Rama yang kini mulai mengganggu pikiranku.”   Kini ganti Elle yang mengernyit. Kalimat terakhir Markus, “maksudmu?”   “Rama titip Irish sebelum kami benar-benar terpisah,” jawab Markus setelah menelan ludah, masih tak percaya bahwa malam itu benar-benar terjadi.     Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN