[18] Grey Wedding Organizer

2296 Kata
Para anggota baru Maple yang akan mengurusi pernikahan Grey, berdiri di depan ruangan Grey. Mereka berjumlah sekitar lima belas orang. Tidak ada satupun yang berani masuk terlebih dahulu ke dalam ruangannya. Begitu juga dengan Faxel dan Delwish. "Del, masuklah lebih dulu," ujar Faxel. Delwish menggelengkan kepalanya, "Kau saja." Faxel langsung mendorong tubuh Delwish, hingga tangan Delwish memegani gagang pintu Grey, dan terdorong terbuka. Grey menghentikan aktifitasnya yang sedang menandatangani beberapa dokumen yang harus ia periksa, mengenai persiapan pernikahannya. Ia melihat Delwish yang mematung di ambang pintu dengan tatapan kaku menatap Grey. "Masuk saja, Del," ujar Grey. Delwish membenarkan posisi berdirinya dan berusaha berjalan dengan santai, walaupun kakinya masih terlihat gemetar saat berjalan menuju sofa. Di belakang Delwish, sudah ada empat belas orang yang lainnya, ikut berjalan mengendap dan sesekali menoleh ke arah Grey. Menatap Grey dengan tatapan terpesona. Entah mengapa, ketampanan Grey sama sekali tidak berkurang walaupun usianya kian bertambah. "Silahkan duduk," ujar Grey, tanpa menolehkan pandangannya sedikitpun dari kertas-kertas yang sedang diperiksanya. Delwish dan yang lainnya hanya terdiam, menuruti perintah Grey dan mereka sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Bibir mereka seakan terbungkam dengan suasana dingin yang menyelimuti ruangan Grey. Grey bangkit dari duduknya dan memberikan beberapa lembar kertas pada mereka. "Kalian silahkan baca ini, ini adalah beberapa peraturan selama pernikahan saya. Di lembar ke dua, akan ada beberapa orang yang ditugaskan sebagai pengiring pengantin. Dan, di lembar terakhir terdapat berbagai permintaan dan apa saja yang kurang untuk pernikahan saya." Mereka melihat setiap lembar itu serta daftar-daftar barang yang masih dibutuhkan untuk pernikahan Grey dan Dior. "Delwish," panggil Grey. Delwish mendongakan kepalanya, "Ya?" "Tolong minta artis pendatang baru dan profesional untuk menjadi pengisi acara saya, ya," pinta Grey. Delwish menelan ludahnya, berarti ia harus pergi ke Golden Entertainment dan bertemu langsung dengan para artis untuk meminta mereka sebagai pengisi acara pada pernikahan Grey. "Bagaimana caranya?" tanya Delwish. "Aku akan mengirim surel ke Oner dan kau hanya perlu pergi ke Black Forest, untuk langsung memilih orang-orang yang sekiranya bisa mengisi acara pernikahanku." Delwish menganggukan kepalanya mengerti. Ia mengelus dadanya, beruntung karena pekerjaannya tidak terlalu berat dan dia tidak perlu pusing-pusing meminta izin artis dari Golden Entertainment. Artis dari Golden Entertainment memang terkenal memiliki bayaran yang sangat tinggi, bahkan untuk mengisi acara seperti ini, mereka akan meminta bayaran hingga ribuan geld. Wajar saja, jika artis dari Golden Entertainment sangat cepat kaya. Delwish turun dari mobilnya dan berjalan memasuki Black Forest. Ia langsung pergi untuk menemui Oner, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Grey. Delwish menghampiri resepsionis yang berdiri tepat di sebrang pintu masuk gedung itu. "Selamat siang," sapa Aqua. "Aku ingin menemui Oner," jawab Delwish. "Kau Delwish, kan?" "Ya? Dari mana kau tau? Aku bahkan belum memperkenalkan diriku." "Aku Aqua, apa kau ingat?" Delwish menautkan alisnya berusaha mengingat nama Aqua. Namun, pikirannya tidak sampai disitu. Ia sama sekali tidak mengingat siapa perempuan itu, walaupun memang diingatannya, wajah Aqua terlihat tidak begitu asing. Delwish menggelengkan kepalanya. "Ah, aku rasa kau sudah lupa, Del. Kita terakhir bertemu dua tahun yang lalu. Wajar saja jika kau tidak mengingatku," ujar Aqua. "Maaf." "Tidak apa-apa, Del," jawab Aqua. Aqua memberitahu Delwish bahwa Oner sedang di ruangannya dan Delwish bisa menemui Oner saat ini. Delwish langsung naik ke lantai sepuluh dengan menggunakan lift. Setibanya di depan ruangan Oner, Delwish langsung mengetuk pintu. "Silahkan masuk," ujar Oner. Delwish mendengar dengan jelas ucapan Oner dan ia langsung membuka pintu itu dan melihat Oner dengan inrichternya. Ruangan itu diisi dengan inrichter berukuran sangat besar dan menampilkan pendapatan serta daftar artis yang ada di Golden Entertainment. "Silahkan duduk." Oner bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri Delwish yang duduk di sofa. "Bagaimana kabarmu, Del?" tanya Oner. Delwish mengerjapkan matanya berulang kali, "Aku?" tanya Delwish. "Ya, tentu saja kau. Memangnya siapa lagi? Kau tiba-tiba menghilang dan sekarang kita bertemu untuk keperluan pekerjaan. Jadi wajar saja kan jika aku menanyakan kabarmu?" "Maaf, aku rasa kita baru bertemu kali ini." Oner menatap mata Delwish, tidak ada kebohongan dan yang disembunyikan dari Delwish. "Tunggu, kau tidak mengingatku?" tanya Oner. Delwish menggelengkan kepalanya. Oner merapikan jasnya dan melonggarkan ikatan dasinya. "Baiklah, kita langsung saja membahas mengenai siapa saja yang ingin kau jadikan sebagai pengisi acara di pernikahan Grey. Kau bisa memilihnya." Oner menunjuk inrichter berukuran besar yang terpajang di ruangannya. Delwish melihat ke layar inrichter itu dengan seksama. Matanya sama sekali tidak bergeming dan ia memperhatikan setiap kemampuan, lagu, tahun masuk dan penghargaan yang sudah diterima oleh artis-artis di Golden Entertainment. "Tunggu," ujar Delwish. Oner berhenti menggeser informasi pada inrichter itu. "Alice?" gumam Delwish. "Ya, itu anakku, dia masuk Golden Entertainment. Kau sudah mengenalnya, kan?" "Aku mengenalnya tapi aku tidak tau bahwa dia adalah anakmu, Pak," jawab Delwish. Oner sekarang benar-benar kebingungan bahwa Delwish benar-benar tidak mengenali Oner, bahkan ia terlihat terkejut saat mendengar Alice adalah anaknya Oner. "Aku akan memilih Alice, Pak," ujar Delwish. "Alice terletak di satu grup dengan Japey dan Rexsa. Mereka adalah trio, kau mau?" tanya Oner. Delwish menganggukan kepalanya. Ia sudah memutuskan untuk memilih Alice. Selain ia mengenal Alice bahwa Alice memiliki suara yang bagus, ia juga sudah mengenal Alice, Japey serta Rexsa. Jadi tidak akan ribet nantinya. "Baiklah, nanti akan aku beritahu mereka untuk datang ke pernikahan Grey," ujar Oner. Delwish bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya, "Terima kasih, Pak." ***** Aula Solustima tampak penuh dengan hiasan berwarna perak. Langit-langitnya dihiasi dengan lampu kristal yang menyala bagaikan bintang di malam hari. Lantainya sudah ditutupi dengan karpet berwarna merah yang terbentang menutupi setiap sudut ruangan. Seluruh panitia pengurus pernikahan Grey tampak sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Beberapa juru masak ikut sibuk dengan menata makanan yang mereka sajikan dalam jumlah banyak untuk mengisi perut tamu yang hadir di pernikahan Grey. Para tamu belum dipersilahkan masuk, mereka masih harus menunggu identitas mereka terkonfirmasi serta melakukan pengecekan kartu undangan yang mereka bawa. Tanpa kartu undangan, mereka tidak akan dipersilahkan masuk, meskipun mereka adalah kerabat dekat Grey. Setelah menata semuanya, barulah Jekurl menghampiri ruang siaran dan memberi informasi bahwa tamu undangan sudah bisa dipersilahkan masuk. Grey dan Dior segera duduk di kursi mereka dan menunggu ucapan selamat dari para tamu undangan. "Selamat datang," sapa Faxel pada tamu undangan yang hadir. Mereka tampak tersenyum dan bersemangat memasuki aula. Pakaian yang mereka gunakan pun terlihat indah dan anggun. Grey bangkit dari kursinya dan mengajak Dior untuk berkeliling menyapa para tamu undangan yang hadir. "Delwish," panggil Grey. Delwish yang sedang asik menyambut para tamu di kursi masing-masing, segera menghentikan aktifitasnya dan berjalan menghampiri Grey. "Tolong beritahu para chef untuk menambah makanan, aku rasa stok makanan sudah hampir habis," titah Grey. Delwish menganggukan kepalanya dan pergi menuju dapur untuk menyampaikan informasi dari Grey. Tempat makan yang semula terlihat penuh, perlahan terlihat kosong karena isinya telah habis dinikmati oleh para tamu undangan yang hadir dalam pernikahan Grey. Wajar saja, karena Grey mengundang dua ribu orang, pada pesta pernikahan keduanya dengan Dior. Delwish masuk ke sebuah ruangan dengan bertuliskan dapur. Ia membuka pintu itu perlahan dan meloloskan kepalanya untuk melihat ke dalam dapur. "Aneh," gumam Delwish. Delwish membuka pintu dapur semakin lebar dan masuk ke dalamnya. Tidak ada seorang pun disana, sedangkan kompor dan peralatan dapur lainnya masih bergeletakan di atas meja. "Kenapa tidak ada orang?" Ia berjalan memasuki dapur dan menyusuri setiap sudut dapur. Nihil, ia tidak menemukan seorang juru masak disana. "Aw!" pekik Delwish. Delwish hampir saja terjatuh karena tersandung oleh sesuatu yang sangat keras, bahkan menghantam kakinya hingga rasanya begitu sakit. "Apa ini?" Delwish melihat ke bawahnya. Disana, ada sebuah kaki yang terlihat berasal dari bawah meja. Kaki itu terlihat pucat dan masih lengkap dengan mengenakan alas kaki hak tinggi berwarna hitam. Tiba-tiba pikiran Delwish teringat akan cerita Faxel yang menemui mayat Nazla di toilet. Kaki Delwish gemetar bukan main, keringat dingin mengalir membasahi dahinya dan matanya menatap langit-langit ruangan. Tubuhnya seakan kaku dan tidak dapat beranjak dari sana. Brak! Pintu dapur terbuka dengan sedikit kasar, disana, sudah ada Bangcox dengan wajah paniknya menatap Delwish. Ia melihat Delwish secara bergantian dari atas hingga ke bawah. Bangcox berjalan perlahan mendekati Delwish, "Jangan bergerak," titahnya. Ia melihat kaki Delwish yang bersentuhan dengan kaki korban yang berada di bawahnya, Bangcox sengaja meminta Delwish untuk tidak melakukan pergerakan apapun, karena takutnya posisi mayat itu terubah atau Delwish berteriak lebih kencang sehingga terjadi keributan di dapur. Bangcox memegang pinggang Delwish dan mengangkat tubuhnya perlahan hingga sedikit menjauh dari tempat Delwish berdiri tadi. Tubuh Delwish benar-benar gemetar bahkan peluh keringatnya sudah membasahi kerah baju yang ia kenakan. "Tetap tenang dan panggilkan Jjmxn untukku," titah Bangcox. Delwish berjalan perlahan dengan bantuan meja-meja dapur sebagai penyangganya agar tetap berdiri. Jika tidak, mungkin Delwish sudah terduduk di lantai akibat otot kakinya yang melemas. Tidak menunggu waktunya yang lama, Delwish kembali ke dapur diikuti dengan Jjmxn di belakangnya. Wajah panik dan terkejut pun terlihat dengan jelas dari raut wajah Jjmxn. "Apa yang terjadi?" tanya Jjmxn. Bangcox berdiri dari posisi jongkoknya dan berbalik badan menghadap Delwish dan Jjmxn, "Fukas tewas, aku rasa ini adalah ulah Moord," jelas Bangcox. Delwish yang mendengar itu langsung menutup mulutnya yang terbuka karena terkejut dengan kedua tangannya. "Rahasiakan ini dari siapapun. Aku tidak ingin ada keributan apapun selama pesta pernikahan Grey. Aku akan meminta bantuan dari Shnz dan Okep untuk menyelidiki kasus Fukas. Kalian kembali lah ke pesta dan minta pada petugas untuk menutup seluruh akses menuju dapur," titah Bangcox pada Delwish. Delwish hanya menganggukan kepala lalu pergi meninggalkan dapur. Kakinya gemetar bukan main, ia baru saja melihat pemandangan yang sangat tidak mengenakan di depan matanya. Bahkan kulitnya saling bersentuhan dengan mayat tadi. Delwish masuk ke aula dan sebisa mungkin ia mengontrol dirinya agar tidak terlihat kaku, namun usahanya sia-sia saja, karena Faxel dengan mudahnya menebak raut wajah Delwish yang berbeda dari biasanya. "Del, kau tidak apa?" tanya Faxel. Delwish menganggukan kepalanya dengan cepat, "Aku tidak apa-apa, xel." Setelah kejadian tadi malam, seluruh anggota MIF langsung bergerak cepat dan mengadakan rapat dadakan untuk membahas masalah Fukas. Mereka sudah berkumpul di ruangan rapat dengan menampilkan beberapa barang bukti serta menjelaskan suasana saat terjadi pembunuhan. Bangcox menjelaskan satu persatu kemungkinan pembunuh Fukas. Baginya, sangat tidak wajar jika Moord melancarkan aksinya di tempat ramai dan bahkan di acara yang cukup besar seperti tadi malam. "Aku tidak yakin dengan Moord yang dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Fukas," jelas Bangcox. Okep mengangkat tangannya memberi isyarat untuk menyanggah atas pendapat Bangcox tadi. "Ya, silahkan, Okep." "Aku sudah menganalisa bukti yang tergambar di pergelangan tangannya dan aku juga sudah menganalisa sidik jari di sekitar meja besi yang ada di dapur. Namun, hasil yang aku temukan, sidik jari di meja dapur adalah milik Delwish, dan pola yang tergambar di pergelangan tangannya, tidak sama dengan pola yang sebelumnya," jelas Okep. "Apa maksudmu tidak sama?" tanya Bangcox. Okep mengeluarkan skerm dan memperlihatkan foto pergelangan tangan milik Nazla dan Fukas. "Ini adalah foto pergelangan tangan Nazla di sebelah kiri dan kanan Fukas di sebelah kanan. Jika diperhatikan dengan seksama, pisau yang digunakan untuk menyayat tangan Nazla adalah jenis scalpel dengan nomor 11, ukuran yang sangat kecil untuk mengukir sesuatu agar darah yang keluar tidak terlalu banyak, sedangkan pada pergelangan tangan Fukas, terlihat lebih berantakan dengan pola garis lurus yang dibentuk terlihat berantakan dan darahnya mengering di sekitar lantai, tandanya, terjadi pendarahan saat melakukan pembentukan pola di tangan Fukas." Okep menunjuk layar tepat pada pola tangan mereka. Bangox tampak berpikir sejenak dan melihat foto yang ditampilkan oleh Okep. "Kau benar," ujar Delwish. "Pola lingkaran, garis, dan kedalaman luka pada kedua korban berbeda. Jika di kasus pertama Nazla diletakkan di toilet yang jauh dari keramaian, sedangkan Fukas di dapur yang seharusnya tempat kebanyakan orang, kemungkinan besar, pembunuh antara Nazla dan Fukas adalah orang yang berbeda," jelas Delwish. "Jjmxn," panggil Bangcox. Jjmxn buru-buru membuka bukunya dan segera mengeluarkan pena nya untuk menulis perintah yang diberikan oleh Bangcox. "Tolong cari tau daftar pekerja dapur Maple, orang-orang yang terlibat masalah dengan Fukas, serta orang-orang terdekat Fukas," titah Bangcox. "Siap." Delwish keluar menuju Grocery untuk membeli beberapa minuman dingin. Kepalanya bahkan terasa sangat penat. "Kau pintar," ujar Faxel. "Maksudmu?" "Ya, tadi itu kau pintar, Del. Aku saja tidak habis pikir dengan pendapatmu tadi." "Terima kasih," jawab Delwish tersenyum. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di Grocery dengan hanya berjalan kaki dari Markant menuju tempat itu. Delwish dan Faxel langsung mengambil minuman mereka masing-masing lalu membayarnya menuju kasir. "Aku saja yang bayar." Delwish mengambil minuman yang dipegang oleh Faxel. Faxel hanya tersenyum melihat tingkah Delwish, tidak biasanya Delwish akan membayar minumannya seperti saat ini. Anggap saja, Faxel sedang dihinggapi dewi fortuna sehingga ia mendapat minuman gratis dari Delwish. Delwish dan Faxel duduk di salah satu kursi yang ada di Grocery. Grocery sangat luas, bahkan lebih luas dari pada Markant ataupun Solustima. Terdapat ribuan penjual di sana dan segala kebutuhan yang diperlukan lengkap di Grocery. Grocery adalah gedung khusus perbelanjaan yang terdiri dari 13 lantai, setiap lantai diisi penuh dengan para pedagang dan toko-toko yang menyediakan berbagai kebutuhan manusia. "Delwish?" sahut seorang perempuan yang lewat di depan Delwish dan Faxel. Perempuan itu menghentikan langkahnya dan menghampiri Faxel dan juga Delwish. "Sedang apa kau disini? Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Alice. "Baru saja selesai dari rapat yang membuat kepalaku ingin terbelah menjadi dua," jawab Delwish. "Memangnya rapat apa?" tanya Alice. "Kasus pe-" Mulut Faxel segera dibungkam oleh Delwish. Mereka tidak boleh membocorkan identitas sebagai seorang MIF. Bahkan tidak boleh ada yang tau bahwa mereka masuk MIF, termasuk teman dekat mereka, seperti Alice. "Pe?" Alice menaikan alisnya sebelah pertanda bahwa ia tidak mengerti dengan pembicaraan yang Faxel ucapkan. "Pernikahan, maksudnya adalah pernikahan Grey kemarin," jawab Delwish cepat. "Oh." Delwish kini bernafas lega karena Alice sama sekali tidak menaruh kecurigaan pada mereka berdua. "Apa kau sendirian?" tanya Delwish mengalihkan pembicaraan. Alice menganggukan kepalanya, "Oh ya, aku dengar dari ayahku, kau lupa bahwa kau dulu sering bermain ke rumahku dan tidur bersamaku?" "Ah iya, itu memang benar," jawab Delwish. "Apa kau lupa dengan semuanya. Aku juga penasaran, kau kemana satu tahun terakhir? Kau menghilangkan begitu saja, dan saat kita bertemu di Midgard, kau tampak menganggapku seperti orang asing," ujar Alice. Delwish terlihat berdehem dan meminum kembali minumnya. Bagaimana bisa ia tidak tau bahwa saat sebelum memasuki Midgard, bahwa ia dan Alice sudah saling mengenal satu sama lain? Bangcox bahkan tidak pernah bercerita tentang hal ini. Delwish memang menutupi akan amnesianya, dia tidak ingin orang-orang tau tentang amnesia yang dideritanya. Bahkan Faxel sendiri tidak mengetahui jika Delwish adalah penderita amnesia. "Aku akan menceritakannya di inrichter, oke?" ujar Delwish. "Baiklah kalau begitu," ujar Alice. "Aku duluan ya, aku harus membeli beberapa peralatan kosmetik yang sudah habis." Alice melangkahkan kakinya meninggalkan Delwish dan Faxel yang masih terduduk di sana. "Kau berhutang cerita padaku, Del," ujar Faxel lalu ia meneguk minumannya hingga habis, dan melemparnya pada tempat sampah hingga masuk ke dalamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN