Suasana pagi itu memang berbeda. Lebih ramai, lebih meriah. Dan ada satu aroma yang langsung mengisi seluruh rumah—masakan khas hari raya. Takbir sudah berkumandang sejak malam sebelumnya, tapi pagi itu, gema suasana Hari Raya Idul Fitri benar-benar terasa. Di dalam kamar, Nayara bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena tangisan Arka, tapi karena suara aktivitas dari dapur dan ruang tengah. Ia membuka mata perlahan, lalu menoleh ke arah boks kecil di samping tempat tidur. Arka masih tertidur pulas. Nayara tersenyum kecil. “Lebaran pertama kamu,” bisiknya pelan. Ia bangun perlahan, membenarkan hijab yang sudah disiapkan sejak semalam. Gerakannya hati-hati, tidak ingin membangunkan Arka. Di sisi lain, Raka juga mulai terbangun. Ia mengusap wajahnya pelan, lalu menoleh ke arah

