Pagi ini, seluruh mahasiswa semester enam sudah berkumpul di kampus. Sesuai yang telah direncanakan sebelumnya, hari ini kita akan berangkat menuju lokasi masing-masing dengan diantar oleh Supervisor yang bertugas. Mereka tampak gembira, wajah-wajah kusut yang dulu sering kulihat, kini seolah-olah menghilang.
Aku melihat Cindy dan yang lainnya sudah berkumpul dengan Pak Haris di tengah-tengah mereka. Aku pun mendekati, bergabung di sebelah Cindy yang tersenyum melihat kedatanganku.
“Kenapa lama sekali?” bisiknya bertanya padaku.
“Salahkan saja mobilnya, kenapa jalannya lama sekali,” jawabku yang membuat Cindy kembali tersenyum.
Kemudian kami kembali fokus mendengar sepatah kata dari Pak Haris. Sekilas mataku melirik Fahmi yang sama sekali tak melihatku. Pak Haris memberikan kami nasihat yang sulit untuk dipahami.
“Bapak tau kalian sempat menolak untuk ditempatkan di sana. Tapi, Bapak ingin kalian sabar dan menerima ini semua demi nilai. Kalian juga harus bisa jaga sikap karena tempat itu bukan daerah yang pernah kalian singgahi.”
Kami tak tahu kemana arah tujuan perkataan Pak Haris. Apa mungkin pria yang berstatus sebagai dosen filsafat ini mengetahui sesuatu tentang desa itu? Yang lainnya mungkin tidak tahu makna dari ucapannya. Entah hanya perasaanku saja atau Pak Haris memang sengaja tidak memberitahukannya.
“Baiklah. Kebetulan mobilnya sudah datang, kalian silakan berangkat terlebih dahulu. Nanti Bapak menyusul di belakang!” suruhnya.
Kami pun menaiki bus kampus yang siap untuk mengantar kami ke sana. Anak lelaki memasukkan koper dan beberapa barang lainnya ke dalam bus. Setelah itu bus beranjak meninggalkan kampus menuju lokasi.
Selama di perjalanan, aku sama sekali tak tertarik untuk bergabung dengan gurauan teman-temanku. Aku memilih tidur sembari menikmati perjalanan ke sana. Butuh waktu sekitar satu jam lewat lima belas menit, kami tiba di kantor Walikota. Ternyata kami tidak langsung ke lokasi dan harus mengikuti pelepasan di kantor Walikota terlebih dahulu dengan dipimpin langsung oleh Bapak Lukman selaku Walikotanya.
Di sana sudah banyak mahasiswa dari kampus lain yang juga melaksanakan KKN. Wajah mereka tampak tidak asing lagi bagiku, karena ada di antara mereka yang satu sekolah saat SMK dulu. Namun, mereka sama sekali tak mengenali diriku.
Kami kemudian diperintahkan untuk berkumpul dan mendengar arahan dari Bapak Walikota. Setelah kurang lebih 45 menit, kami pun dibubarkan dan kembali melanjutkan perjalanan ke lokasi.
Jarak antara kantor Walikota dengan lokasi KKN juga lumayan jauh. Butuh waktu satu jam lewat empat puluh lima menit untuk tiba di sana. Total waktu yang kami butuhkan dari kampus menuju lokasi kurang dari 4 jam.
“Kamu kenapa diam saja?” tanya Cindy menghampiri tempat dudukku.
Aku menggeleng, pertanda baik-baik saja. “Kamu ‘kan tahu, aku nggak bisa berlama-lama di dalam bus.”
Cindy mengangguk paham. “Sebentar lagi kita nyampe, kamu yang kuat ya.”
Tak lama, kami tiba di lokasi. Sepanjang perjalanan ke sana, yang kulihat hanya hamparan sawah dan sungai dengan dikelilingi pohon sawit serta pohon durian. Rumah warga pun tidak padat seperti tempat tinggalku. Jarak antara rumah yang satu ke rumah yang lain sekitar 1 km.
“Akhirnya tiba juga di lokasi.” Madi tersenyum menghirup udara desa yang sejuk.
Hawanya dingin dan suasana yang sangat tenang membuat kita merasa nyaman berada di sana. Berbeda dengan di kota yang tiap hari harus menghirup udara kotor dan mendengar mesin kendaraan yang mengganggu di telinga. Tapi, jangan lupa bahwa dibalik ketenangan desa ini, ternyata menyimpan rahasia yang tidak diketahui oleh orang luar.
“Selamat datang di desa K. Kami sangat senang dan merasa terhormat dengan kedatangan adik-adik semua,” sambut kepala desa dengan ramah.
Kami pun membalas dengan hangat. “Terimakasih sudah mengizinkan kami untuk mengenal desa ini, Pak,” ujar Madi.
Kepala desa itu mengangguk tersenyum dan meminta asistennya untuk mengantar kami ke posko. “Man, antar adik-adik ini sampai ke posko. Nanti saya menyusul!” perintahnya.
Asisten yang bernama Arman itu mengangguk. “Baik, Pak. Mari adik-adik saya antar.”
Kami mengikuti Arman, barang-barang kami biarkan dulu di dalam mobil. Ada yang aneh dengan lokasi posko yang ditunjukkan Arman dikarenakan jauh dari rumah warga dan berada di atas lereng bukit.
“Cin, yakin kita mau KKN di sini?” bisikku pada sahabatku ini.
Cindy juga merasakan keanehan tentang lokasi posko. “Entahlah, aku juga merasa aneh. Kenapa letaknya di lereng bukit.”
“Tapi, kita lihat dulu bagaimana bentuknya. Jika posko yang akan kita tempati tidak sesuai, kita bisa protes nanti,” ujarku yang diikuti anggukan Cindy.
Tak lama setelah itu, kami tiba di posko. Aku dan yang lainnya terkejut melihat sebuah bangunan yang berdiri kokoh dan mewah di lereng bukit ini. Menurut Arman, itu adalah rumah Buk Siti yang sudah lama tak ditempati. Buk Siti beserta keluarganya sudah lama menempati rumah di bawah dekat dengan rumah kepala desa.
“Adik-adik, di sini peralatannya sudah lengkap semua. Jadi kalian tidak perlu membawa barang yang lainnya kecuali barang pribadi,” ucap Arman.
Kami mengangguk paham. Sementara yang lainnya masih takjub dengan rumah mewah ini, aku dan Cindy merasakan ada keanehan dengan lokasinya. Rumah yang dikelilingi pohon sawit, di belakang rumah terdapat beberapa kuburan keramat yang dirawat dengan sangat baik. Selain itu aku bisa merasakan ada sesuatu yang menghuni rumah ini karena mataku tak sengaja menangkap sosok putih yang mengintip di balik gorden jendela.
Aku berusaha untuk membuang pikiran buruk tentang penghuni posko yang akan kami tinggali ini. Namun, sekali lagi makhluk itu muncul dengan bentuk yang berbeda dari yang pertama kulihat tadi.
“Cin, apa kamu lihat ada yang mengintip dari dalam rumah itu?” tanyaku berbisik pelan pada Cindy. Namun, dia hanya menggeleng sembari menatapku penuh tanya.
Aku tahu apa yang ingin ditanyakan Cindy nanti. Hal itu pasti berhubungan dengan para penghuni posko ini. Meski yang lainnya tidak menyadari, tapi aku tahu ada sesuatu di dalam sana.
“Kenapa hanya berdiri di luar, silakan masuk!” perintah sebuah suara yang datang dari arah belakang.
Kami berbalik. Sudah bisa dipastikan bahwa itu kepala desa dengan Supervisor kami—Pak Haris dan seorang wanita tua di sampingnya. Mereka mendekat, Pak Lukman memberikan kunci posko kepada asistennya dan kami pun masuk ke dalam.
Saat di dalam, ketakjuban kami menatap kemegahan rumah yang lama tak ditinggali ini—sirna sudah, dikarenakan kondisi dalam dan luar rumah sangatlah berbeda. Bangunan di dalamnya tetap sama, tapi sangat berantakan. Barang-barang berserakan begitu saja, banyak s****h dan terlihat sangat kotor.
“Jorok,” bisik Cindy, aku mengangguk mengiyakan.