Fatin berdiri tepat di hadapan figura besar dengan wajah pucat. Aku terkejut melihatnya, saat foto pernikahan Tania yang terpajang di sana hancur berantakan. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya, tapi aku yakin itu pasti ulah Fatin. “Fatin, kamu nggak kenapa-napa?” tanyaku menghampiri. Dia menggeleng pelan, matanya masih tertuju ke lantai di mana foto Tania yang sedang tersenyum berubah seketika. Dia seperti sedang marah, tapi mungkin itu hanya halusinasiku saja. “Dia... dia marah padaku,” ujar Fatin gemetar, aku menatapnya tajam. Mungkinkah Fatin melihat wajah Tania yang sedang marah juga? “Apa yang kamu katakan?” tanyaku memastikan. “Wanita itu, dia memperlihatkan wajah seramnya padaku. Kamu bisa melihatnya juga ‘kan, El?” kini giliran Fatin yang menatapku lama. Ada apa dengannya?

