Kakek Tama menatap cucunya yang kini sedang menunduk seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Duduk sendiri dan jauh dari yang lain. Bahu cucunya bergetar. Langit menangis. Cucunya yang tidak pernah bersedih itu menangis hingga suaranya terdengar begitu pilu. Kakek Tama berdiri lalu berjalan menghampiri Langit. Dia duduk di sebelah Langit lalu menepuk bahunya. Langit menurunkan kedua tangannya lalu menatap kakeknya. Air matanya meleleh. “Kek.” Bisiknya. Kakek Tama mengulurkan tangannya memeluk Langit. Dan terdengarlah tangisan sedih cucunya. Dia hanya bisa menepuk punggung Langit berulang kali. Dia pun merasa bersalah dan dia tidak tahu harus berkata apa. “Saya takut Alaina meninggalkan saya, Kek. Saya takut.” “Alaina pasti baik-baik saja.” Bisik Kakek di telinga Langit, “kam

