Entah bagaimana, tapi aku benar-benar mengamuk malam itu, selain merutuki diriku sendiri yang tidak sadar saat ditindih seseorang, sekaligus membabi buta menyerang Azriel. Aku meraung dan meratap entah bagaimana tapi Azriel berhasil kabur dari kamarku dengan ketakutan. Kini aku sendiri di dalam kamar, merasakan diriku yang ternoda dan sangat menyesalinya. Aku meradang dan menggugat Tuhan kenapa kemalangan begitu beruntun menimpaku, rasanya saat itu aku hanya ingin Tuhan mencabut nyawaku saja. Dalam keadaan emosi yang tak terbendung, aku merasa frustasi dan tidak berharga sama sekali. Kenyataan bahwa aku telah ternoda meskipun bukan keinginanku, tetap saja, noda adalah noda dan betapa aku sangat menyesalinya. Di sisa malam, untuk pertama kalinya aku tidak bisa tidur seperti biasanya

