Hibur aku.

1352 Kata
“Kau yakin hanya satu jam?” jawab Markus dengan senyum menggoda ke arah Elle.   Perempuan yang kini tersipu malu. Menatap tubuh kekar Markus di depannya dengan kemejanya yang telah tanggal.   “Terakhir kau yang kalah ya. Jangan lupakan fakta itu,” jawab Elle gemas. Menggesekkan ujung hidungnya di ujung hidung Markus.   Membuat laki-laki itu terpingkal. Menggulingkan tubuh telanjangnya yang hanya menyisakan celana di bawah. Jadi terlentang menghadap langit-langit. “Sudahlah jangan diungkit lagi. Itu kali pertamaku, El. Kau curang.”   “Curang?” telisik Elle. Matanya berputar, melirik wajah yang ada di sebelahnya.   Laki-laki yang mengangguk kemudian terkekeh. “Iya curang lah. Yang ada tuh harusnya aku yang memperawani. Bukan kamu yang memperjakai.”   “Salah sendiri datangnya telat,” balas Elle sambil tertawa puas.   Membuat sekali lagi tangan melingkar, menggelitiki pinggangnya. Tubuhnya beringsut menghindar tapi lengan Markus terlampau kuat. Menariknya, mereka bergulung-gulung di atas kasur, terpingkal, tertawa. Bergumul hingga sama-sama berhenti karena kelelahan.   Mata mereka bertemu lagi dengan perasaan yang jauh berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Tak tampak lagi keraguan di bola mata Markus. Yang ada hanya rasa cinta yang teramat dalam pada perempuan di depannya.   Elle, gadis yang kini beringsut melepaskan kancing kemejanya sendiri. Duduk melipat lutut, menggeliat menanggalkan kain yang menempel di tubuhnya satu persatu.   Markus menikmati pemandangan di depannya. Melihat Elle yang tak malu-malu lagi. Bergerak seperti seorang penari striptes di depannya. Tak mau tinggal diam, menarik sabuk yang menggantung di celananya. Melepaskan satu kaitan itu, mengangkat sedikit pinggulnya, meloloskan celananya.   Elle tersenyum. Tangannya gemas menggeliat. Merunduk, mencapai pinggiran celana dalam Markus. Tak berselang lama kemudian ikut lolos dari pinggulnya.   Kemudian berpindah, naik ke atas tubuh Markus. Pria yang melenguh kemudian. Menerima tubuh telanjang Elle di atas tubuhnya. Merasakan kulitnya dan kulit Elle bertemu.   “Uhhhhh .... tampaknya kau tetap jadi junior dalam hal ini komandan,” ucap Elle sembari mendaratkan kecupan hangatnya lagi.   “Kok bisa?” telisik Markus. Menyingkirkan rambut Elle yang sedikit menutupi wajahnya ayunya.   Membuat Elle tak bisa menyembunyikan wajah malu-malu kucingnya. Apalagi saat permukaan perutnya merasakan sesuatu itu.   “Ini apa yang mengganjal, Kus? Masih beraninya mengelak ya kamu.” Tangan Elle turun, meraih batang besar itu. Terasa penuh di genggaman tangannya. Terasa hangat dan sedikit basah di ujungnya.   Elle mengangkat tubuhnya, membiarkan Markus terkekeh, duduk di kedua paha laki-laki itu. Tangannya bergerak naik turun. Masih menggenggam batang itu, merakan lapisan kulit, urat-urat tang besar, dan sensasi saat benda itu berkedut sesekali.   “Aaahhhh .... jangan bilang ini belum sepenuhnya berdiri, Kus.” Elle menelan ludahnya. Melihat batang di genggaman tangannya yang semakin bertambah besar seiring gerakan naik turun tangannya.   “Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya bukan, El? Dan kau lebih ahli soal itu,” jawab Markus ringan. Mengangkat kedua tangannya, melipatnya di belakang kepala.   “Uhhhh .... kalimatmu terdengar seperti tantangan untukku, Kus. Kau kuat berapa lama emangnya?” balas Elle.   Pelan-pelan kepalanya turun, bibirnya terbuka lebar. Sampai sesaat kemudian Markus meringis, menikmati sensasi saat ujung batangnya bertemu lapisan bibir tipis Elle.   Merasakan batangnya diisap, basah, hangat saat bertemu dengan lidah Elle di bawah sana. Mengerang, mendesah keenakan seiring gerakan naik turun kepala Elle.   Sementara di bawah Elle bergerak lebih ganas. Bibirnya yang menutup rapat terasa basah karena air liurnya. Makin lama terasa makin mengisap. Seperti mengurut semua titik sensitif Markus. Membuatnya pasrah, mengerang, meringis menahan serangan dari bibir Elle di bawah sana.   Cukup lama perempuan itu bermain. Tak mau kalah lebih cepat Markus mengangkat kepala Elle. Menghentikan permainan yang sudah mulai mengganas.   Elle tersenyum puas. Permainan yang ia ciptakan berhasil menarik Markus larut.   Gadis itu mengangkat tubuhnya lagi. Membuka kakinya lebar-lebar, mengangkangi tubuh Markus di bawahnya. Bibirnya bergerak, mencumbu bibir komandannya tersebut. Markus yang tak siap gelagapan menerima ciuman tiba-tiba itu.   Dengan kesadaran yang baru terkumpul setelah dibuat melayang-layang oleh Elle ia mengimbangi ciuman itu. Ciuman yang berawal dari kecupan berlanjut jadi isapan-isapan. Markus membuka sedikit mulutnya. Membiarkan bibir tipis Elle menyelip di antara bibirnya. Sementara tangannya bermain di tempat yang berbeda.   Satu alasan yang kini ganti membuat Elle melenguh panjang. Yaitu saat telapak tangan Markus tiba di dua bongkah buah dadanya.  Jari-jari besarnya, kulit kasar berotot memamerkan pembuluh arteri yang mengular sampai di sana.   Di dua daging kenyal yang sangat sensitif. Meremasnya, bermain di ujungnya, membuat tubuh Elle menggeliat kegelian. Apalagi saat jari-jari besar itu tiba di ujung daging kecil merah muda kecoklatan miliknya.   Mendongakkan wajahnya pasrah hingga beberapa helai rambutnya kembali luruh menutupi wajah dan sebagian tubuh berkeringatnya.   Kepala Markus turun. Bersama dengan kecupan-kecupan yang bermula dari dagu, tengkuk, leher kemudian berhenti di d**a Elle. Jari-jari Markus diganti dengan bibir.   Kecupan-kecupan itu menggila. Menjelma jadi isapan di ujung buah d**a Elle.   “Aaahhhhh .... kau boleh melakukannya lebih keras, Kus. Jangan membuatku memohon,” protes Elle sambil menggelinjang tan karuan. Menjambak rambut Markus, menariknya lebih dalam mengisap dadanya.   Melenguh, mendesah, sesekali memekik saat Markus mengisap dadanya kuat-kuat. Meninggalkan bekas luka memerah di lapisan kulit payudaranya.   Tapi bak seekor kuda liar, rasa sakit yang berasal dari isapan itu justru membuat Elle semakin b*******h. Apalagi ditambah batang besar di bawah sana yang ikut basah sebab bergesekkan dengan lubang kewanitaannya.   Markus sadar perempuan di atasnya sudah hampir mencapai puncaknya. Bahkan cairan dari lubang miliknya sudah luruh, menetes di pangkal pahanya. Tanpa menunggu aba-aba, tangannya berpindah ke pinggang Elle.   Menggulingkan gadis itu, beringsut memberi ruang. Elle yang kaget dengan perlakuan Markus memekik sekali lagi. Tertawa, mengatur posisi tubuhnya mengangkangi Markus yang duduk di depannya.   Sementara itu wajahnya tengadah ke arah Markus. Menatap laki-laki yang kini sibuk dengan batang besarnya. Mencari jalan masuk, menyibak dua lapisan daging yang kini sudah berlapis lendir licin.   Di bawah, Elle hanya bisa meringis. Melingkarkan tangannya di leher jenjang Markus. Menarik tubuh laki-laki itu lebih dekat.   Bibirnya tak kuasa lagi menahan suara di tenggorokannya. Menjerit, memekik, persis saat kepala batang besar itu menyibak lubang kewanitaannya.   Terasa penuh, terasa sesak, terdorong pelan-pelan. Membuat kepalanya tengadah hingga melewati bantal.   Markus menggeliat, melepaskan tangan Elle. Turun mencumbu tubuhnya, membiarkan perempuan itu menikmati momen ternikmat itu. Menambah kenikmatan berkali-kali lipat dengan kecupan bertubi-tubi di dadanya.   “Aaaahhh .... jangan di situ, Kus!!” Bibir Elle merancu tidak jelas begitu dua bibir Markus tiba di daging kenyal ujung buah dadanya.   Berputar, memilin, menarik lembut memainkannya. Belum lagi batang besar di bawah sana yang kini mulai bergerak pelan-pelan. Masuk lebih dalam, terasa penuh, bibir kewanitaannya bisa merasakan tiap senti batang besar itu masuk makin dalam.   Membuat Elle semakin membuka pahanya lebih lebar lagi. Hingga Markus leluasa melakukan itu semua padanya.   Menenggelamkan batangnya hingga pangkal. Menariknya pelan-pelan sedikit demi sedikit hingga menyisakan kepalanya. Kemudian mendorongnya lagi, begitu seterusnya.   Desahan, lenguhan, tubuh berkeringat yang beradu tanpa sehelai pakaian pun membatasi mereka. Lubang kewanitaan yang semakin basah, dan Markus yang mulai mendapatkan tempo permainannya.   Semakin lancar memompa keluar masuk tubuh Elle.   Bertahan cukup lama di posisi itu. Hingga Markus menarik tubuh Elle lagi, merubah posisinya. Perempuan yang sudah lemas karena perlakuan Markus kini berputar. Jadi posisi tengkurap, sesaat sebelum Markus menarik pinggulnya. Membuat lututnya terlipat dengan dua bongkah p****t indahnya lebih tinggi dari kepala.   “Uuuhhhhh .... that was so deep!” Bibir Elle tak bisa dicegah untuk menahan kalimat beserta lenguhan barusan.   Apalagi saat Markus melanjutkan aktivitasnya. Betang besar miliknya kembali masuk. Meski sudah basah, meski sudah berkali-kali dihujani, tetap saja batang itu terasa penuh. Bahkan terasa hingga mengetuk dinding rahimnya.   Gairah yang meledak-ledak. Posisi terbaik yang bisa membuat mereka meraih tempat terdalam. Kulit yang bertemu, keringat yang mengucur, saling sahut dan balas desahan lenguhan.   Hingga cukup lama mereka bertahan. Aroma birahi yang kental, seprei, bantal dan kasur yang sudah berantakan.    Tanpa teras Markus sudah hampir sampai pada puncaknya. Apalagi saat lubang milik Elle terasa semakin mencengkeram kuat. Tubuh perempuan itu mengejang lebih dulu.   Tepat sebelum beberapa detik kemudian disusul Markus. Laki-laki itu mengerang, menarik pinggul Elle kuat-kuat menempelkan pada tubuhnya. Menenggelamkan batangnya hingga benar-benar tak tersisa lagi.   Semuanya menyembur terkuras habis di dalam lubang kenikmatan milik Elle. o*****e yang sudah lama sekali tak pernah Markus rasakan. Apalagi di tengah kemelut kasus dengan Rama sahabatnya.   Masalah, adrenalin, takut, khawatir, semua ikut keluar bersamaan dengan itu. Bersamaan dengan dirinya yang kini terkulai lemas di sebelah Elle. Menatap perempuan itu tersenyum puas ke arahnya.     Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN