“Tania, ada sesuatu yang ingin aku katakan. Tolong, jangan marah lagi.” Di tempat yang sunyi dan gelap ini, aku duduk sendiri. Memanggil nama orang yang ingin aku temui. Meski ketakutan menguasai diriku, tapi aku harus kuat dan tetap bertahan supaya bisa bertemu dengannya dan meminta maaf atas nama Fatin. “Aku minta maaf atas kelancangan kami yang membuat kamu marah dan merasa terganggu. Kami nggak tau jika kamu nggak suka ada orang yang menyentuh foto itu. Aku janji, kesalahan itu tak akan terulang lagi.” Lagi-lagi aku berusaha untuk mengajaknya bicara, berharap agar dia mau mendengarkanku dan memberikan kami kesempatan untuk tinggal di rumah itu. Namun, usahaku tak membuahkan hasil. Dia tetap tidak muncul hingga beberapa menit berlalu. “Percuma kamu melakukan hal ini. Dia nggak akan

