Januari, 2003
Saat tamu undangan masih ramai berdatangan, pengantin wanita memilih berdiam diri di dalam kamar yang telah dihias dengan bunga melati kesukaannya. Sembari memandang foto pre-wedding yang sempat dilakukan di desa dengan pemandangan hamparan sawah yang luas.
Wanita itu menangis tersedu, menggenggam sebuah botol di tangan kanannya. Sedangkan di tangan kiri ada sebilah pisau yang diambilnya dari dapur tadi malam. Pengantin wanita itu merasa dikhianati oleh pria yang kini resmi menjadi suaminya. Impian bahagia dalam rumah tangga telah sirna. Sang suami nyatanya telah memiliki anak dari perempuan yang belum dinikahinya. Hari ini, wanita itu datang, memamerkan bayi yang baru berusia 3 bulan dalam gendongannya.
“Pembohong, manusia licik. Tak punya hati,” teriaknya keras.
Musik pengiring di luar sana mampu menutupi teriakan wanita itu di dalam kamar. Ia juga tak mendengar ketukan di pintu dan namanya dipanggil.
“Nia, buka pintunya, Nak.” Terdengar suara wanita paruh baya tengah memanggil wanita yang bernama Tania itu. Kebetulan musik berhenti, berganti lagu dengan artis lain.
Tania menoleh, dengan mata bengkak ia berjalan ke arah pintu. Saat membuka pintu kamarnya, Tania meminum racun tikus dan menusuk perutnya dengan pisau yang tadi ia bawa.
Semua orang terkejut, terutama ibu Tania yang menjerit histeris melihat anaknya berlumuran darah.
“Tania,” pekiknya keras.
Pengantin pria yang tadi asik berbincang dengan selingkuhannya itu pun menghampiri. Ia terlihat kaget melihat kondisi istrinya yang tak lagi bernyawa. Tania tewas di tempat, di mulutnya keluar busa karena meminum racun tikus.
Ibu Tania memeluk jasad anaknya dengan sangat erat. Tamu yang tadi tengah menikmati hidangan, menghentikan aktifitasnya dan ikut menyaksikan tragedi berdarah itu.
***
Aku terkejut, seseorang menepuk pundakku dari belakang dan membuat kesadaranku kembali. Sudah dipastikan itu adalah Cindy—sahabatku yang paling mengerti dengan keadaan. d**a terasa sesak. Entah kenapa saat menyentuh foto itu seakan aku dibawa pada kejadian beberapa tahun silam. Terlihat nyata, tapi aku masih belum bisa meyakinkan diri bahwa itu tidak asli.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya ketika melihat wajahku berkeringat dan pucat.
Aku hanya menatapnya dengan napas tersengal-sengal seperti orang habis berlari. Tanpa menjawab sedikit pun, aku memilih duduk di kursi meja makan dengan menekuk wajah pada kedua tangan.
“Apa yang kamu lihat?” ulangnya lagi, aku masih tak menjawab. “El, jangan buat aku penasaran!” Cindy menarik satu kursi di sebelah kiri, duduk di samping dengan terus menatap wajahku.
“Aku nggak lihat apa-apa, kok, Cin,” jawabku lemah.
Cindy menggeleng tak percaya, dia bukan gadis yang gampang dibohongi. “Aku tau kamu, El. Nggak perlu kamu berpura-pura seperti ini. Coba kamu ceritakan padaku,” ujar Cindy.
Aku melirik Cindy sebentar, kemudian kembali menatap foto pernikahan yang kain penutupnya sudah terbuka. Cindy mengikuti arah pandangku, dengan kening mengkerut ia berjalan ke tempat foto itu dipajang.
“Ini foto pernikahan siapa? Kenapa bisa ada di posko kita?” tanya Cindy yang berbalik menatapku.
Aku berdiri, menyusul Cindy yang masih berdiri di sana, memperhatikan foto pasangan pengantin yang tampak bahagia. Seketika angin yang begitu dingin menerpa kulitku yang masih tertutup almamater. Dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang, aku dan Cindy saling menatap, berusaha berpikiran positif.
***
“Sarah, Laras... kalian di mana?” teriakannya menggema di seluruh penjuru hutan.
Tak ada satu pun yang mendengar, hanya ada beberapa suara binatang buas yang terdengar menggema. Wanita itu menangis ketakutan, memeluk kedua lututnya dan duduk di salah satu pohon beringin besar.
“Vanka...,”
“Tidakkkk...,” gadis itu menutup kedua telinganya, saat mendengar sebuah suara memanggil namanya.
Gadis bernama Vanka itu semakin gemetar, tanpa sengaja ia melihat sebuah bayangan putih bergelantungan tepat di atas kepalanya. Ia menegakkan kepalanya perlahan, memberanikan diri untuk memastikan bahwa bayangan itu hanya ilusinya saja.
Mata Vanka terbelalak, tubuhnya terasa beku, lidahnya juga kelu saat ilusinya menjadi nyata. Bayangan putih yang tadi dilihatnya itu perlahan turun, kukunya yang panjang berusaha untuk memasuki otak Vanka. Gadis itu pasrah, menerima hidupnya yang akan berakhir malam ini.
“Aaaaaaaa...,”
Malam yang hening, di tengah hutan hanya terdengar suara gadis itu. Tak ada yang tau apa yang terjadi padanya.
***
Aku membuka mata lebar-lebar, mulut menganga terbuka sempurna. Mataku menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Sayup-sayup terdengar suara memanggil nama, membuatku tersentak dari lamunan.
“Aku lagi ada di mana?” tanyaku bingung, orang-orang yang ada di sekitar juga saling pandang.
Aku edarkan pandangan ke sekeliling. Kening ini mengkerut saat melihat teman-teman sekaligus kepala desa dan pemilik posko juga ada di sekitar. Keringat masih terlihat bercucuran, aku seperti habis lari maraton lima kilo.
“El, kamu nggak apa-apa?” tanya Cindy yang duduk di sebelahku.
Aku menatap Cindy lama, seperti orang kebingungan. “Aku kenapa, Cin?” tanyaku balik.
Kepala desa, pemilik posko dan teman-teman yang lain bernapas lega, melihat aku yang akhirnya sudah sadarkan diri. Mereka beranjak dari kamar, menuju ruang tengah.
Setelah yang lainnya keluar, meninggalkan kami berdua, aku dan Cindy. Setelah itu, Cindy yang penasaran pun menoleh padaku.
“Jadi, apa yang kamu lihat?” tanyanya pelan, ingin tahu dengan apa yang muncul dalam penglihatanku itu.
“Aku?” tanyaku mengkerutkan kening, tak mengerti dengan pertanyaan Cindy.
“Iya, tadi sore kamu pingsan setelah melihat foto itu. Kami semua takut jika sesuatu terjadi padamu. Terlebih lagi, foto itu tertutup sendiri saat angin dingin yang datang tiba-tiba,” jelas Cindy. Aku berusaha untuk mengingat kembali, pada apa yang sebenarnya terjadi padaku.
Kenapa penglihatan yang muncul seperti nyata dan membuat napasku menjadi tidak beraturan. Aku tahu terlalu banyak pikiran pun kita akan mudah dipengaruhi. Tapi, ini bukan pengaruh biasa. Seolah-olah penghuni rumah yang akan kami tempati ini berusaha untuk memberitahuku yang sebenarnya.
“Aku nggak tau, Cin? Entah itu nyata atau tidak, tapi aku melihat seorang gadis yang duduk sendirian di tengah hutan. Menangis ketakutan sembari memeluk kedua lututnya,” jawabku menceritakan semua yang aku alami sebelum kembali sadar.
Cindy menatap horor padaku, ia mengidikkan bahu takut. Aku bisa merasakan ketakutan sahabatku itu. Dia berhak untuk takut, karena kami belum cukup sehari di rumah itu.
“Nggak usah takut, kita ‘kan nggak ganggu mereka,” ujarku menenangkan. Cindy menatapku sendu.
“Tapi, tetap saja, El. Posko ini ada penghuninya.” Cindy melirik setiap sudut kamar, tangannya memeluk tubuhnya sendiri.
“Memang ada penghuninya, kok.”
“Serius? Kamu bisa lihat?” tanyanya dengan keringat yang mengalir di dahi. Aku bisa melihatnya.
“Iya, masa orang segede kamu aku nggak bisa lihat,” jawabku tersenyum, hanya menjailinya saja. Cindy menatapku kesal.
“Apaan, sih, lo. Nggak lucu tau, El,” cemberutnya.
Kurentangkan tangan dibahu, hendak memeluk sahabatku itu. Ia tetap saja tak mau menoleh. Hingga senyumku memudar saat melihat wanita yang ada di dalam foto itu berdiri tepat di hadapan Cindy. Cindy nggak bisa lihat, tapi aku bisa.
“Pergi!” teriakku yang membuat Cindy terkejut serta orang-orang yang ada di ruangan tengah menghampiri kami. Pandanganku kembali menghitam, aku tak tahu ada di mana sekarang. Semuanya gelap dan terasa mencekam.