Nami baru bangun dari tidur ketika ponselnya berbunyi dengan nyaring. Ia masih setengah mengantuk karena semalam ia bergadang demi menulis karena sebentar lagi ia akan meluncurkan buku terbaru dan editornya sudah bertanya-tanya kapan Nami akan menyelesaikan tulisannya. Langsung saja ia angkat telpon yang berbunyi dengan setengah malas.
Ke rumahku sekarang juga
Nami seolah mendapat titah raja. Ia mengerjap-ngerjapkan mata berapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya. Ia mengingat-ingat suara siapa yang berbicara dengannya di telpon barusan. Beberapa detik setelahnya Nami melihat ponselnya. Ia kenal nomor itu. Tentu saja nomor dari orang paling menyebalkan di dunia yang sudah mengacaukan hari-hari indahnya.
“Apa lagi yang dia inginkan!” teriak Nami kesal.
Ketika Nami mengutuk Dean yang membangunkan tidur tenangnya, ponselnya berbunyi lagi. Nomor Dean lagi yang menghubunginya. Dia akan melakukan sumpah serapa kepada pria itu sekarang juga tanpa berniat memberikan perdamaian.
“Ap….” Nami belum sempat untuk marah.
“Belikan aku sarapan pagi dan juga kopi panas. Kau harus datang dalam setengah jam. Tidak boleh terlambat dengan alasan apa pun. Cepat bersihkan wajahmu dan langsung pergi.”
Nami diam beberapa saat. Belum sempat ia berbicara Dean sudah berkata panjang lebar. Nami ingin protes, tetapi panggilan sudah terputus. Ia langsung melempar bantalnya dengan kesal. Oh dia bukan pembantu yang bisa Dean perintah kapan saja! Nami akhirnya menelpon Dean dengan segenap emosi menggunung yang ia miliki.
“Hei sialan, aku bukan pembantumu!” teriak Nami penuh emosi.
“Tapi kau bertanggung jawab penuh dengan diriku.” Dean di seberang sana tidak peduli.
“Tidak akan!” marahnya lagi.
“Aku akan melapor ke polisi.” Nami geram.
“Silakan. Aku tidak takut karena aku tidak salah!”
“Aku bisa saja membalikan fakta.” Nami semakin kesal.
“Lakukan sesukamu!” kesal Nami. Ia mematikan ponselnya dan Nami langsung beranjak ke kamar mandi. Ia tidak bisa tidur lagi. Nami memutuskan untuk menghidupkan laptopnya sambil menikmati kopi panas. Ia dikejar deadline untuk menyelesaikan novel kelimanya.
“Seharusnya Natal ini menggembirakan, tetapi deadline menantiku,” keluh Nami sambil menghirup kopinya perlahan. Sebenarnya dia bukan penggemar berat kopi, hanya saja akhir-akhir ini kopi sudah menjadi temannya ketika menulis larut malam.
Dari kamar apartemen Nami yang hangat terlihat jalanan di NoMad yang ramai. NoMad untuk singkatan dari North of Madison Square, seperti itulah kalangan anak muda Amerika menyebutnya. Beberapa hari lagi akan Natal dan suasana Natal semakin terasa di New York City. Nami ingin sekali menikmatinya, tetapi apa daya pekerjaan tidak memberinya cukup banyak waktu untuk libur. Ia ingin sekali keluar makan malam di sekitaran SoHo bersama sahabat-sahabatnya di malam Natal. Sayang sekali dia tidak bisa pulang ke tempat orantuanya tahun ini.
Nami membuka sedikit kaca jendela untuk mendapatkan udara segar. Tidak terlalu dingin di luar dan jujur saja Nami tidak terlalu suka kebisingan di New York City. Ia memutuskan untuk menutup jendela sembari menyalakan lilin aroma terapi. Wangi bunga peony China bercampur mawar Damask langung memenuhi seluruh ruangan dan memberikan sensasi menenangkan. Tidak lupa Nami memutar musik klasik. Ia suka suara violin yang bernada indah. Perpaduan sempurna untuk menulis dalam tenang dan damai. Dia bahkan tidak akan mengingat permintaan Dean Gariando yang telah merusak pagi indahnya. Dia tidak peduli akan hal tersebut.
Saat Nami tengah serius mengetik cerita di laptopnya. Pintu apartemennya diketuk. Nami sedang dalam konsentrasi tinggi tidak menyadari sudah berapa lama pintu itu diketuk. Ia sadar setelah gedoran keras terdengar dari balik pintunya.
“Du lieber Gott! (Astaga!)” umpat Anne Scholz ketika Nami membukakan pintunya.
“Ada apa?” tanya Nami tanpa rasa bersalah.
“Aku sudah berdiri di depan pintu apartemenmu dari tujuh menit yang lalu. Aku sudah menghubungi ponselmu puluhan kali tetapi tidak aktif. Dan kau bertanya ada apa?” Anne Scholz tampak murka, ia langsung duduk di kursi ruang tamu Nami.
“Oh benarkah? Maaf aku sedang di kamar mandi,” dusta Nami. Ia segera menutup laptopnya agar Anne Scholz tidak mengetahui apa yang sedang Nami kerjakan.
“Lupakanlah.”
“Ada apa kau ke apartemenku pagi-pagi sekali?”
Anne Scholz menyuruh Nami untuk duduk di kursi. Nami menurut meskipun tanpa Anne Scholz perintah ia akan tetap duduk di kursi miliknya sendiri.
“Aku harus berangkat ke Milan besok lusa. Ini mendadak sekali. Ya aku tahu kau akan keberatan karena kau sendiri banyak pekerjaan, tapi aku tidak tahu siapa lagi orang yang tepat untuk membantuku. Hanya kau yang terpikirkan olehku.”
“Anne, kau punya asisten.”
“Ya aku tahu, tapi dia harus ikut denganku. Kami akan memulai kerja sama dengan beberapa desainer kelas dunia di pertemuan tahunan ini. Kumohon padamu, Nami Anezaki. Mereka baru menghubungiku seminggu yang lalu dan temanku yang harusnya menggantikan aku berhalangan karena semalam anaknya masuk rumah sakit,” pintanya dengan memohon.
Nami berpikir beberapa saat. Ia sedang dikejar deadline untuk novel terbarunya dan novelnya itu harus rampung sebelum tahun baru. Nami tidak yakin ia bisa mendapat banyak ide jika terus-terusan berada di butik Anne Scholz. Membayangkan perasaan nyaman yang sulit ia dapatkan bila di tempat asing membuat Nami merasa berat, tetapi temannya sangat butuh bantuan.
“Berapa lama kau akan ke Milan?”
“Paling lama lima hari dan paling cepat tiga hari. Aku akan usahakan pulang sebelum Natal.”
“Itu terlalu lama,” protes Nami.
“Seperangkat pakaian desainer terkenal yang baru keluar.” Anne Scholz mengajukan tawaran yang menggiurkan.
“Tas, sepatu, baju, celana, rok, gelang, jam tangan, kaca mata, dress, dan apa pun itu. Seperangkat?” tanya Nami memastikan. Anne Scholz mengangguk mantap. “Aku terima tawaranmu.”
“Aku harus mengeluarkan uang banyak untukmu,” keluhnya, tetapi setelahnya ia tersenyum dan memeluk Nami. “Kau memang bisa diandalkan.”
“Tidak masalah,” jawab Nami membalas pelukan Anne Scholz. Ia tergiur dengan tawaran itu. Kapan lagi bisa mendapatkan seperangkat pakaian dari perancang kelas dunia dan semua itu gratis. Ia hanya perlu duduk di butik Anne Scholz, mengawasi pekerjaan di butiknya. Nami juga bisa sambil menulis di sana. Ia akan melakukannya dan dengan sungguh-sungguh tentu saja.
“Ngomong-ngomong kau sudah sarapan?” tanya Anne.
“Kebetulan belum, bagaimana denganmu?” tanya Nami sembari meminum kopinya perlahan. “Kau ingin kopi?”
“Aku juga belum, bagaimana jika kita sarapan di luar? Tidak, aku sudah minum kopi pagi ini.”
“Baiklah, aku akan siap dalam lima menit. Kita makan di dekat apartemanku saja. Dua blok dari sini ada restoran Hongkong yang enak. Kau ingin mencoba makan bubur?” Nami mematikan lilin aroma terapinya.
“Tentu saja. Aku selalu suka makanan apa pun,” jawab Anne sambil mengecek ponselnya. “Sekarang bersiap-siaplah. Perutku sudah lapar.”
TBC...