Pagi ini, kami diminta oleh ketua kelompok untuk melakukan perkenalan ke rumah-rumah warga, agar mereka tidak terkejut dengan kedatangan kami ke desanya. Itu merupakan kegiatan kami yang pertama, Cindy bilang tadi malam mereka telah mendiskusikannya bersama-sama. Tapi, kenapa aku tidak mengetahuinya?
Madi yang bertindak sebagai ketua kami itu pun menatapku tanpa mengedipkan matanya sedikit pun, membuatku merasa salah tingkah dibuatnya.
“Madi kenapa melihatku seperti itu?” bisikku pada Cindy, dia pasti tau arti tatapan dari Madi.
“Kita semua khawatir sama kamu, terlebih Madi dan Fahmi. Kedua pria itu nggak mau pergi dari sisimu saat Fahmi mengangkat dan memindahkanmu ke kasur. Madi sangat ketakutan, sedangkan Fahmi terlihat biasa saja. Mungkin mantanmu itu sudah paham dengan kejadian yang kamu alami,” balas Cindy yang nggak kalah berbisik.
Aku hanya mengangguk saja mendengarkan cerita dari Cindy. Malas untuk mengelak, karena semua yang dkatakan oleh sahabatku itu benar. Akunya saja yang nggak mengerti dan mengingat semuanya dan hanya menganggap itu sebagai mimpi.
“Sesuai kesepakatan kita tadi malam, pagi ini kita harus menjalankan proker yang pertama. Mengingat kedatangan kita semua di sini akan menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat. Dan kamu El, sebaiknya kamu tinggal di posko saja, karena kondisimu masih belum stabil.”
“Maksudnya?” tanyaku langsung. Bagaimana Madi bisa berkata seperti itu setelah melihat fisikku baik-baik saja.
“Tadi malam kamu pingsan, dan itu bukan pertama kalinya sejak kedatangan kita. Aku takut nanti jika kamu ikut, kondisimu semakin lemah,” ujar Madi.
Aku baik-baik saja, dan aku tidak sakit. Mungkin itu karena efek mimpi tadi malam. Madi terlalu berlebihan, padahal aku tidak kenapa-napa. Mataku tak sengaja melirik Fahmi, dia terlihat tidak suka dengan perhatian yang diberikan oleh Madi. Baguslah kalau begitu, itu artinya dia masih ada rasa untukku yang sengaja dia simpan untuk kembali diberikan saat kami selesai KKN.
“Madi, aku nggak kenapa-napa. Lagian, apa yang akan aku lakukan jika tinggal sendirian di sini? Yang ada nantinya kondisiku bertambah parah karena takut pada penghuni di sini.”
“Positif thinking, El. Di sini itu nggak ada apa-apa, asalkan kita bisa menjaga sikap,” sanggah Madi lagi, aku kesal dibuatnya. Tega banget dia memintaku untuk tinggal sendirian, sementara mereka semua pergi.
“Udahlah, biarkan dia ikut. Kalau terjadi sesuatu sama dia, apa kamu mau tanggung jawab?” timpal Fahmi. Bibirku terangkat sedikit membentuk senyuman. Fahmi pasti takut kalau aku sampai sakit.
“Iya, yang dikatakan Fahmi itu benar, Di. Elzahra ngggak boleh tinggal sendiri, kita ‘kan tau dia bisa melihat hal-hal gaib, jadi mustahil rasanya meninggalkan dia sendiri.” Cindy menyetujui ucapan Fahmi, tapi aku malah menatapnya tajam. Apaan coba? Dia berkata seperti itu, yang ada Fahmi semakin ilfill padaku.
“Baiklah, kalau begitu kita mulai bergerak. Lebih cepat lebih baik, agar kita bisa kembal membersihkan posko ini.
***
Udara segar pedesaan mampu membuatku terpana. Sudah lama aku tidak menikmati udara asli tanpa campuran asap kendaraan seperti di kota. Pemandangan di sini juga indah, hamparan sawah yang membentang luas dan gunung yang terlihat d kejauhan. Kicauan burung saling sahut-menyahut juga menambah semangat kami d pagi ini.
Cindy diam-diam memotretku yang tengah tersenyum. Meski aku sadar dia melakukan hal itu, tidak membuatku berniat untuk melarangnya. Justru itu menguntungkan bagiku, tanpa repot-repot memintanya untuk mengambil gambarku.
Tanpa di sadari, kami tiba di rumah pertama. Kami sengaja berjalan kaki, agar bisa melihat-lihat seluruh desa. Rumah pertama yang kami jumpai ternyata sudah tidak berpenghuni. Begitulah yang dikatakan oleh warga yang melintas untuk melakukan aktivtasnya.
“Rumah sebagus ini kenapa dibiarkan kosong?” celoteh Cindy yang matanya tak lepas menatap langit-langit rumah yang banyak sarang laba-labanya.
“Mungkin mereka merantau, dan jarang pulang kampung, makanya rumah yang ditinggal itu akan terlihat seperti ini.”
Aku dan Cindy tak menghiraukan perihal rumah kosong itu, sekarang kami kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah kedua. Jaraknya tidaklah terlalu dekat, sedikit jauh dan rumah kedua itu berada di tengah-tengah hutan. Ada beberapa rumah di sini dan hutannya tidak terlihat menakutkan. Tidak banyak ilalang, hanya pohon sawit yang tertanam di sini.
“Sangat asri, tapi juga seram,” lanjut Cindy. Aku pikir dia berhenti bicara dan sibuk mengabadikan momen, ternyata dugaanku salah.
“Seram gimana? Ini terlihat indah dan sejuk, pasti warganya betah tinggal di sini,” timpalku.
“Memangnya kamu tidak bisa merasakan sesuatu, gitu? Kok aku merasa ada yang aneh ya di sini.”
“Memangnya apa yang kamu rasakan? Aku hanya melihat aktivitas warga yang bertani, tidak ada yang aneh.”
“Sesuatu seperti...,” Cindy menghentikan ucapannya saat aku menatap Cindy dengan tajam sembari menggelengkan kepala, memberikan isyarat agar dia tidak mengatakan sesuatu yang aneh.
Cindy pun mengerti, dia memang sahabat paling mengerti dan bisa membaca pikiranku. Dia pun memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya, dia tampak berdoa dalam hati meski aku tidak tau apa isi doanya itu.
“Cin, lain kali kamu harus lebih peka lagi. Jika aku tidak mengatakan apa pun, bukan berarti aku tidak bisa merasakannya,” bisikku pada Cindy, dia mengangguk.
“Ayo kita lanjutkan,” ajakku lagi.
***
Matahari hampir berada di atas kepala saat Cindy melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah menuju jam setengah dua belas. Pantas saja aku mulai gerah.
Kami sudah berkeliling desa hingga kembali ke jalan menuju posko. Cindy memilih untuk istirahat terlebih dahulu, ia mengipas-ngipaskan tangannya agar keringat yang mengucur ke dahi itu segera hilang.
“Istirahat dulu lah, beli air atau apa gitu? Masa dari pagi tadi kita jalan dengan perut kosong, lapar tau,” rengeknya.
Teman-teman yang lain mengangguk setuju. Memang sih, dari pagi tadi kami belum makan apa pun, hal itu dikarenakan tidak ada makanan apa pun di posko karena belum sempat untuk memasak.
“Di depan sana kayaknya ada yang menjual makanan, sebaiknya kita ke sana aja,” tunjuk Uky, kami mengikuti arah telunjuknya dan langsung mengangguk setuju dengan wajah lemas.
Tanpa pikir panjang lagi, kami bergegas menuju warung itu. Tapi, setibanya di sana aku dan yang lainnya terkejut saat kami tak lagi melihat warung itu. Padahal, tadi dengan jelas kami melihatnya, tapi kenapa sekarang tiba-tiba menghilang tanpa jejak?
"Ke mana perginya warung tadi ya? Apa aku cuma mimpi karena kelaparan kali ya?" Yaya bersuara dengan serak. Wanita gembul itu memang memiliki suara serak-serak basah.
"Iya ya, tadi perasaan di sini deh. Kenapa jadi menghilang begini? Fatin ikut menimpali.
Aku dan Cindy hanya terdiam tanpa bersuara. Terutama diriku yang bisa melihat warung itu dengan jelas. Aku terpaku karena itu bukan milik manusia biasa, pantas saja teman-temanku tidak bisa melihatnya.
"Sebaiknya kita kembali ke posko, di sini sangat ramai sekali," ujarku. Mereka menatapku dengan tajam.