Malam ini, kami bersiap-siap menuju mushalla untuk melaksanakan tarawih karena besok hari pertama puasa. Remaja mesjid baru saja tiba dengan berjalan kaki, dikarenakan mushalla yang akan kami tuju tepat berada di samping sekolah dasar yang tak jauh dari posko.
Aku sempat melihat Yandi yang diam-diam melirikku sebentar. Setelah itu, dia memalingkan muka karena baru saja ketangkap basah olehku.
“Loh, Im. Kenapa kami dijemput, ‘kan mushalla nya dekat,” sapa Uky ramah pada Imam selaku ketua remaja mesjid.
“Nggak apa-apa, Ky. Biar rame dan kita tambah dekat nantinya. Meski mushalla nya dekat, kami nggak mungkin membiarkan kalian ke sana tanpa pengawasan anak remaja mesjid,” jawab Imam, Uky mengangguk setuju.
“Kamu benar, Im. Ya, sudah, kalau begitu kita langsung aja ke bawah.”
“Iya, ayo teman-teman,” ajak Imam.
Kami langsung turun dan menuju mushalla. Di perjalanan, aku nggak sadar jika Yandi berjalan tepat di sampingku. Dia memanggilku dengan suara setengah berbisik.
“Kak, ada sesuatu yang ingin aku katakan,” ujarnya. Aku menoleh ke arah Yandi.
“Kamu mau ngomong apa?”
“Minta nomor Kakak, nanti aku w******p,” jawabnya lagi.
Yandi sangat aneh sikapnya, menurutku dia memiliki kepribadian ganda yang sewaktu-waktu bisa berubah-ubah. Kali ini, aku nggak akan mempercayainya, dia pasti bukan Yandi, bocah yang waktu itu ngobrol denganku di halaman posko.
“Kakak nggak punya masalah apa pun denganmu. Siapa pun dirimu, jangan pernah menggangguku di sini,” jawabku yang mungkin terdengar dingin.
“Ini penting, Kak. Soal malam itu, kenapa aku pura-pura tidak tau,” lanjutnya.
Aku kembali menoleh padanya, raut wajah Yandi terlihat serius dan meyakinkan. Sebenarnya aku penasaran dengan apa yang akan dia katakan, tapi aku nggak ingin terjebak lagi nantinya.
“Yang mana? aku nggak ingat.”
“Jangan berpura-pura, Kak. Aku tau Kakak berusaha untuk melupakan masalah itu. Maaf, karena aku sudah berbohong.”
“Bohong?”
“Iya. Bukankah malam itu Kakak bertanya tentang sesuatu yang ingin aku katakan soal kedua wanita itu?”
Langkah kakiku terhenti saat Yandi mengucapkan hal itu lagi. Aku tahu dia mengetahui semuanya. Nggak mungkin Yandi melewatkan peristiwa itu saat dirinya merupakan putra daerah di sana.
“Kenapa harus melalui w******p?” tanyaku menatapnya lama.
Di bawah lampu jalanan yang tampak remang-remang, Yandi juga menatapku tanpa berkedip. Dia hanya memberikanku isyarat dengan menganggukkan kepalanya, aku tahu Yandi sedang ketakutan sekarang. Apa pun itu, aku harus mengikuti permintaannya dan meraih ponsel dari tangannya.
“Ini nomor Kakak, nanti setelah shalat kita bicara lagi,” ujarku memberikan ponsel Yandi kembali dan bergegas menuju mushalla untuk mengambil wudhu, karena adzan Isya mulai berkumandang.
***
Ini tahun pertama bagiku shalat tarawih di desa orang lain. Suasananya tentu sangat berbeda, di desa itu sangat sepi dan jarak antara rumah warga juga lumayan jauh. Tapi, masyarakatnya sangat baik dan juga ramah, serta mereka rajin shalat ke mushalla.
Aku termenung di pojokan, antara mendengar ceramah dan memikirkan Yandi. Bocah itu tidak mudah ditebak, dia bahkan pintar berakting agar bisa menyembunyikan sesuatu dariku. Untung saja, kecantikanku bisa mempengaruhi dirinya dan membuat Yandi mau buka suara. Meski, aku sendiri belum tahu dia jujur atau tidak. Ponsel di tangan terus saja aku lihat, berharap Yandi akan menepati janjinya. Nyatanya tidak, satu pun tak ada pesan masuk darinya.
Ting. Satu pesan masuk, segera kubuka pesan itu. Dari nomor baru yang tidak aku tahu siapa pengirimnya.
“Jangan cemas, Kak. Aku akan menepati janji. Nanti, setelah selesai shalat tarawih kami akan datang ke posko. Di situ aku akan menghubungi Kakak.”
Yandi? Dia mengirimku pesan, aku tak percaya itu. Bagaimana dia tau aku sedang memikirkan hal itu? sedangkan di antara jemaah laki-laki dan perempuan ada batasnya. Nggak mungkin Yandi melihatku dengan wajah cemas.
“Yandi, ini kamu?” balasku padanya. Tak lama setelah itu, Yandi kembali membalasnya.
“Iya, Kak, ini aku. Aku tahu apa yang sedang Kakak pikirkan saat ini. Percayalah! Aku tidak akan membohongimu kali ini.”
“Tapi, bagaimana kamu tahu kalau aku sedang memikirkan hal itu?” tanyaku penasaran.
“Lihatlah ke depan. Ada celah di antara pembatas itu dengan dinding mushalla.”
Aku langsung menegakkan kepala. Benar saja, aku bisa melihat Yandi sedikit yang duduk di pojokan. Dia tersenyum, aku sedikit lega. Setidaknya, Yandi mau jujur padaku nanti, meski aku belum tahu kebenarannya.
***
Setelah selesai shalat tarawih, kami bergegas menuju posko. Anak-anak remaja mesjid pun juga ikut. Mereka akan begadang agar tidak melewatkan sahur pertama nantinya. Kami berharap, mereka akan sahur di posko sebelum kembali ke rumahnya masing-masing.
“Kamu ada hubungan apa sama Yandi?” tanya Cindy yang tiba-tiba mendekat.
“Nggak ada apa-apa. Kenapa emang?” jawabku.
“Masa? Kalau nggak ada apa-apa kenapa tadi kalian jalannya lambat, terus berhenti di bawah lampu jalanan lagi. Fahmi jadi cemburu tau nggak.”
Menarik. Aku langsung menoleh pada Cindy saat mendengar nama Fahmi. Aku tahu, dia pasti akan melakukan hal itu, karena dia masih mencintaiku.
“Ngapain liat aku seperti itu,” sewot Cindy, aku hanya tersenyum mendengarnya.
“Serius, Cin? Fahmi cemburu tadi?”
Cindy mengangguk. “Iya, aku melihat jelas wajahnya yang tampak sedih. Kamu dan Yandi seperti dua orang yang sedang jatuh cinta, pake saling tatap-tatapan segala.”
“Kamu nggak akan mengerti, Cin, kenapa aku dan Yandi berhenti di sana,” ujarku dengan lemah. Tiba-tiba ketakutan menguasai hatiku. Bagaimana jika Fahmi salah paham dan malah semakin menjauh dariku nantinya? Aku nggak bisa membayangkan hal itu.
“Memangnya selama ini siapa orang yang paling mengerti dirimu, El? Bukankah aku yang selalu ada dipihakmu?” Cindy terlihat kesal, jelas terdengar dari nada bicaranya.
“Bukan begitu maksudku, kamu jangan salah paham dulu, Cin. Aku belum bisa cerita apa pun padamu sebelum memastikan dulu dari Yandi,” jelasku pada Cindy, berharap dia mengerti dan tidak salah paham nantinya.
“Iya, aku tau. Kamu nggak pernah menganggapku sebagai sahabatmu ‘kan, El? Kamu hanya memanfaatkanku saja untuk menutupi sikap anehmu itu.”
“Cin, kenapa kamu ngomong seperti ini, sih? Aku akan jelaskan semuanya nanti,” ujarku tak percaya. Cindy benar-benar kesal padaku, baru kali ini dia terlihat marah dan kecewa.
“Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi, karena sekarang kamu sudah ada Yandi untuk membantumu memecahkan masalah itu.” Cindy berlalu pergi.
Aku tak tahu harus bagaimana. Cindy dan Fahmi sama-sama salah paham padaku. Mereka berdua pasti sangat kecewa dengan sikapku saat ini, tak masalah. Nanti akan aku jelaskan semuanya pada Cindy, tapi tidak pada Fahmi. Dia pasti akan marah nantinya.
***
Di posko Uky dan Fahmi menemani anak remaja mesjid pria duduk di teras rumah. Mereka berbincang panjang lebar sembari tertawa ceria, seperti sudah kenal lama. Yaya dan Putri tengah sibuk di dapur, menyiapkan teh hangat untuk mereka semua. Aku sendiri memilih berdiam di kamar sembari berbalas pesan dengan Yandi.
“Kakak mungkin tau siapa wanita yang aku maksud itu,” ujar Yandi. Aku bingung tak mengerti.
“Wanita mana yang kamu maksud, Yan? Aku sama sekali tak mengerti,” balasku.
“Wanita yang ada dalam foto di dinding dapur dan perempuan bernama Vanka.”
Tiba-tiba ponselku jatuh begitu saja, entah siapa yang sengaja menyenggolnya. Padahal, tidak ada seorang pun di dalam kamar itu kecuali aku. Juga tidak ada angin kencang yang membuat keseimbangan tanganku menjadi tidak stabil.
“Siapa yang menyenggol tanganku?” gumamku takut. Keringat mulai bercucuran dan mengalir ke pipi. Aku sangat ketakutan, namun bergerak keluar pun rasanya nggak sanggup.
“Wanita yang ada di dalam foto itu bernama Tania. Dia bunuh diri saat resepsi sedang berlangsung tepat di rumah ini.”
Yandi kembali mengirim pesannya saat aku meraih ponselku kembali. Lagi-lagi aku terkejut membaca pesan darinya. Ternyata wanita yang ada dalam foto itu adalah korban bunuh diri, dan itu dilakukan di posko kami.
“Serius, Yan?” dengan cepat aku membalas pesan Yandi.
“Beneran, Kak. Dia frustasi karena suaminya selingkuh dan ternyata sudah memiliki anak.”
“Lalu?”
“Sejak itu arwahnya selalu gentayangan. Tania nggak pernah pergi dari rumah ini sebelum suami Tania meminta maaf padanya.”
Pantesan saja, wanita itu yang pertama kali aku lihat saat kami datang ke rumah itu. Tapi, apa yang terjadi pada Vanka?
“Hubungannya dengan Vanka apa? Kenapa dia datang padaku seolah-olah minta tolong.” Aku kembali membalas.
“Sebenarnya Vanka melakukan kesalahan saat KKN di sini, Kak. Tania nggak pernah suka dengan orang yang nggak bisa menjaga sikap. Terlebih lagi Vanka merebut pacar temannya,” jelas Yandi.
Aku memahami sesuatu. Tania selalu datang padaku agar aku bisa menjaga sikap di sini. Dan Vanka datang untuk memperingatkan kami semua agar tidak melakukan kesalahan.
“Tapi, kenapa dia selalu menggangguku? Apa kesalahan yang telah aku lakukan di sini?” aku bertanya pada Yandi, berharap bisa menemukan jawaban atas kehadiran dua orang wanita itu.
“Mereka bukan mengganggu Kakak. Tania dan Vanka hanya...,”
Prang...
Pesan dari Yandi belum sempat aku baca semuanya saat terdengar suara yang sangat keras dari arah dapur. Aku bergega keluar untuk melihat apa yang terjadi. Saat berada di sana, aku terkejut bukan main.
“Fatin?”