Suasana makin tak menentu. Semua orang terdiam menunggu instruksi dari Markus. Tapi memutuskan keputusan dalam kurun waktu yang singkat juga bukan perkara yang gampang. Apalagi ada di posisi pihak yang tengah kalah. Matahari semakin meninggi. Jalan di depan kampus Universitas Pembangunan semakin meninggi. Siang semakin matang, turut membawa serta udara yang bertiup kian panas. Keringat bercucuran, darah mendidih. Markus dihadapkan oleh pilihan yang benar-benar sulit. Pasukan Agus telah ditipu. Dikelabui Pablo semudah itu. Tidak ada siapa pun di markas Pablo. Bangunan itu kosong, benar-benar kosong. Hanya menyisakan bilik-bilik kayu yang diduga sebelumnya Pablo gunakan untuk ruang kerja mereka. “Bagaimana komandan? Apa yang harus dilakukan delapan puluh orang prajurit yang sudah aku

