“Jadi, kalian sudah kenal lama?” Kedua ujung alis Markus bertemu. Matanya menyipit, menyorot tajam ke arah gadis di depannya. Mereka bertatapan, hanya sebuah meja lebarnya tidak lebih dari satu meter yang jadi pembatas mereka. “Sejujurnya aku bisa saja berbohong padamu, Mas. Aku bisa saja bilang kalau aku baru kenal dengan Pablo.” Irish membuang wajahnya. Menelan ludah, menarik napas dalam-dalam. “Tapi semakin aku tahan, rasanya juga semakin percuma. Mas tahu kan, Mas Rama lenyap begitu saja tanpa kabar. Aku tak bisa begini terus, Mas. Ini sudah satu bulan lebih sejak aku berkabar dengan pria itu.” Lidah Markus tercekat. Tenggorokannya seakan-akan kering, dadanya tiba-tiba sesak. Ia mengendurkan keningnya. Ia tahu ini semua bukan murni kesalahan Irish. Irish tidak tahu siapa sebenar

