“Jangan.” Bisik Alaina yang sukses membuat Langit kecewa. Langit menghela napas marah. Dia melepaskan tangan Alaina yang masih menggenggam pergelangan tangannya secara paksa. “Austin sedang dalam perjalanan beli obat. Aku lebih baik menunggu di mobil.” Katanya kemudian beranjak pergi. “Langit, tunggu,” panggil Alaina, “Langit!” Dia tidak menghiraukan Alaina yang memanggil namanya. Alaina memejamkan matanya tatkala Langit terus berjalan keluar kamar tersebut tanpa menoleh lagi. Dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Langit. Dia hanya tidak ingin Langit ataupun Sandi berkelahi. Dia percaya bahwa karma akan berlaku pada Sandi nantinya. Dia hanya ingin alam menghukum Sandi dan bukan Langit yang melakukannya. “Nona sudah sadar?” Suara Austin membuat Alaina membuka matanya

