Sejak Awal Kuliah.

1793 Kata

“Mak ... maksud bos? Apa perlu saya habisi saja laki-laki itu?” Pablo menatap laki-laki yang duduk di belakang kursinya lewat cermin kecil yang ada di atas kepalanya. Mengerutkan kening, menyipitkan bola matanya, kemudian tertawa. “HAHAHAHA ... HAHAHA ....” Tawa Pablo yang menyeramkan. Matanya yang penuh kepuasan membuat pria di belakangnya bingung. Apa yang sedang direncanakan bosnya? Apa yang akan dilakukan pria dengan puluhan bahkan ratusan anak buahnya ini? Bahkan di pasar ini saja, mata-matanya ada belasan. Mulai dari bandar, pengguna narkoba, sampai preman-preman yang sering memesan senjata darinya. “Tak perlu mengotori tanganmu Rahmad. Kita hanya perlu menambah situasi semakin runyam dan kacau. Maka mereka akan hancur dengan sendirinya.” Pria bernama Rahmad itu hanya menurun

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN