Six

1488 Kata
“Sebaiknya kau lepaskan dulu pakaianmu.” Dean tidak berekspresi sama sekali ketika Nami menyuruhnya melepaskan pakaian. Penampilannya sangat kacau. Baju putih bersihnya sudah berwarna coklat akibat tumpahan kopi Nami. Perbannya yang juga berwarna putih ikut berwarna coklat. Bukan hanya soal itu, tetapi Dean terkena siraman kopi panas. Bisa dibayangkan betapa kesalnya Dean pada Nami. Beruntung kopi panas itu hanya mengenai bajunya dan memang bajunya yang cukup tebal jadi tidak melepuhkan kulitnya. Bila hal tersebut terjadi, dapat dipastikan Dean Gariado akan membawa hal ini ke jalur hukum. Mengingat sudah dua kali ia mencelakakan pria itu dalam satu minggu. “Aku akan mengganti perbanmu setelah itu kau berganti pakaian. Tenang saja aku akan membelikanmu pakaian baru.” Nami benar-benar merasa bersalah. Ia membawa Dean ke butik Anne Scholz. “Kau memang benar-benar malaikat kesialan,” gerutu Dean. “Lucy, Juliane, bisa bantu aku membelikan pakaian untuknya. Aku akan mengganti perbannya,” pinta Nami pada kedua pelayan butik Anne Scholz. Kedua pelayan itu awalnya terkejut melihat Nami membawa Dean dan ia cepat-cepat menjelaskannya. “Biar aku saja, aku akan cepat kembali,” jawab Lucy. “Pakaian apa yang kauinginkan?” tanya Nami dengan hati-hati. Ia mengamati raut wajah Dean Gariando yang bertekuk-tekuk. “Terserah,” jawabnya singkat. Nami menghela napas. “Tolong belikan baju kaus lengan panjang yang hangat,” pintanya pada Lucy. “Ukuran pakaianmu apa?” kali ini kembali kepada Dean. “M.” “Baiklah. Lucy, aku mengandalkanmu,” ucap Nami dengan penuh harap. “Jangan khawatir, Nami. Kau percayakan hal tersebut padaku.” “Terima kasih dan Juliane, kau bisa menunggu butik. Aku akan mengganti perbannya.” Sekarang tinggal Nami dan Dean berdua di dalam ruang kerja milik Anne. Dean masih merasa kesal setengah mati. Tangannya berdenyut-denyut merasakan sakit. Gadis yang saat ini berdiri di hadapannya menampakkan raut wajah yang bersalah. Persetan dengannya pikir Dean, dia sudah dua kali membuat Dean celaka dalam minggu ini. “Bisa berikan tanganmu. Aku akan mengganti perbannya.” “Bagaimana aku bisa memberikanya kepadamu jika tanganku patah dan di-gips seperti ini.” Nami meneguk ludahnya. Benar yang dikatakan Dean. Nami akhirnya dengan perlahan menurunkan kain penahan tangan Dean. Dean masih menatap Nami dengan tatapan membunuhnya. Mau tidak mau Nami memang harus melakukannya meskipun Dean menatapnya seperti itu. Nami kemudian membantu Dean membuka pakaiannya. Ah dia merasa canggung sekali. “Pelan-pelan, sialan.” “Ah maaf.” “Kau benar-benar sialan. Dua kali kau mencelakakanku. Apa selalu ada malaikat jahat di sekitarmu itu?” pertanyaan Dean terdengar ketus. “Aku benar-benar minta maaf padamu. Sungguh aku tidak tahu mengapa jadi seperti ini,” jawab Nami yang sekarang sudah melepaskan baju Dean. Terlihat tubuh yang benar-benar terawat. Berbentuk kotak-kotak, jika dalam keadaan normal mungkin Nami akan sedikit sempat menggagumi bentuk tubuh itu. Namun, keadaan saat ini bukan untuk hal tersebut. “Dua hari yang lalu kau mengatakan senang karena aku yang terluka dan kau bersyukur karena aku yang celaka lalu hari ini kau mencelakakan aku lagi. Apa namanya jika bukan sialan?” “Tapi aku benar-benar tidak sengaja,” jawab Nami membela diri. “Aku tidak peduli. Semua tidak bisa membalikkan keadaan.” “Lalu apa maumu?” “Jauh-jauh dariku. Aku tidak ingin terkena sial terus menerus jika bertemu denganmu.” Nami diam sebentar, ia masih menatap Dean yang kesal padanya. Sebenarnya Nami juga ingin seperti itu, tidak mencelakakan Dean, tapi apa daya, bukan dia yang menghendaki. Nasib saja yang mempertemukan mereka dalam kesialan. Nami akhirnya memilih membersihkan tubuh Dean dengan lap basah. Bekas kopi yang lengket masih tersisah sedikit di tubuh Dean. “Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan menyentuh tubuhku,” ucapnya kesal. “Jangan berpikiran yang macam-macam atau kau bersihkan sendiri,” jawab Nami. “Aku masih harus bertanggung jawab padamu. Berikan tanganmu. Aku akan membuka perbannya dan menggantinya dengan yang baru,” kata Nami yang telah selesai mengelap tubuh Dean. Wajahnya memerah padam. “Bukankah kau seorang penulis. Mengapa kau ada di butik seperti ini?” tanya Dean sembari Nami melepaskan perbannya yang kotor. “Ini butikmu?” “Butik ini kepunyaan temanku. Aku sedang membantu menunggunya sementara dia sedang berada di Milan.” “Semenjak kapan kau kenal Andrea Pallazo?” Nami mengambil perban baru untuk mengganti perban lama lalu memotongnya beberapa bagian. Ia melihat ada pembengkakan di lengan tangan Dean. Jelas pembengkakan itu terasa sakit dan nyeri. Membayangkannya saja sudah membuat Nami merinding. “Semenjak ia meminta izin untuk membuat novelku menjadi film,” jawab Nami yang sekarang selesai melepaskan perban tangan Dean. “Aku akan membersihkan tanganmu dulu sebelum memperbannya lagi.” Dean menyodorkan tangannya lagi. Nami memegangnya dengan perlahan seolah tangan Dean adalah berlian yang sangat mahal di dunia. “Pelan-pelan. Jika sakit sedikit saja kau akan merasakan akibatnya.” “Aku tahu,” jawab Nami pelan dan ia dengan hati-hati membersihkan tangan Dean. Tampak memar di sana dan pembengkakan. Nami tahu tangan Dean memang hanya terkilir bukan patah. Nami membersihkan bekas kopi yang menembus perban. Dibersihkannya secara perlahan, ada warna kebiruan bercampur ungu dan merah di tempat pembengkakan tersebut. Nami semakin merasa bersalah. “Jadi kau penulis cerita sialan yang filmya sukses itu. Apa yang membuat Andrea tertarik membuat novelmu menjadi film. Dia pasti sudah tidak waras.” “Karena cerita buatanku bagus dan bisa menarik perhatian orang sehebat temanmu itu. Artinya aku juga hebat.” Ia tidak terima atas ucapan Dean Gariando. Dean mencibir Nami karena rasa percaya diri Nami yang berlebihan. Dean tidak menemukan kehebatan dalam diri Nami. Ya setidaknya itu menurut Dean. Semua tampak buruk di matanya semenjak gadis itu mengacaukan waktu liburannya untuk Natal. “Kau hanya beruntung.” “Ya bisa dikatakan seperti itu.” “Ya kau sangat beruntung sampai-sampai selalu mencelakakanku.” “Jangan kau bahas lagi. Kumohon.” Nami menghentikan gerakan membersihkan luka di tangan Dean. Ia menatap Dean yang duduk di depannya. Pria itu berwajah seolah tidak terima dengan apa pun keberuntungannya. “Kau keberatan karena kau merasa bersalah?” “Sangat. Aku sangat merasa bersalah atas kejadian ini. Sungguh demi apa pun aku benar-benar tidak berniat mencelakakanmu. Demi Tuhan! Aku tidak tahu bagaimana aku harus meminta maaf kepadamu setelah semua yang terjadi padamu karena ulahku,” ucap Nami dengan penuh penyesalan. “Kau memang benar-benar wanita sialan!” “Asal itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Silakan panggil aku seperti itu.” “Cepat selesaikan urusan sialanmu ini,” tunjuk Dean pada tangannya. Ia malas memperpanjang debatnya dengan Nami. Nami menurut meskipun ia masih memikirkan bagaimana caranya Dean bisa memaafkannya. “Nami Anezaki, ini baju pesanan yang kau minta. Aku tidak tahu selera pakaiannya, tapi kurasa ini cocok untuknya.” Lucy muncul dari balik pintu ketika Nami selesai memasang perban di tangan Dean. “Terima kasih Lucy.” Nami mengambil bungkusan pakaian yang dibeli Lucy di toko pakaian pria yang berada di ujung blok. Ia kemudian meninggalkan Nami dan Dean berdua lagi. Nami menyerahkan bungkusan itu kepada Dean. Dean belum menerimanya, dia menatap Nami dengan teliti. “Jadi namanu Nami Anezaki. Kau orang Jepang?” “Ya, apakah aku belum memperkenalkan diriku kepadamu?” tanya Nami heran. “Tidak, kau tidak pernah.” Nami membantu Dean membuka bungkusan pakaian baru. Pakaian berwarna hitam lengan panjang. Ukurannya pas di tubuh Dean menurut Nami. Ia kemudian membantu Dean memakaikannya. Tentu saja dengan sangat perlahan. Setelah selesai membantu Dean memasang pakaiannya, Nami berdiri dari kursinya. “Kau ingin makanan? Aku masih punya kue yang aku beli di toko kue temanku pagi tadi. Tunggu sebentar.” Nami menuju dapur untuk mengambil kue yang ia beli di toko kue Danniela pagi tadi. Dean memperhatikan ruang kerja Anne Scholz. Ruangan bernuansa hitam, putih, dan emas yang sangat elegan. Dipikir-pikir Dean dari tadi dia hanya berdua saja dengan Nami di dalam ruangan itu. Dean tiba-tiba ingat sesuatu. Ia belum menghubungi Jeremy Scott. Dengan cepat Dean mengambil ponselnya lalu menghubungi temannya. “Ada sedikit insiden kecil. Aku tidak jadi ke toko buku. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Jika aku ingin pulang aku akan menghubungimu.” Dean langsung mematikan ponsel dan saat itu Nami muncul dari balik pintu. Ia membawa secangkir teh panas dan sepiring kue. Dia melihat Nami sambil berpikir sesaat. Wanita itu akan sangat berguna di saat-saat seperti ini, pikir Dean. “Silakan makan, kau pasti merasa lapar.” “Kau tidak memberi ini racun kan?” tanya Dean dengan curiga. “Hei, aku tidak sejahat itu!” kesal Nami. Dean menyeringai geli. “Mungkin saja kau dendam kepadaku.” “Ya mungkin saja.” Dean menikmati teh panasnya dan juga kue manis dari Nami. Rencananya untuk ke toko buku membeli buku baru sebagai bacaan dikala ia bosan terbaring di kamarnya hari ini gagal total. Ia justru terjebak di butik kepunyaan teman Nami dan berdua dengan wanita itu. “Kau temani aku ke toko buku setelah ini,” ia seolah mendapat ide brilian. Tentu saja rencananya ke toko buku tidak akan gagal jika Nami menemaninya. Ucapan itu mengagetkan Nami yang sedang melamun. Ia kemudian mengangguk seadanya. “Tidak masalah.” TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN