Remaja Mesjid

1208 Kata
Kami pulang ke posko dengan perut kosong. Harapan untuk bisa makan harus sirna karena efek mata yang lelah. Teman-teman yang lain sama sekali tidak mempermasalahkan soal warung yang tiba-tiba menghilang. Mereka berpikir itu hanya halusinasi karena dalam keadaan lapar. Tapi, aku sama sekali tidak menghiraukan ocehan mereka. Yang menjadi pikiranku saat ini justru pada warung tersebut. Terlihat nyata, tetapi ketika mendekat malah nggak ada. “Sebaiknya kita makan cemilan aja untuk mengisi perut yang keroncongan. Aku dan Mira akan keluar untuk membeli nasi bungkus,” ujar Madi, mereka mengangguk setuju. Sementara Madi dan Mira keluar membeli nasi, temanku yang lainnya memilih untuk membersihkan posko kembali. Sedangkan aku langsung masuk kamar dengan pikiran yang tidak menentu. “Aku nggak salah liat, tempat itu memang sangat ramai sekali tadi. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi pada tempat ini? kenapa semuanya terlihat nyata dan teman-temanku malah nggak bisa melihatnya?” batinku bertanya sendirian. Aku duduk merenung di atas kasur yang tidak memiliki tempat tidur. Hanya beralaskan karpet tebal untuk mengurangi dinginnya lantai keramik. Di sana diriku tengah ketakutan sembari memeluk kedua lutut yang masih gemetar. Perut yang tadinya lapar, seketika hilang dan berganti dengan ketakutan yang menguasai. “Kamu kenapa?” Aku tersentak ketika mendengar suara seseorang yang berdiri tepat di hadapanku. Perlahan, kepala ini mendongak, memastikan bahwa yang baru saja menyapa adalah salah satu temanku. “Kamu...,” ujarku tak percaya. Mata tak lepas dari wajahnya yang semakin hari terlihat tampan. Aku bahkan merasakan kembali detak jantung yang kuat seperti saat pertama kali bertemu dengannya. Dia yang waktu itu tersenyum manis di sampingku, membuat mata ini tak pernah bisa lepas darinya. “Ngapain kamu di sini, Mi?” tanyaku pada Fahmi, pria yang saa ini berdiri di hadapanku. “Justru aku yang bertanya seperti itu padamu, El. Ngapain kamu sendirian di sini? Kenapa nggak bergabung dengan yang lainnya?” Pertanyaan Fahmi tak bisa kujawab, mulutku lebih memilih untuk diam tanpa harus menjelaskan pada Fahmi. Bukan sebenarnya aku tak bisa menjawab, tapi apa yang akan katakan padanya? Fahmi akan marah jika aku mengatakan tentang warung yang hilang itu. “Aku lagi nggak enak badan, Mi. Biarkan aku istirahat sebentar, nanti Cindy dan aku akan membantu teman yang lain untuk memasak,” elakku sedikit berbohong. “Apa kamu sudah minum obat? Kamu sudah makan belum?” tanya Fahmi, ia terlihat sedikit khawatir. Aku bisa merasakan perhatiannya melalui ucapan dan raut wajahnya. “Nanti saja, Mi. Aku mau tidur sebentar.” “Tunggu di sini, aku ambilkan obat demam di kamar.” “Fahmi, tunggu.” Dia langsung keluar dari kamarku tanpa mendengarkan panggilan dariku. Masih sama seperti dulu. Perhatiannya dan juga kasih sayang Fahmi untukku masih terasa. Hati ini merasa lega dan bibir tak berhenti untuk tersenyum. *** Malam ini, setelah melaksanakan shalat Magrib di posko, kami dijemput oleh beberapa orang remaja mesjid untuk melakukan perkenalan dengan masyarakat dan perangkat desa di mesjid yang lumayan jauh dari sana. Masing-masing kami diboncengi oleh mereka yang memang sengaja datang ke posko. Mereka sangat baik dan juga ramah. Terlebih lagi Yandi, anak pria yang memboncengiku ini tak berhenti berbicara. Aku bersyukur bisa kenal dengannya yang masih duduk di bangku SMK. Selain baik, Yandi juga lucu, aku tertawa terus dibuatnya. Tanpa terasa, kami tiba di Mesjid Al-Falah. Di sana sangat ramai dengan ibuk-ibuk dan warga sekitar yang melaksanakan shalat berjamaah. Tak terkecuali kepala desa, ibuk posko dan juga Pak Haris selaku supervisor kami juga turut hadir. Aku seketika terdiam. Di desa terpencil yang jarak rumah warganya sangat berjauhan ini, ternyata mereka tetap meramaikan rumah Allah tanpa membiarkannya kosong. Suasana seperti itu sangat jarang ditemui di kota. Meski sangat ramai, tapi masyarakatnya lebih memilih untuk meramaikan bioskop dan tempat nongkrong lainnya dibandingkan datang ke mesjid. Aku bisa merasakan begitu kompaknya masyarakat di sana. “Kak, kita masuk, yuk,” ajak Yandi membuyarkan lamunan. “Nanti setelah shalat Isya, kita akan mulai silaturrahmi dengan warga.” Aku mengangguk. “Iya, mari masuk.” “Kak,” panggil Yandi yang berhasil menghentikan langkahku. “Iya, kenapa, Yan?” Dia mendekat dengan raut wajah serius. Yandi menatapku lama, membuatku berpikiran buruk tentangnya. “Apa Kakak bisa melihatnya?” tanya Yandi yang semakin tidak aku mengerti. “Siapa?” “Wanita itu, Thania dan Vanka.” Aku terkejut, apa Yandi juga bisa melihat mereka? Kenapa dia bertanya seperti itu padaku? Apa jangan-jangan dari awal bocah itu tahu dengan kelemahanku, makanya saat di posko tadi dia langsung memintaku untuk naik ke motornya. *** Sepulang dari Mesjid Al-Falah, pikiranku masih berkecamuk. Memikirkan pertanyaan Yandi yang sama sekali tidak kumengerti. Seribu pertanyaan terlintas dibenak, ingin rasanya malam ini aku meminta penjelasan darinya. Namun, urung kulakukan karena mengingat anggota remaja mesjid yang lainnya termasuk Yandi berkumpul di posko. Uky, Madi dan Fahmi bergabung dengan remaja pria di ruang depan untuk berbincang, sedangkan kami yang perempuan juga berkumpul bersama remaja wanita di ruang tengah di samping dapur. Mereka mengobrol dengan sangat akrab, seperti sudah lama kenal. Aku sama sekali tidak berminat, pertanyaan Yandi tadi harus kutemukan jawabannya sendiri. Bergegas, aku bangkit. Meski Cindy sudah mencegah agar aku tidak meninggalkan obrolan. Namun, aku tetap berjalan ke arah depan dan langsung menemui Yandi. “Yan, bisa ikut Kakak sebentar?” ujarku tanpa basa basi. Mereka menghentikan obrolan dan menatapku bersamaan, termasuk Fahmi. “Ada apa, Kak?” tanya Yandi, melirik senior remaja mesjid yang duduk di sebelahnya. “Ada sesuatu yang ingin Kakak tanyakan. Sebentar saja, ikuti Kakak.” Tanpa menunggu persetujuan darinya, aku langsung keluar dari posko dan berjalan sedikit menjauh dari sana agar mereka tidak mendengar pembicaraan kami nanti. Tak lama setelah itu, Yandi keluar dan menghampiriku. “Yan, apa maksudnya tadi? Kenapa kamu bertanya soal wanita itu?” tanyaku langsung. “Maksud Kakak apa? Wanita mana?” “Tadi, saat kita menuju mesjid. Kamu bertanya padaku tentang kedua wanita itu. Apa kamu bisa melihatnya juga?” Yandi tampak bingung, atau dia hanya pura-pura bersikap seperti itu. Tapi, aku masih penasaran dengan pertanyaannya tadi, meski dia sendiri tidak mau jujur padaku. “Wanita mana yang Kakak maksud? Aku sama sekali tidak mengerti,” elaknya lagi. Aku tidak percaya itu, dia pasti berbohong. “Jangan pura-pura tidak tahu, Yan. Kamu sendiri tadi yang mengatakan hal itu padaku. Sekarang kenapa kamu seolah-olah lupa.” “Aku bilang apa? Aku sama sekali tidak ingat, Kak. Bahkan, aku lupa memboncengi Kakak tadi ke mesjid. Setau aku tadi Rama yang bersamaku, bukan Kakak.” Aku menggeleng tidak percaya. Jika Yandi tidak pernah merasa memboncengiku ke mesjid tadi, lalu aku diantar sama siapa? “Tidak, kamu pasti becanda ‘kan? Tadi aku jelas-jelas bersamamu, Yandi,” gelengku tak mengerti. “Coba Kakak ingat lagi, siapa tahu karena efek malam dan desa ini agak gelap, Kakak jadi salah mengenali orang.” “Tapi kamu Yandi ‘kan?” tanyaku cepat, Yandi terdiam sebentar. “Memang benar aku Yandi, tapi aku sama sekali tidak bertemu Kakak tadi. Aku bahkan baru melihat Kakak di sini.” Jika yang dikatakan Yandi itu benar, lantas siapa yang mengantarku tadi? Tidak mungkin juga bocah itu berbohong untuk hal seperti in. Atau, aku mulai stres karena memikirkan hal ini. Fahmi pasti akan marah jika tahu aku berhalusinasi lagi. Tapi, mataku sama sekali tidak bermasalah, masih bisa mengenali orang meski dalam gelap sekalipun. Siapa yang menyamai rupa Yandi tadi? Atau jangan-jangan...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN