Five

1271 Kata
Siang itu Dean Gariando terpaksa memesan makanan cepat saji dan makanan pesan antar ke rumahnya. Ia tidak bisa melakukan apa pun atau ia tidak akan makan jika tidak seperti itu. Dean merasa di rumah sangat membosankan. Tidak ada yang bisa ia lakukan. Bekerja pun Dean tidak bisa. Ia cuti beberapa hari semenjak tangannya terkilir. Sedari semalam yang dilakukannya hanyalah menonton film dan berbaring. “Wanita sialan. Dia berani membantahku,” umpat Dean sambil memakan pizza yang dipesannya dengan lahap. Ia sudah lapar sekali. Saat Dean tengah sibuk makan, bel rumahnya berbunyi dengan nyaring. “Siapa lagi orang sialan yang datang?” Dengan terpaksa Dean berdiri lalu membukakan pintu rumahnya. Sosok Nami berdiri di sana. Dean sedikit kaget, tetapi ia cepat-cepat menutupinya serta memasang wajah tanpa ekspresi andalannya. “Ada apa wanita sialan? Kupikir kau tidak akan datang,” ucapnya dengan nada kesal. “Aku membawakanmu makan siang.” “Aku sudah tidak butuh,” ketus Dean. “Jangan bertingkah seperti anak kecil. Aku rela mengeluarkan uangku hanya demi membelikanmu makan siang.” Nami melihat raut wajah Dean yang tampak sekali tidak sukanya. “Aku menyuruhmu untuk datang tadi pagi.” Dean berkacak pinggang dengan sebelah tangannya. Mereka berdua masih berdiri di ambang pintu. “Sekarang sudah siang.” “Kaupikir jam berapa kau menelponku. Aku baru bangun tidur.” Nami mulai kesal. Ia rela keluar jam makan siang hanya untuk mengantarkan makanan pada Dean. Nami memang sangat baik padahal ia ingat perlakuan Dean yang semena-mena terhadapnya. “Aku tidak peduli kau baru tidur atau bangun tidur. Kau harus bertanggung jawab dengan semua keperluanku.” Nami tidak habis pikir pria di depannya ini menyebalkan sekali. Apa memang seperti inilah sifatnya ke semua orang. Kalau memang benar, alamat orang yang berada di sekitarnya akan berumur pendek karena selalu menahan emosi di dekatnya atau akan mati jantungan karena sakit hati. “Baiklah hentikan.” Nami mengalah. Perdebatan mereka tidak akan berakhir sampai kapan pun. “Ini makan siangmu dan jangan menggangguku lagi. Aku dikejar deadline harus menyerahkan novelku sebelum tahun baru dan aku harus menunggui butik Anne Scholz. Pekerjaanku banyak, jadi kau jangan menggangguku untuk saat ini. Oke!” jelas kekesalan tampak di wajah Nami. “Memangnya aku peduli dengan semua pekerjaan sialanmu itu?” pria di depannya ini berbakat untuk membubuh orang hanya dengan kata-kata tajamnya. Nami berdecak kesal. Pria ini memang berkepala batu, berhati batu. “Kau harus peduli!” tekan Nami. “Bagaimana denganku? Aku tidak bisa bekerja dan melakukan apa pun akibat ulahmu.” Nami memijat pelipisnya. Dean memang bisa membalikkan keadaan. “Itu bukan ulahku. Baiklah, aku merasa berterima kasih karena bukan aku yang mengalami kecelakaan.” Dean menatap tajam Nami. “Maksudku, jika aku yang mengalami kecelakaan itu akan sedikit merepotkan,” sambung Nami. Ia jelas melihat tatapan marah Dean. Sialan! Dia membangunkan singa yang tertidur. “Jadi kau merasa beruntung di atas penderitaanku dan bersenang karena bukan kau yang terluka?” Nami mengangguk mantap. “Sialan!” Dean langsung menutup pintu rumahnya. Nami hanya mampu diam. Dean kesal setengah mati. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengempaskan tubuhnya ke kasur. Bisa-bisanya Nami berkata seperti itu di depannya. Tidak tahukah dia bahwa Dean merasa sangat tersiksa sekarang ini. Seharusnya ia membiarkan saja Nami tertabrak mobilnya saat itu umpat Dean kesal. ❆❆❆ Sementara itu Nami masih berdiri diam di balik pintu rumah Dean. Ia menyesali ucapannya. Harusnya Nami tahu dia tidak perlu mengatakan perkataan itu. Sungguh ia sangat menyesal. Namun, Nami tahu tipikal seperti Dean tidak akan mudah memaafkannya. Nami meletakkan makanan yang dibelinya di depan pintu rumah Dean Gariando. Ia memutuskan untuk pulang karena udara sangat dingin. Namun, sebelum pulang Nami membuka ponselnya dan mengirimkan pesan. Makan siangmu aku letakkan di depan pintu. Jangan sampai tidak makan. Dan maaf atas perkataanku. Pesan terkirim, Nami menghela napas berat. Ia memang harus meminta maaf pada Dean meskipun Dean tidak akan memaafkannya semudah itu. Setelahnya Nami benar-benar pulang ke rumahnya. ❆❆❆ Kota New York hari itu turun hujan. Nami memijat pelipisnya, dari tadi ide tidak mampir di otaknya. Ia butuh penyegar, duduk berjam-jam di ruang kerja butik Anne Scholz membuatnya seperti orang bodoh. Tangannya gatal ingin menari di papan ketik laptopnya, tetapi otaknya seperti beku sama seperti kota New York yang sekarang juga beku akibat badai salju semalam. Nami menyerah, ia menutup laptopnya dan ia berdiri untuk keluar dari ruang kerja Anne Scholz. Ia memutuskan untuk membeli kopi panas di kedai kopi sebelah butik Anne Scholz. “Lucy, aku keluar membeli kopi sebentar. Kau ingin kopi?” tawar Nami pada pelayan butik Anne Scholz. “Ya, aku butuh kopi. American espresso dengan sedikit krim.” Lucy pelayan dibutik Anne yang sudah lama Nami kenal, dia seumuran dengan Nami dan beberapa kali pergi keluar bersama Anne dan dirinya. “Lalu kau, Juliane?” tanya Nami pada pelayan Anne satu lagi. Juliane masih muda, dia pelayan baru yang menggantikan pelayan lamanya karena sudah menikah. “Aku tidak terlalu suka kopi, teh panas saja cukup bagiku,” jawabnya. Nami mengangguk lalu ia membuka pintu kaca butik Anne Scholz. Dingin langsung menyergapnya. Jalanan cukup ramai siang menjelang sore itu. Sudah dua hari ini ia berada di butik temannya. Semalam Anne menelpon bahwa dia akan pulang besok lusa. Nami merasa bersyukur dengan kepulangan temannya itu. Neil Alexinho sudah beberapa kali mengingatkannya untuk segera merampungkan novelnya secepat mungkin. Nami tidak tahan dengan ocehan editornya itu. “Dua American espresso dengan sedikit krim, satu take away dan satu minum di sini. Lalu berikan aku teh madu hangat satu, take away,” kata Nami sambil memesan menu minumannya. Ia melihat menu makanan di kaca etalase. Bentuk-bentuknya yang menarik membuat Nami merasa lapar. Ia memutuskan memesan satu potong pie raspberry dengan potongan toping raspberry segar. Setelah memesan minuman, Nami memilih duduk di kursi sudut dekat jendela. Kedai kopi tempatnya duduk sekarang cukup ramai. Ada pohon Natal kecil di dekat pintu masuk. Pernak-pernik Natal dan lagu Natal sangat terasa di kedai kopi itu. Tempat ini jauh lebih baik daripada ruangan kerja Anne Scholz pikir Nami. Ia ingin duduk sembari bersantai sebentar di sana. Mungkin saja ide akan lewat di otaknya. Nami menikmati pie raspberrynya dengan sukacita, dia suka rasanya yang tidak terlalu manis. Saat Nami tengah menunggu minuman pesanannya dibuat, ia melihat dari jendela sosok yang dua hari ini tidak dilihatnya atau lebih tepatnya tidak ditemui Nami. Dean Gariando, dia turun dari mobil lalu masuk ke dalam kedai kopi tempat Nami sekarang tengah duduk. Dean bersama dengan seorang temannya. Namun, temannya itu tidak ikut masuk ke dalam kedai kopi, ia hanya mengantar Dean dan setelahnya dia melajukan mobilnya kembali. “Hot latte macchiato.” Dean memesan minumannya. Nami berusaha bersikap tenang dan berharap agar Dean tidak menemukannya di sudut ruangan itu. Namun, sayang sekali karena pelayan memanggil namanya sesaat setelah Dean Gariando membayar minumannya. Hari ini akan kembali menjadi hari terburuk di dunia pikir Nami. “Sial,” umpat Nami. Dengan terpaksa Nami mengambil pesanannya. “Dunia sempit sekali ternyata.” Tidak perlu menoleh untuk mengetahui suara siapa itu. Nami tampak tidak peduli dengan teguran Dean. Nami mengambil minumannya dan ia memutuskan untuk membawa minumannya pulang. Sayang sekali padahal kuenya belum habis Nami makan. Dean masih berdiri di kasir sambil memperhatikan tingkah Nami yang menghindarinya. Ia ingin cepat-cepat pergi tanpa mau menoleh ke arah Dean. Namun, nahas bagi Nami karena saat ia membalikkan tubuhnya, dia tersandung kaki meja. Kejadiannya sangat cepat tanpa bisa Nami proses. “Oh tidak!” Ruangan sedikit riuh karena kejadian barusan. Nami berusaha mengangkat tubuhnya yang jatuh ke lantai. Lututnya mungkin sedikit memar sekarang. Dan yang pasti minumannya tumpah. Tumpah tepat ke arah tubuh Dean. Habislah dia pikir Nami. TBC...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN