"Argh, b******k!" pekik Alena melempar semua barang yang ada di depannya. "Awas saja kau, Bee. Aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersama Bastian. Aku akan hancurkan kalian berdua sebagaimana kalian menghancurkanku aku." Wanita itu memukul kaca hingga menancap di buku-buku tangannya dan mengeluarkan darah segar. Namun, sepertinya dia tidak peduli dengan darah tersebut. Baginya, bisa meluapkan dan melampiaskan rasa sakit lewat pukulan ini sudah membuat hatinya lega. Anggap saja cermin ini adalah wajah Bee yang ingin dia hancurkan. "Alena!" Segera wanita itu menoleh. Seketika dia mematung melihat siapa yang ada di depannya. "Mommy?" lirih Alena. Ella berjalan ke arah putri sulungnya tersebut. Sudah lebih dari sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Tentunya ada rasa rindu yang mengemb

