Mobil hitam Markus memasuki parkiran kantor. Suaranya menggema, mengisi keheningan yang lebih dominan di sana. Pintu terbuka persis setelah beberapa detik mesin mobil di matikan.
Laki-laki itu turun, sepatu kulit warna hitam mengkilap miliknya mengetuk lantai. Suara ketukannya bahkan terdengar makin menyalak saat kedua kakinya menyusuri satu demi satu anak tangga.
Kedua mata dengan kantung sedikit menghitam di bawahnya tak bisa lepas dari perempuan yang menatapnya. Berdiri melipat dua tangannya di d**a. Menyorot gerak Markus dari jendela lantai dua.
Perempuan yang berpenampilan seperti biasanya. Kemeja putih berbalut blazzer hitam ditambah rok setinggi lutut. Rambut panjang berwarna pirang yang digelung ke belakang, memamerkan leher jenjang dan karismanya yang kuat.
Bibir tipis berwarna merah mawar, ditambah kacamata yang tak lepas saat ia bekerja. Markus tersenyum ke arahnya, meski hanya dibalas senyum kecil.
“Gila, macet parah jalan hari ini.” Markus membuka pintu kantor. Melepas jaket hitamnya, menggantungnya di tempat biasa.
Gadis itu beringsut, memutar badannya berjalan ke arah Markus sembari menatap jam di pergelangan tangannya. “Dua setengah jam, aku nggak pernah macet selama itu sih untungnya.”
Markus tersenyum kecut, menelan ludah salah tingkah, melempar tubuhnya duduk bersandar di sofa. Mengamati Elle yang berpindah lagi. Berjalan mengambilkan air mineral kemasan yang ada di lemari pendingin di sudut ruangan.
“Atau mungkin memang tidak ada macet yang selama itu,” lanjut Elle. Duduk di pinggiran sofa dekat dengan Markus. Mengulurkan tangan, memberikan sebotol air mineral di genggamannya. “Minumlah, komandan pasti sangat haus.”
Markus menelisik tubuh Elle. Sekretaris sekaligus kekasihnya itu terlihat begitu cantik hari ini. Apalagi ditambah rambutnya yang biasa tergerai jadi digelung ke belakang.
Membuat laki-laki itu tak tahan. Meraih botol minuman dari tangan Elle sekaligus menarik tangannya. Tubuh perempuan itu hilang keseimbangan, tak bisa melawan tarikan tangan Markus. Hingga terjatuh dalam pangkuannya.
Markus tahu apa yang ia mau. Tubuh Elle masih terpaku di pelukan tangannya saat tiba-tiba Markus menyerbu bibirnya. Mereka berciuman, begitu saja tanpa pikir panjang.
Bahkan Elle masih tak sadar apa yang terjadi. Bibir Markus masih tertahan di bibirnya. Saking kaget dan tak menduganya botol air mineral di tangannya terjatuh, menggelinding entah ke mana.
Mata Elle terpejam, kepalanya dipangku tangan kekar Markus, tubuhnya membujur di atas paha pria atasan sekaligus kekasihnya itu. Semakin lama semakin sadar, sama dengan ciuman yang semula dingin berubah jadi panas.
Tangan Elle bergerak, jari-jari lentiknya menyisir rambut Markus. Menarik kepalanya lebih dalam, lebih ganas. Sementara ia hanya bisa pasrah sekarang. Terpejam, menikmati lembut bibir Markus yang kini menjelajah bibirnya.
Napas mereka beradu, seiring debar jantungnya yang semakin lama semakin cepat. Elle tak ingin memikirkan apa pun sekarang. Ia hanya ingin mengimbangi apa yang Markus mau.
Sebab baginya, itu bagian terbaik dari menjadi seorang kekasih.
Mengimbangi ciumannya, bergelayut di leher kekar laki-laki yang memangkunya itu. Ciuman-ciuman yang awalnya hanya kecupan kecil semakin liar. Berubah jadi isapan-isapan, pagutan-pagutan liar.
Elle sedikit membuka bibirnya, mengizinkan lidah Markus masuk, bertualang, berkelana dengan lidahnya. Semakin basah semakin panas, hingga keduanya sama-sama membuka mata.
Kehabisan napas, terengah-engah, memburu, dengan mata saling beradu tatapan.
“Sekarang aku baru tahu, ada haus lain yang tak bisa diredakan dengan air mineral,” goda Elle. Pelan-pelan tubuhnya menggeliat. Menurunkan satu kakinya. Niat hati ingin meraih botol mineral yang terlepas dari genggamannya, tubuh Elle justru ditarik Markus lagi.
Membuat gadis itu tertawa sekaligus gemas.
“Kau tak akan bisa kabur dariku gadis cantik,” bisik Markus sembari melingkarkan tangannya di pinggang Elle; gadis yang terpingkal di pangkuannya.
“Ayolah sayang, ini sangat memalukan kalau ada orang datang nanti,” sergah Elle. Masih menggeliat, mencoba meloloskan diri dari tangan kekar yang mengapitnya.
Bukan melonggarkan, Markus justru mengencangkan apitan kedua tangannya. Menahan tubuh Elle di pangkuannya.
“Sudahlah berhentilah melawan gadis kecil,” goda Markus. Merapatkan dagunya di pundak Elle berbisik lembut, mesra di telinga wanita itu. “Apa kau tak kasihan melihat komandanmu yang haus ini?”
Elle akhirnya menyerah, berhenti menggeliat. Melonggarkan tubuhnya bersandar pada d**a Markus yang masih mengenakan seragamnya dengan beberapa pin prestasi menggantung di atas sakunya.
Kepala perempuan itu berputar, menatap wajah Markus yang berada persis di pundak kanannya. Kemudian mendaratkan satu kecupan kecil di pipinya yang ditumbuhi bulu halus itu.
“Sayang, kau sudah memerasku tiga hari yang lalu bukan? Apa itu masih belum cukup?”
Markus menggeleng, tertawa kecil sembari membalas kecupan di pipi Elle. “Belum, jauh dari kata puas. Bahkan kalau boleh aku ingin setiap hari.”
Kini ganti Elle yang terpingkal. Mencubit paha Markus gemas, membuat laki-laki itu memekik kecil. “Nikahi aku sekarang! Kau bisa dapat tiga kali sehari, bahkan lebih kalau kau kuat.”
“Aku? Kuat? Ayolah, kamu kan yang kalah di pertandingan terakhir?” goda Markus sambil terpingkal.
“Ih enak aja!” balas Elle membela diri, tak mau kalah. “Kamu yang kalah duluan tahu.”
“Iya tapi kan dari semua pertandingan kalau dijumlah kamu tetap yang kalah,” sambar Markus lagi.
“Kan curang, mainnya akumulatif.” Elle semakin gemas. Kali ini ganti mencubit hidung Markus. Menariknya hingga laki-laki itu memekik kesakitan, berteriak meminta ampun.
Kesempatan itu digunakan Elle untuk meloloskan dirinya. Sembari tertawa menggoda Markus, memecundanginya. Membenahi kemeja dan blazzer-nya yang dibuat berantakan oleh Markus. Meraih botol air mineral yang tergeletak sembarang di lantai.
Kemudian duduk lagi di sebelah Markus, memberikan air di genggamannya pada laki-laki itu.
“Pak Herlambang jadi ke sini?” telisik Markus sembari menerima botol minuman dari Elle.
Perempuan itu mengangguk, ujung rambutnya bergerak naik turun mengikuti kepalanya. “Jadi, itu semua berkas yang kau mau ada di atas meja.”
Sebentar Markus menatap tumpukan berkas di atas mejanya dari tempatnya duduk. Sebelum meneguk air mineral yang ada di tangannya. “Bagus deh dengan begitu urusan kita dengan laki-laki itu sudah selesai.”
Mata Elle tak bisa lepas dari wajah tampan komandannya satu itu. Bahkan gerakan meneguk air minum itu saja bisa membuatnya menelan ludah. Mengingat betapa beruntungnya ia bisa mendapatkan Markus. Laki-laki yang jelas jadi primadona bagi semua perempuan.
Muda, bertubuh tinggi dan proporsional. Seragam dengan berbagai pin prestasi yang mentereng menggantung di sana. Apalagi wajah dengan rahang besar dan bulu-bulu halus itu, hidung mancungnya dan sorot tajam matanya.
Markus menandaskan tegukan terakhirnya. Habis setengah botol, matahari siang ini terasa jauh lebih terik dari biasanya. Menutup kembali botolnya, meletakkannya di atas meja kaca di depannya.
Saat tiba-tiba Elle mengagetkannya. Tangannya tiba-tiba mendarat di dahinya dengan beberapa lembar tisu. Mengelap bagian itu, mengusir keringat yang tak Markus sadari sudah beranak pinak mengalir dari sana.
“Jadi keringatan gini gara-gara aku,” ucap Elle. Tersenyum penuh perhatian membersihkan semua keringat di wajah Markus.
Namun yang tidak Elle tahu, apa yang dilakukannya justru membawa Markus kembali ingat kejadian tadi sebelum kembali ke kantornya. Benar, kejadian di kios bunga itu. Kejadian yang sama dengan perempuan yang berbeda.
Markus tersenyum hangat, mengusap tangan Elle yang masih ada di pipinya. “Terima kasih, tumben perhatian banget,” goda pria itu yang sebenarnya tengah menyembunyikan rasa kikuknya.
Elle balas tersenyum. Mendorong kepalanya, sekali lagi mengecup lembut pipi Markus. “Siapa yang mau pacarnya sekaligus komandan kesatuannya berpenampilan berantakan.”
Markus menyingkirkan tangan Elle dari wajahnya. Menariknya ke belakang, membuat tubuh gadis itu kembali tertarik jatuh di pelukannya. Elle yang kaget mendongakkan wajahnya. Menyorot wajah Markus yang sudah tentu lebih tinggi dari dirinya.
Hening di antara mereka, dan tatap mata yang kembali bertemu. Tanpa perlu aba-aba, tanpa perlu permisi, Markus menurunkan wajahnya. Hingga bibir mereka bertemu lagi.
Kali ini mereka berciuman dengan jauh lebih lembut, lebih teratur. Sementara bibir mereka bertautan, Elle membenahi posisi duduknya. Merapatkan tubuhnya ke tubuh Markus, mengusap lembut garis wajah pria itu.
“Aku punya tiga berita, dua berita buruk dan satu berita baik. Kau bisa memilih ingin mendengar yang mana dulu,” ucap Elle setelah melepas pagutan bibir Markus, menyudahi ciumannya.
Markus menelisik wajah Elle. Tidak yakin dengan kalimat yang baru saja ia dengar. Seperti firasat buruk, semacam kengerian yang tak bisa digambarkan. Dari tawarannya saja sudah tidak enak di hati. Dua berita buruk dan satu berita baik, adakah yang lebih buruk dari itu?
“Aku terbiasa mengikuti aturan mainmu, El. Jadi kau sudah tahu dari mana memulai cerita dan cerita mana yang akan jadi akhir kan?” Markus menghela napas panjang. Menelan ludah, bersiap dengan semua cerita Elle.
Elle memutar tubuhnya lagi. Kali ini duduk bersandar dengan tenang, menatap kosong tumpukan berkas di atas meja di depannya. “Pak Herlambang, kau tahu laki-laki itu kan? Dia melakukannya lagi.”
Markus mengernyit, dahinya terlipat, dua ujung alisnya bertemu. “Mak ... maksudmu?”
Elle menarik napas panjang, tampak ragu, tapi ia harus menceritakannya. “Ada harga mahal yang perlu dibayar untuk sebuah informasi. Dan seperti katamu, orang seperti Pak Herlambang bukan orang yang gila uang.”
“What ...!! Seriusly?” Markus memekik kaget. “Jangan bilang kali ini lebih parah dari yang sudah-sudah.”
Elle tersenyum kecut. “Sayangnya kau salah,” jawabnya sambil memutar wajahnya menatap Markus. “Aku melakukannya sesuai dengan apa yang kau mau. Dan ya, kau juga tahu bagaimana watak laki-laki itu.”
“Sejauh apa?”
Elle menggeleng, “tidak sampai masuk, tapi aku berhasil membuatnya keluar.”
Markus makin bingung, makin mengerutkan kening. “Dengan tangan lagi?”
Sayangnya lagi-lagi Elle menggeleng. “Aku sudah mencoba merayunya dengan cara itu. Tapi sepertinya ia memang mau mengambil keuntungan sebanyak mungkin dariku. Terpaksa aku harus menurutinya. Ia mendapatkan bibirku.”
“What?? Oh my god! Oh my god! Ini serius, El?” tanya Markus lagi belum puas.
Kali ini baru Elle mengangguk. Tapi dengan wajah yang masih belum berani menatap Markus di sebelahnya. “Sekali lagi kubilang. Ini demi kamu dan Rama.” Dadanya mengembang, seiring tarikan napas panjang mengurai sesak di dalamnya.
“Maaf kalau caraku itu ternyata melukaimu, Kus.” Elle mengangkat kepalanya, berputar, menatap Markus yang masih terheran-heran di sebelahnya.
“Ak ... aku tak tahu harus bilang apa. Tapi yang jelas, kau tak berhak atas kemarahan.” Markus membuka dua lengannya. “Kemarilah, peluk aku.”
Elle tak menyangka Markus akan memaafkannya. Ia sedari tadi sudah membayangkan laki-laki itu akan marah besar padanya. Tapi ternyata, pria satu ini justru semakin membautnya jatuh cinta.
Membuatnya ikut membuka lengan, mendorong tubuhnya, tenggelam dalam pelukan hangat Markus. Tangannya tak henti-henti mengusap pundak Elle. Hingga tanpa disadari matanya sudah basah berkaca-kaca.
“It’s okay, El. Aku nggak akan marah kok. Justru aku yang merasa bersalah karena telah mengorbankanmu,” bisik Markus lembut di depan telinga Elle. Menenangkan hati kekasihnya yang berkecamuk itu.
Hingga dirasa cukup lega, Elle beringsut lagi. Menggeliat, melepaskan lengan Markus dari pinggangnya.
“Kuharap kau siap untuk dua kabar berikutnya, Ndan. Aku akan menceritakan keduanya bersamaan.”
Markus mengangguk, “apa pun itu kita sudah tenggelam dalam permainan, El.”
“Kabar baiknya, aku mendapatkan lokasi di mana Rama berada.” Kalimat pertama Elle membuat Markus antusias. Pipinya mengembang, tak tampak lagi mendung di wajahnya seperti beberapa detik yang lalu. “Kabar buruknya, dia bukan berada di sel tahanan. Melainkan rumah sakit, kamar mayat.”
Bersambung ...