Restoran Mewah.

1902 Kata

Markus tersentak, pertanyaan Irish barusan membuat kedua matanya terbelalak. Bibirnya terkunci, mata dan kepalanya sama-sama kosong. Tidak ada satu kata pun yang melintas di dalam kepalanya. Tidak ada yang bisa ia gunakan untuk menjawab pertanyaan Irish barusan. Jangankan untuk menjawabnya, ingin memasang muka seperti apa pun Markus tidak tahu. Namun yang pasti, pertanyaan itu muncul karena kejadian tadi. Iya benar, karena ciuman yang mereka berdua lakukan di ruang tunggu kos milik Irish. Markus tahu ini salahnya. Markus tahu, ia sebenarnya tidak perlu melakukan ciuman tadi. Tapi sungguh, ia tidak bisa mengendalikannya. Ia hanya mengikuti hasrat yang berdebar-debar melihat betapa cantiknya Irish malam ini. “Ehem ....” Irish berdeham. Meski tidak melihatnya langsung Markus tahu gadi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN