Seperti pagi hari biasanya, Delwish bangun pagi hari dan menyiapkan sarapan seperti yang sering ia lakukan sebelum masuk ke Midgard. Delwish menata piring beserta sendoknya di atas meja makan dengan rapi.
Pagi itu, Bangcox dan Yechi belum terbangun. Delwish sengaja tidak membangunkan mereka dulu, karena ia ingin sarapan pagi ini dapat ia siapkan dengan maksimal, dan mereka hanya tinggal memakannya saja.
Delwish telah selesai menyelesaikan persiapan sarapan untuk mereka bertiga. Ia melepaskan apron yang ia gunakan dan pergi ke kamar Bangcox dan Yechi untuk membangunkan mereka.
Tok! Tok! Tok!
"Ayah, Ibu, sarapannya sudah siap," ujar Delwish.
"Iya sayang, tunggu sebentar, ya," ujar Yechi dari dalam.
Suara Yechi terdengar serak seperti orang yang baru saja bangun tidur. Delwish mendengar itu, langsung pergi menuju meja makan untuk menunggu Yechi dan Bangcox.
Mereka sudah berkumpul di atas meja makan. Tidak ada pembicaraan apapun, dan hanya terdengar suara dari sendok dan piring kaca yang saling beradu.
"Ehm." Bangcox berdehem, "Apa kau sudah siap untuk memulai tugasmu, besok, Del?" sambung Bangcox.
Delwish sudah distatuskan sebagai anggota Matildas Intelegencie Familia, dan hari ini ia akan berkumpul beserta para anggota yang baru untuk menerima tempat tugas mereka yang baru dan besok mereka akan berangkat ke path yang mereka dapat.
"Sudah, Yah," jawab Delwish.
"Ayah dengar, kamu mendapatkan dua hasil path. Apa itu benar, Del?" Bangcox memastikan informasi yang ia dengar dari Bangcox, benar adanya.
"Benar."
"Kenapa kau tidak memilih Maple? Ayah harap kamu memilih MIF bukan karena ada Ayah disana, ya, Del," ujar Bangcox.
"Aku memilih MIF karena aku sudah berminat ke sana, Yah. Ayah terlalu pede jika mengira bahwa aku memilih MIF karena Ayah."
Yechi terkekeh mendengar penuturan dari Delwish.
"Kau benar, Ayahmu ini sangat over pede, Del," sahut Yechi.
Yechi dan Delwish hanya menatap satu sama lain dengan menahan tawa mereka, sedangkan Bangcox menundukan kepalanya menahan rasa malu karena ucapannya tadi.
"Del, kamu tidak akan pindah, kan?" tanya Yechi.
Biasanya, anak yang sudah mendapatkan path baru, mereka memutuskan untuk tinggal sendirian dan menjauh dari orang tuanya.
Terlihat raut wajah khawatir serta sedih di wajah Yechi. Delwish sangat tau jika Yechi benar-benar menyayanginya dan khawatir jika terjadi sesuatu padanya.
"Aku akan tetap tinggal disini, Bu," ujar Delwish.
Yechi membuang nafas leganya mendengar jawaban dari Delwish. Delwish benar-benar tidak ada niatan untuk pergi dari rumah itu. Dia merasa nyaman tinggal disana.
Sebenarnya Delwish tau, jika Yechi dan Bangcox bukanlah orang tua kandungnya. Mengingat Delwish menderita amnesia setahun yang lalu dan tidak ada satupun kenangan masa kecil Delwish yang terpajang di rumah itu.
Delwish langsung mengambil kesimpulan bahwa dirinya hanyalah anak angkat dari pasangan itu.
"Jangan tinggalkan Ibu, ya, Del," ujar Yechi.
Yechi meletakkan sendoknya di atas piring dan beralih menggenggam tangan Delwish. Tatapannya penuh harapan pada Delwish.
Delwish menganggukan kepalanya dan tersenyum pada Yechi, "Siap, Bu."
Para anggota baru Matildas Intelegencie Familia tampak berkumpul di sebuah ruangan gelap yang hanya mendapat penerangan dari tampilan layar yang ditampilkan oleh skerm.
Mereka duduk melingkari ruangan itu. Tidak banyak anggota baru yang memilih masuk ke Matildas Intelegencie Familia.
Anggota baru itu sedang menjelaskan prinsip kerja di MIF beserta tempat penugasan mereka. Nantinya, mereka akan dijadikan agen mata-mata yang ditempat di beberapa path. Mereka diwajibkan melaporkan beragam jenis kejadian pada MIF.
Jika, MIF terlambat mengetahui suatu informasi atau didahului oleh Golden, maka anggota yang ditugaskan di path itu akan dipotong gajinya selama satu bulan penuh. Wajar saja jika sedikit yang memilih MIF karena peraturannya yang terbilang sama sekali tidak ringan.
"Baiklah, untuk tugas kalian, akan diundi melalui gulungan kertas ini, kalian hanya tinggal memilih satu kertas dan membaca isinya. Isinya adalah path, tempat kalian ditugaskan. Kalian mengerti?" tanya Shnz.
"Iya, Kak."
"Delwish," panggil Shnz.
Delwish maju ke depan dan mengambil satu gulungan kertas yang diletakkan di atas meja.
"Maple, Kak." Delwish memperlihatkan tulisan pada gulungan kertas yang ia ambil. Ia mendapat tugas di Maple.
"Faxel."
Faxel ikut mengambil gulungan kertas itu, "Maple."
"Wah, sepertinya kalian berjodoh. Sejak di Midgard, aku dengar kalian sudah bersama bahkan tidur di kamar yang sama, bukan?" tanya Shnz.
Faxel dan Delwish menganggukan kepala bersamaan.
"Selanjutnya, Skwangur."
Skwangur maju ke depan dan mengambil satu gulungan kertas.
"Kosong, Kak." Ia memperlihatkan isi kertas yang tidak bertuliskan apapun di sana.
"Itu tandanya, kamu tidak ditugaskan di path manapun dan akan menjadi pekerja autopsi atau bisa dibilang, kamu bekerja di belakang layar," jelas Shnz.
Skwangur tersenyum mendengar jawaban dari Shnz, ia berpikir sejenak, setidaknya ia tidak harus takut bertaruhan nyawa karena menyelinap ke path lain.
"Jimy."
Faxel dan Delwish menatap satu sama lain mendengar nama orang selanjutnya yang dipanggil ke depan.
"Aku baru tau jika Jimy masuk sini." Delwish berbisik pada Faxel.
Raut wajah mereka sama-sama terkejut. Karena, setahu mereka, hasil ujian Jimy menunjukan Golden Entertainment.
"Slade h****n," ujar Jimy.
Shnz mencatat seluruh data path sebagai tempat yang menjadi penugasan mereka.
"Baiklah, kalian akan mulai melakukan penugasan besok. Kalian bisa langsung mengikuti rapat pembukaan mereka dan penyambutan sebagai anggota baru. Kalian harus ingat, jangan sampai ada orang lain yang tau jika kalian adalah seorang MIF, kalian mengerti kan?" ujar Shnz.
"Mengerti," sahut yang lainnya.
*****
Delwish melangkahkan kakinya memasuki Solustima, markas besar path Maple. Ia tidak datang sendirian, melainkan ditemani oleh Faxel. Detak jantungnya berdegup cukup kencang, karena baru pertama kali ia masuk ke sebuah tempat asing dengan kondisi mata-mata.
Delwish menghembuskan nafasnya berulang kali, berusaha menenangkan detak jantungnya yang semakin lama semakin cepat.
"Del, apa kamu baik-baik saja?" tanya Faxel.
Delwish mengangguk dengan cepat, "Tidak usah khawatir, Xel."
"Ayo masuk." Faxel menarik tangan Delwish.
Mereka pergi mencari aula untuk mengikuti pembukaan Maple. Tidak ada yang tau bahwa mereka adalah seorang MIF. Hanya Grey saja yang benar-benar mengetahui, siapa saja mata-mata yang dikirim oleh MIF ke Maple.
"Aku rasa ini ruangannya," ujar Delwish.
Mereka berdiri di depan pintu besar berwarna putih. Di atasnya tertulis dengan besar, aula.
"Ayo."
Faxel membuka pintu itu. Terlihat suasana yang cukup ramai, jauh lebih ramai dibandingkan dengan MIF. Peminat Maple jauh lebih banyak daripada MIF, bahkan hingga 10x lipat dari jumlah anggota baru MIF.
"Ramai sekali," gumam Delwish.
Faxel menepuk-nepuk bahu Delwish, berusaha menenangkannya agar tidak gugup, namun sepertinya, usahanya sia-sia, karena Delwish tetap saja gemetar.
"Hey, mereka tidak ada yang tau siapa kita, dan mereka tidak tau path mana yang kita pilih. Kita adalah anggota baru Maple juga, Del," ujar Faxel.
"Baiklah, aku akan tenang. Aku akan tenang."
Delwish membuang nafas beratnya berulang kali.
"Tapi aku tida bisa tenang!" teriak Delwish.
Seketika, ruang aula yang ramai, langsung sepi karena teriakan Delwish.
Delwish mendekati telinga Faxel, "Apa aku berteriak cukup kencang?" bisik Delwish.
Faxel mendorong bahu Delwish dan mendorong dahinya dengan jari telunjuknya, "Bodoh!"
Delwish membulatkan matanya mendapati kata u*****n dari Faxel.
Grey terlihat memasuki ruang aula. Diikuti dengan beberapa orang, yang sepertinya adalah orang penting di Maple. Delwish memicingkan matanya melihat mereka semua, sama sekali tidak ada yang dikenal olehnya.
"Mohon tenang, karena acara pembukaan akan segera dimulai," ujar Grey.
Delwish dan Faxel langsung mengambil tempat duduk di kursi yang tidak jauh dari pintu. Banyak orang yang memperhatikan setiap gerak-gerik mereka karena Delwish yang sempat berteriak tadi.
"Semua memperhatikanku, Xel," bisik Delwish.
"Itu salahmu, Bodoh!" Faxel menjitak kepala Delwish dengan cukup keras, hingga Delwish memegangi kepalanya kesakitan.
"Sakit," rintih Delwish.
"Masa bodoh!"
Faxel dan Delwish terdiam satu sama lain, dan mulai fokus pada pengumuman yang diberikan oleh Grey.
"Selamat datang di Maple, dan terima kasih sudah memilih Maple sebagai path kalian. Aku harap kalian bisa meneruskan hidup kalian disini. Di Maple terdapat beberapa divisi dan juga peraturan, semuanya bisa kalian baca pada slide yang ditampilkan di layar monitor." Grey menunjuk layar monitor dengan menggunakan pen light.
Di monitor, tertera beberapa peraturan serta divisi yang akan membagi tugas mereka.
"Banyak sekali," gumam Faxel.
"Bodoh!" Delwish menjitak kepala Faxel.
"Aw! Kenapa kau memukulku, huh?"
"Karena kau bodoh." Delwish menjulurkan lidahnya.
Faxel hendak membalas pukulan Delwish, namun terhalang oleh sebuah tangan yang sepertinya menghalangi wajah Delwish agar Faxel tidak melancarkan niat jahatnya.
Faxel mengikuti arah tangan yang menghalangi pukulannya.
"Abeth?"
Delwish langsung membuka matanya dan menolehkan pandangannya ke belakang. Ia mendapati Abeth, Raxo dan Jekurl sedang duduk berjajaran di belakang mereka.
"Wah, Delwish dan Faxel disini juga," ujar Jekurl.
"Pantas saja aku seperti mengenal suara kalian, dan ternyata benar," ujar Abeth.
Faxel dan Delwish menatap satu sama lain. Mereka tidak berpikir sejauh ini, apalagi mengenai bertemu dengan teman lama mereka saat di Midgard.
"Hai," sapa Delwish.
Senyum Delwish sangat canggung, bahkan terlihat kaku seperti yang terpaksa ditarik oleh suatu benang.
"Kenapa kau sangat kaku begitu, Del?" tanya Abeth.
"Ah, abaikan dia. Dia sedang tidak waras," ujar Faxel.
"Ya, benar, aku sedang tidak waras."
"Apa kau mengikuti ucapan Faxel, Del?" tanya Jekurl.
"Tidak," sahut Delwish dan Faxel berbarengan.
"Baiklah, aku rasa kalian gugup karena baru masuk Maple dan ini pertama kalinya kalian memasuki Solustima, bukan?" tanya Abeth.
Mereka menganggukan kepalanya dengan cepat. Keringat dingin terlihat mengalir dengan deras, membasahi dahi mereka.
"Aku pikir kau akan masuk MIF, Del," ujar Jekurl.
Delwish menggelengkan kepalanya, "Aku memilih Maple."
Jekurl menganggukan kepalanya mengerti.
"Aku rasa, kalian harus membalikan badan. Karena ini pengumuman yang penting," ujar Raxo.
Raxo baru saja membuka suaranya, ia sedari tadi hanya diam dan terfokus pada layar monitor tanpa menggubris Delwish dan Faxel yang terlihat kelabakan menjawab pertanyaan dari Abeth dan Jekurl.
Grey memperlihatkan sebuah bagan, itu adalah bagan pemimpin Maple sebelumnya. Sejauh ini, sudah ada empat orang yang menjadi pemimpin di Maple. Mereka akan menjabat sebagai pemimpin hingga akhir hayat mereka.
Pemimpin yang selanjutnya akan dipilih berdasarkan voting dari anggota Maple, dengan mengajukan tiga kandidat utama yang akan dipilih.
"Apa ada yang ingin kalian tanyakan?" tanya Grey.
"Tidak," sahut seluruh anggota baru.
Grey membuka slide selanjutnya. Itu bukan pengumuman mengenai divisi ataupun peraturan yang ada di Maple. Itu adalah daftar orang-orang yang entah bertujuan untuk apa.
"Apa ada nama kalian di sana?" tanya Grey.
Faxel menyikutkan tangannya pada pinggang Delwish, "Del, ada nama kita."
"Itu bukan nama anggota MIF kan?" bisik Delwish.
"Aku rasa bukan. Anggota MIF tidak sebanyak itu, Del," jawab Faxel.
Grey membuka slide selanjutnya dan di sana ada undangan pernikahan, dan tercantum nama Grey serta Dior pada undangan itu.
"Tadi itu adalah daftar nama panitia yang akan ikut serta dalam pengurus pernikahan kedua saya," ujar Grey.
"Apa?!" pekik Abeth.
Abeth sama sekali tidak mengetahui jika Grey akan menikah lagi dengan perempuan bernama Dior, yang baru saja dikenal oleh Grey beberapa bulan yang lalu.
Seluruh tatapan melihat ke arah Abeth yang berteriak cukup kencang, saat mendengar pengumuman dari Grey tadi.
Grey menghela nafasnya dan melihat Abeth dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Untuk panitia pernikahan saya, silahkan ke ruangan saya siang ini, terima kasih." Grey menyudahi ucapannya dan ia langsung pergi meninggalkan aula.
Abeth juga ikut keluar dari aula dari pintu belakang dan berlari menghampiri Grey untuk meminta penjelasan.
"Ayah!" teriak Abeth.
Ingin sekali rasanya Abeth memukul wajah Grey saat ini juga, namun ia masih memiliki sopan santun dan menghargai Grey sebagai Ayahnya.
"Aku tau kau akan meminta penjelasan mengenai pernikahan ini, kan?" tanya Grey.
"Kau benar. Apa kau bodoh? Apa kau sudah tidak mencintai Ibu? Mengapa kau melakukan ini padaku dan Ibuku? Aku tau kau adalah pemimpin Maple dan kau bisa menikah dengan perempuan manapun bahkan hingga ribuan kali. Tapi, setidaknya beritahu kami sebelum melakukan ini." Abeth mengucapkan setiap kata itu seperti air.
Dia benar-benar tidak habis fikir dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Grey.
"Ibumu sudah mengetahui ini," ujar Grey.
"Apa?"
"Aku sudah meminta izin padanya dan dia mengizinkanku untuk menikahi Dior. Aku sengaja tidak memberitahumu lebih dulu, karena aku tau, kau pasti tidak akan mengizinkanku. Pernikahan ini sudah tidak bisa dibatalkan karena, semua persiapannya sudah matang dan akan dilaksanakan pekan depan," jelas Grey.
Abeth menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bibirnya menyunggingkan senyuman mirisnya.
"Kau sudah gila."
"Ya, aku memang sudah gila," jawab Grey.
"Aku membencimu, Yah."
Abeth langsung pergi keluar dari Solustima. Matanya berkaca-kaca, ia berusaha menahan tangis sekuat tenaga, ia tidak ingin merasa lemah hanya karena berita seperti ini.
Yang ia sesalkan adalah, mengapa Kimshin menyetujui pernikahan kedua Grey dan mengapa Abeth sama sekali tidak mengetahui tentang rencana busuk Grey.