“Apa yang kamu bicarakan dengan Yandi tadi malam?” Fahmi tiba-tiba menghampiriku yang sedang duduk sendiri di teras posko. Aku terkejut, lantas melihat ke arahnya.
“Apa yang aku katakan juga tidak akan membuatmu percaya nanti. Jadi, jangan bertanya apa pun jika itu akan membuatmu berpikir yang aneh tentangku,” jawabku tanpa menoleh lagi padanya. Fahmi terlihat terkejut dan langsung menarik tanganku dengan kasar.
“Sakit, Fahmi. Apa yang kamu lakukan,” teriakku yang langsung melepas cengkraman Fahmi.
“Bukannya aku nggak percaya, tapi aku hanya ingin kamu berpikir dengan jernih. Jika pikiranmu saja sudah tidak bersahabat dengan hatimu, maka disitu mereka akan mudah mempengaruhi semuanya. Tolong, jangan dilayani jika mereka datang padamu!” pinta Fahmi, hal itu membuatku terharu. Meski dia terlihat cuek dan seolah tidak peduli, tapi sebenarnya Fahmi sangat mengkhawatirkan diriku.
“Akan aku coba, Mi. Semoga saja bisa,” jawabku dengan mata berkaca-kaca karena tidak bisa menahan haru.
“Sekarang masuk lah, aku akan beli sarapan untuk kita semua. Kamu pasti belum sarapan pagi ‘kan?” aku mengangguk pelan, mengiyakan pertanyaannya. Setelah itu Fahmi meninggalkanku dan langsung mengambil motor ibuk posko yang sengaja dipinjam pada kami.
Setelah kepergian Fahmi, tampak beberapa orang yang sudah berumur mendekat ke arahku bersama kepala desa. Aku menyambutnya dengan baik dan langsung memanggil temanku.
“Pak kepala desa, ada apa datang pagi-pagi sekali? Kami rencananya nanti akan datang ke rumah Bapak, kenapa Bapak repot-repot datang ke sini,” ujar Madi saat menyambut mereka.
“Sebenarnya ada yang ingin Bapak sampaikan pada kalian semua,” jawab beliau
“Ada apa, Pak? Apa kami melakukan kesalahan?” timpal Uky.
“Tidak, Nak. Kedatangan kami ke sini, karena kepala desa seberang meminta sebagian dari kalian untuk KKN di desanya. Bapak sudah meminta pendapat dari Pak Haris, dan beliau setuju untuk membagi kalian menjadi dua kelompok,” terang kepala desa.
Kami sedikit terkejut, tak menyangka jika keputusan kepala desa akan membuat kami semua terpisah. Entah apa yang akan terjadi nanti. Saat kami masih utuh, banyak hal yang aku alami, apa lagi jika nanti kami tinggal separuhnya.
“Tapi, Pak. Kenapa mendadak sekali? Bukankah ada mahasiswa KKN dari kampus lain yang baru tiba di sana?” sanggahku. Aku tahu karena temanku dari kampus lain akan melaksanakan KKN juga di sana.
“Itu memang benar, tapi kami menginginkan kalian. Program mereka tidak sesuai dengan yang kami inginkan,” jawab kepala desa seberang.
“Maksud Bapak bagaimana?” tanya Kevin yang mewakili kami semua.
“Sebelum mereka datang ke desa kami, supervisor mereka dan salah satu perwakilan dari mahasiswa itu sudah terlebih dahulu memberikan program mereka. Perangkat desa dan juga masyarakat tidak setuju dengan program itu. Terlalu berlebihan dan tidak sesuai dengan suasana Ramadhan,” jelas beliau.
“Lalu, bagaimana dengan kami nantinya? Program itu sudah disusun untuk kita jalani bersama. Jika supervisor sudah menyetujui, kami harus mengikuti perintahnya dan juga kepala desa,” ucap Madi.
“Tapi, Di. Kita tunggu Fahmi dulu, dia sedang membeli sarapan untuk kita semua,” bisikku padanya. Madi menggeleng pelan.
“Sebagian dari kita harus bersiap-siap dan bergegas menuju desa seberang. Nggak baik membuat Pak kepala desa menunggu.” Aku tak percaya dia akan mengatakan hal ini, tapi yang dikatakan Madi ada benarnya juga.
“Baiklah, Pak. Kami akan membagi menjadi dua kelompok, nanti setelah itu kami akan menghubungi Bapak kembali,” lanjutnya.
“Nanti setelah selesai berkemas, datanglah ke rumah Bapak. Pak kepala desa seberang akan menunggu kalian di sana,” ujar kepala desa kami sembari berdiri.
Kami pun ikut berdiri dan melihat para tetua itu pergi meninggalkan posko. Setelah itu, Madi menunjuk kami untuk pindah ke desa seberang dan yang menetap di desa itu.
“Kalian berempat ikut denganku dan Kevin. Kamu tetap di sini bersama yang lainnya, El,” ujarnya langsung tanpa menunggu persetujuan kami.
“Tapi, Madi, setidaknya kamu harus tanyakan dulu pada kami. Jangan langsung memutuskan siapa yang pergi dan yang tinggal,” ucapku tak setuju dengannya.
“Kita nggak punya waktu untuk berdebat, El. Sebagian dari kita harus pergi ke desa seberang.”
“Setidaknya tunggu Fahmi dulu, dia tidak akan setuju dengan keputusanmu ini.”
“Aku tidak memerlukan persetujuannya, kamu mengerti! Tujuanku datang ke sini hanya demi nilai, tidak lebih dari itu. Jika kalian tidak setuju dengan keputusanku, tetaplah di sini dan biarkan aku pergi dengan Kevin.”
Madi terlihat kesal, ia beranjak ke kamar tanpa mendengarkan pendapat temanku yang lainnya. Sementara itu, keempat anak perempuan yang telah ditunjuk Madi pun segera mengemasi barangnya. Aku hanya bisa menarik napas berat.
“Sudahlah, El. Madi tidak pernah suka dengan hubunganmu dan Fahmi. Makanya dia ingin pergi dari desa ini,” bisik Cindy menghampiri.
“Tapi ini nggak ada hubungannya dengan program kita, Cin. Lagian, aku dan Fahmi sudah putus. Aku juga nggak pernah tau Madi suka sama aku.”
“Biarkan saja dia, yang penting kita nggak terpisah. Yaya, Mira, Fatin dan juga Putri tetap di sini bersama kita. Kamu nggak usah khawatir.”
Iya, Cindy benar. Yang terpenting kami masih tetap bersama meski aku sangat takut. Di sini, bahkan masih pagi aku bisa merasakan kehadiran wanita itu kembali. Namun, aku tak lagi menghiraukan karena permintaan Fahmi.
Tak lama, mereka keluar dengan menyeret koper masing-masing. Di luar sana satu unit mobil pick up tampak baru tiba bersama kepala desa seberang. Mungkin Beliau sudah tidak sabar membawa mereka ke desanya.
Madi meminta mereka untuk naik ke jok belakang mobil dan dia memasukkan koper yang lainnya. Kami hanya melihat dari ambang pintu hingga mobil itu beranjak meninggalkan tempat.
“Sekarang semakin sepi, aku jadi takut untuk tinggal di tempat ini,” ucap Fatin.
“Kamu nggak usah khawatir, remaja mesjid bersama kita.” Putri berusaha untuk menenangkan gadis itu yang terlihat ketakutan.
“Tapi, yang dikatakan Fatin itu benar, Put. Di sini ada yang tidak beres, terutama dapur. Foto yang ditutupi itu membuatku merinding,” timpal Mira.
“Jangan bicara sembarangan, kita harus jaga sikap dan jangan memikirkan hal yang lainnya. Sekarang sebaiknya kita memasak untuk sahur besok, nanti malam kita ke mushalla bawah untuk tarawih.”
“Ada apa ini? kenapa kalian berkumpul di sini, dan mana yang lainnya?” Fahmi pulang setelah sekian lama dia keluar untuk membeli sarapan. Aku langsung menarik tangannya keluar karena kesal.
***
Di bawah pohon jati yang terletak di jalan menuju posko, aku menatap Fahmi dengan tajam. Ingin meminta penjelasannya mengenai semua ini. Fahmi pasti tahu sesuatu tentang rencana kepala desa untuk memindahkan kami sebagian ke desa semua.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Fahmi yang menyadari arti tatapanku itu.
“Sebelumnya kamu harus katakan padaku, dari mana saja kamu?” tanyaku langsung tanpa basa-basi dan sedikit tegas.
“Sudah aku katakan, aku keluar untuk membeli sarapan.”
“Tapi kenapa selama itu, Mi? Apa kamu tersesat? Atau memang sengaja untuk tidak pulang sebelum mereka dikirim ke desa seberang?”
Fahmi mengerutkan kening, mungkin bingung dengan perkataanku itu. Dia tak langsung menjawab dan malah memalingkan pandangan sebentar.
“Maksud kamu apa, sih? Dan siapa yang pergi ke desa seberang?” tanya Fahmi setelah itu.
“Tadi Pak Lukman dan kepala desa seberang datang ke posko. Beliau minta sebagian dari kita untuk pindah ke sana, itu juga sudah disetujui oleh Pak Haris,” jelasku. Fahmi tampak terkejut.
“Serius?”
“Masa aku bohong.”
“Terus, siapa yang dipindahkan ke sana?” tanya Fahmi lagi.
“Kevin, Madi dan keempat cewek yang beda jurusan dengan kita. Mereka langsung berkemas setelah mobil kepala desa itu datang menjemput.”
“Maaf, aku tidak tahu tentang pemindahan itu.” Fahmi menundukkan kepalanya, mungkin ingin merenungkan kesalahannya hari ini.
“Lupakan itu, mereka juga sudah pergi ‘kan. Sekarang aku mau tanya, ke mana saja kamu tadi? Kenapa lama sekali beli sarapannya.”
Fahmi belum menjawab, dia hanya menatapku sendu. Aku tidak tahu arti tatapannya itu, dan hanya membuat aku merasa salah tingkah saja.
“Aku nggak bisa mengatakannya saat ini. Nanti, ketika waktu itu tiba, aku pasti akan menjelaskan semuanya.”