Wanita Berbaju Pengantin

1067 Kata
Pukul tiga dini hari, aku terbangun. Tenggorokan terasa kering sekali. Entah kenapa, terasa seperti habis olahraga yang membuatku kehausan. Aku melirik Cindy yang tertidur sangat lelap di samping. Tadinya berniat membangunkannya untuk menemaniku ke dapur. Namun, aku urungkan kembali. Dia pasti sangat lelah. Kuhempaskan selimut yang menutupi tubuh, kemudian berjalan menuju pintu kamar. Perlahan, aku membuka pintu itu, melirik keluar dan memperhatikan dengan saksama. Setelah dirasa aman dan aku tak melihat perempuan itu lagi, baru lah kaki ini melangkah menuju dapur. Malam yang dingin semakin jelas terasa. Terlebih lagi hawa di dapur yang memang sejak awal kedatanganku ke sini sudah tidak enak dirasa. Firasatku yang mengatakan tentang penghuni rumah ini semakin kuat. Tapi, aku berusaha untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Dengan segera aku membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral yang sengaja diletakkan Cindy di dalam sana. “Semakin lama aku di sini, hawanya semakin tidak enak. Aku merasa tidak nyaman berada di tempat ini. Apa mungkin karena foto itu?” gumamku sendiri, menatap foto yang masih berada di dinding itu dengan ditutupi kain hitam. Aku mendekati foto itu, botol air mineral masih kugenggam di tangan. Entah kenapa, tubuhku terasa tertarik sangat kuat, memintaku untuk segera membukanya kembali. Namun, saat aku sudah berdiri tepat di depan foto itu, sebuah suara tiba-tiba memanggilku dari belakang. “El...,” Dengan cepat aku berbalik, di belakang sudah berdiri seorang gadis yang mengenakan gaun pengantin. Aku pernah melihatnya, tapi di mana? mata perempuan itu terlihat sendu, seperti ada sesuatu yang ingin dia katakan. “Kamu siapa? Kenapa bisa tahu namaku?” meski tubuh sedikit gemetar, aku tetap memberanikan diri untuk bertanya. Bukan aku tak tau siapa dia, tapi aku nggak bisa menghindar karena dia berdiri tepat di pintu itu, menghalangiku untuk lari ke kamar. “Jangan buka foto itu jika kamu nggak mau bernasib sama denganku,” ujarnya. “Maksudnya? aku nggak mengerti dengan apa yang kamu katakan.” Wanita itu diam, dia hanya mengembangkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Bukan senyuman indah yang terukir di sana, tapi senyumannya itu membuat tubuhku merinding. “Jangan tersenyum! Kamu membuatku takut,” ujarku sembari mengelus kedua lengan tangan yang terasa meremang. “Kamu mau aku perlihatkan sesuatu?” tanyanya. Aku menggeleng dengan cepat. “Tidak! Nggak usah. Aku mau tidur, masih ngantuk,” jawabku yang hendak beranjak dari sana. “Jangan pergi, temani aku sebentar!” pintanya. Tak tahu harus bagaimana lagi, seluruh persendian tulang kaki terasa kaki. Meski aku menolak, tapi beranjak dari sana pun tak bisa. Melawan sesuatu yang mistis seperti itu sangat mustahil. “Tolong jangan ganggu aku. Aku dan yang lainnya hanya melaksanakan tugas di sini. Kami tidak bermaksud untuk mengganggu,” terangku panjang lebar, berharap dia paham dan mengerti. “Aku bukan bermaksud untuk membuat kalian takut. Hanya saja, aku ingin menjaga kalian semua di sini supaya dia tidak membawa kalian ke tempat di mana aku berakhir seperti ini,” ucapnya. “Maksud kamu?” tanyaku tak mengerti. Dia berjalan ke arah meja makan. Bukan, kakinya sama sekali tidak menapak. Mungkin karena tertutup oleh gaunnya yang panjang. “Namaku Vanka, mahasiswa KKN sepuluh tahun yang lalu.” Tubuhku melemah, mataku membulat sempurna. Nama itu pernah kudengar dalam mimpi. Tidak, melainkan aku melihatnya sendiri bagaimana mengalami kematian yang tragis. “Va... Vanka?” lirihku. Aku tak percaya mendengarnya, dia yang saat itu berteriak memanggil temannya, malah berakhir di hutan belantara sendirian. “Aku tau kamu bisa melihatku dan juga bisa melihat masa laluku. Karena itu aku mengikutimu sampai ke sini.” “Itu tidak mungkin, kamu tidak nyata. Aku pasti sedang bermimpi sekarang,” gelengku lagi. “Hanya kamu, El, yang bisa menyelamatkan temanmu dari tempat ini,” lanjutnya. “Dia tidak akan membiarkan kalian keluar dari sini jika salah satu dari kalian berbuat menyimpang,” ujarnya sembari melirik pada foto itu. Aku semakin nggak mengerti, kenapa dia berkata seperti itu. Apa mungkin wanita di dalam foto itu ingin membalas dendam? Tapi kenapa harus kami yang jadi korbannya? “Maksud kamu apa, Vanka? Kenapa berkata seperti itu?” tanyaku tak mengerti. Bukannya menjawab, Vanka malah melotot ke belakangku. Aku pun seketika merinding dibuatnya. Perlahan aku berbalik saat merasakan sesuatu di belakang sana. Dan, benar saja, wanita di foto itu berdiri dengan wajah melotot. “Aaaaaaaaa...,” pandangan kembali gelap, aku tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. *** “Cin, kamu ngapain di sini?” tanyaku saat melihat Cindy duduk dengan wajah cemas di sampingku. Gadis itu tampak menghela napas lega, aku semakin bingung dibuatnya. Dari raut wajah Cindy jelas terlihat ketakutan di sana, dia tidak biasanya seperti ini. Apa lagi mencemaskan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu. “Kalau kamu mau sesuatu, tolong bangunkan aku. Jika sesuatu terjadi padamu, kita semua akan kena imbasnya, El,” ujarnya panik. Aku mengerutkan kening, menatap Cindy dengan seribu pertanyaan yang tersimpan dbenak. Mungkin aku sendiri yang lupa, atau Cindy dan yang lainnya melihatku berbicara sendiri tadi malam. Tapi, kejadian tadi malam itu hanya mimpi yang kebetulan terlihat nyata. “Cin, bisa kamu jelaskan padaku apa yang telah terjadi? Kenapa wajahmu seperti itu, seolah-olah aku baru saja mengalami sesuatu yang buruk,” desakku meminta penjelasan pada sahabatku itu. “Kamu beneran nggak ingat apa yang telah kamu lakukan tadi malam?” Cindy balik bertanya. Aku menggeleng dengan cepat. “Nggak, memangnya apa yang aku lakukan?” Cindy melirik sebentar ke arah pintu kamar, aku mengikuti arah pandang matanya. Setelah itu Cindy mendekat dan berbisik padaku. “Tadi subuh Fahmi menemukanmu pingsan di dapur. Kemudian dia membangunkanku dan langsung membawamu masuk ke kamar,” ujarnya. Aku terkejut bukan main. “Serius?” “Iya, serius. Wajah Fahmi juga terlihat panik tadi, mungkin dia takut terjadi sesuatu padamu.” “Tapi, kenapa aku bisa ada di sana?” tanyaku memastikan. Sungguh, aku tak mengingat apa pun, apa lagi kejadian tadi malam. “Aku boleh ngomong sesuatu nggak?” tanya Cindy ragu-ragu. “Mau ngomong apa? Kenapa harus minta izin dulu padaku.” “El, tadi malam kamu bicara sama siapa?” Apa yang dikatakan Cindy sebenarnya? Kenapa dia malah bertanya seperti itu. Padahal aku hanya tidur di sebelahnya dan saat bangun pagi-pagi dia sudah berada di sampingku. Lantas, mengapa dia menanyakan seolah-olah aku bertemu seseorang tadi malam? "Maksud kamu apa? Memangnya kamu melihatku berbicara dengan siapa?" tanyaku balik, Cindy terdiam beberapa saat. "Cin," panggilku membuat dia tersentak. "Iya, tadi kamu bilang apa, El?" tanyanya, kini giliran aku yang tak mengerti dengan sikap Cindy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN