Nami menyetopkan taxinya di jalanan Broadway. Ia dan Dean langsung turun dari taxi. Mereka kemudian memasuki toko buku yang sangat terkenal. Sebuah gedung peninggalan Eropa kuno berwarna coklat muda. Tulisan Strand Bookstore di atapnya yang berwarna merah terang. Toko buku itu tampak cukup ramai dari luar. Dean yang memutuskan untuk ke sana dan Nami menurut.
“Buku jenis apa yang kau suka. Aku akan membantu mencarinya,” tawar Nami pada Dean.
“Hanya buku bacaan ringan.”
“Kau suka novel?”
“Tidak.”
“Lalu apa?”
“Kau cukup diam saja di sampingku. Jangan banyak berbicara.” Nami menghela napasnya kesal. Tapi ia sudah berjanji untuk menemani Dean. “Pegang ini.”
Dean memberikan Nami sebuah buku yang cukup tebal. Buku traveling. Nami melihatnya sekilas. Dean mencari buku lagi dan ia mendapatkannya lagi, Nami kembali memegangkan bukunya yang sudah membuat dia kesulitan.
“Oh ponselku berbunyi.”
Nami sedikit kesulitan karena ia memegang banyak buku. Dean tampak tidak peduli. Nami melihat nama penelpon yang tertera di ponselnya. Neil Alexinho.
“Ya ampun, apa lagi,” gerutu Nami melihat nama editornya itu. “Hallo?”
Terdengar Neil berbicara di ujung telpon sana. Dean diam melihat Nami yang menelpon dan tampak kesulitan memegang buku-bukunya.
“Aku akan menemuimu besok, ok! Hari ini aku punya pekerjaan mendadak. Ya aku tahu lusa sudah Natal. Tapi aku akan menyelesaikannya sebelum tahun baru.”
“Hei, bukuku jatuh satu.”
“Oh maaf,” kata Nami sambil menyelipkan ponselnya di antara telinga dan pundaknya. Ia lalu mengambil buku milik Dean. “Aku bukan berbicara padamu, Neil. Aku tutup dulu telponnya. Nanti aku akan menghubungimu lagi.”
“Kau ingin pergi berkencan dengan kekasihmu?”
Nami bingung dengan pertanyaan Dean. Ia mengernyit heran.
“Aku tidak punya kekasih.”
“Yang menelponmu barusan?” Dean masih memilih-milih buku.
“Oh itu Neil, dia editorku. Dia terus menerus mengoceh soal novel baruku. Menyuruhku untuk merampungkannya sebelum tahun baru,” jawab Nami. Nami melihat buku-buku yang berada di rak. Rak-rak itu sangat tinggi.
“Kau akan menerbitkan novel lagi?” tanya Dean seolah ia tidak acuh.
“Ya, novel kelimaku.”
Dean tidak berkomentar lagi. Ia memilih-milih buku lagi dengan santai. Dan saat ia menemukan buku yang menarik dan menyuruh Nami untuk membawanya, Nami tidak ada di sampingnya. Dean mengelilingkan penglihatannya lalu mencarinya di antara rak-rak buku. Ia kemudian menemukan Nami di bagian fiksi best sellers. Nami berdiri tegak di sana. Dean menghampirinya.
“Hei.”
“Oh maaf, aku hanya sedang melihat-lihat buku di sini.”
Dean menyerahkan buku yang ia dapat kepada Nami. Sudah total lima buku yang Nami pegang sekarang. Mata Dean tertuju pada buku yang ada di rak setinggi dengkulnya. Ia mengambil buku tersebut. Nami memperhatikannya dengan saksama.
“Ini novelmu?”
Nami membulatkan matanya karena Dean tahu padahal ia tidak mengatakannya.
“Dari mana kau tahu?”
“Matamu.”
“Mataku?”
“Ya, mata bangga dengan apa yang kau capai. Melihat hasil karyamu ada di sini.”
Nami langsung terdiam. Dean bisa melihatnya semudah itu, padahal Anne Scholz, Danniela Durand atau teman-temannya yang lain tidak bisa melihat itu. Justru Dean orang yang baru dikenalnya tahu tentang dirinya.
“Apakah benar-benar terlihat?”
“Hanya orang bodoh sialan yang tidak dapat melihatnya.” Dean menepuk kepala Nami dengan novelnya. “Sekarang cepat kau bayar semuanya.”
Ia meletakkan novel Nami di tumpukan buku yang akan dibeli Dean. Nami masih tidak percaya. Bahkan Dean membeli keempat bukunya sekaligus.
“Bukankah kau tidak suka novel?”
“Andrea Pallazo adalah orang yang cerdas, cermat, idealis dan dinamis. Aku yakin apa yang menjadi karyanya adalah pilihan yang benar-benar baik. Dia memutuskan membuat karyamu menjadi film. Itu sudah lebih dari cukup untuk menerangkan semuanya padaku.”
Perlahan senyum Nami mengembang. Entahlah perkataan dari Dean sungguh membuat hatinya senang. Secara tidak lagsung Dean memang sedang memujinya dan ingin membaca karyanya. Ternyata Dean tidak seburuk yang ia kira.
❆❆❆
Dean tengah membaca buku yang dibelinya kemarin ketika Jeremy datang ke rumahnya. Ia membawakan makan siang untuk Dean. Tentu saja itu atas perintah Dean.
“Kau membaca novel?” tanya Jeremy heran.
“Seperti yang kau lihat,” jawabnya sambil mencomot kentang goreng di hadapannya.
“Apa selerahnmu berubah karena tanganmu terkilir?” tanyanya.
“Bisa dikatakan seperti itu,” jawab Dean tidak acuh. Ia kemudian menutup novelnya dan mulai duduk untuk makan. Jeremy Scott mendengus kesal dengan jawaban Dean Gariando. Temannya itu begitu tidak acuh dan seenaknya.
“Kapan kau mulai masuk bekerja?”
“Setelah tahun baru mungkin.”
“Oh Tuhan, bisahkah kau sedikit peduli pada pekerjaanku? Aku yang menggantikan semua tugasmu selama kau sakit,” kesalnya karena ketidakpedulian Dean.
“Kau memang digaji untuk itu. Jangan mengeluh atau aku akan mengurangi jatah bonus tahunanmu,” ancaman Dean itu sukses membuat Jeremy diam. Dean makan dengan perlahan menggunakan satu tangannya.
“Baiklah, kau memang manusia berdarah dingin,” gerutu Jeremy. Jeremy tidak bisa melakukan apa pun untuk membantah Dean Gariando, pasalnya sahabatnya itu adalah pemilik beberapa franchise di Manhattan tempatnya bekerja. Kebanyakan franchise yang bergerak di makanan siap saji. Dan dia juga salah satu pemegang saham di perusahaan periklanan terkenal di Amerika, meskipun sahamnya tidak terlalu besar. Itu semua bisnis keluarganya dan Dean ditugaskan oleh ayahnya untuk mengurus itu semua. Anggaplah Dean Gariando orang yang sukses karena usaha orangtuanya.
“By the way, ketika aku menjemputmu kemarin, kenapa kau bisa berada di butik pakaian wanita?” tanyanya penasaran sekaligus mengalihkan obrolan.
“Karena wanita sialan itu,” jawabnya sambil mengunyah. Jeremy mengerutkan keningnya.
“Wanita sialan? Siapa maksudmu?”
“Yang membuat tanganku cacat.”
Oh, hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Jeremy. Entahlah ia tidak begitu tahu mengapa temannya itu bisa terlibat lagi dengan wanita pembuat tangannya terkilir. Baru Jeremy akan bertanya, ponselnya sudah berdering. Memotong pertanyaan yang mengelantung di pikirannya.
“Dean, aku harus kembali ke rumah. Nenekku datang dari Alaska siang ini dan Ibuku menyuruhku untuk menjemputnya di bandara. Kau bisa menghubungi Matilda Reiner atau Teresha Ford untuk membantumu jika kau ada keperluan. Maaf sekali sahabatku karena meninggalkanmu di saat makan siang seperti ini. Aku akan membawakanmu makan malam nanti masakan ibuku dan juga beberapa kado Natal.” Dean mendengarnya tanpa peduli. Ah ia harus menghabiskan makan siangnya sendiri dan terlebih malam nanti adalah malam Natal yang harus ia habiskan sendirian. Mengingatnya saja sudah membuat Dean kesal setengah mati.
“Whatever, aku punya setumpuk buku untuk menemani kesendirianku.”
Jeremy Scott mengangguk sambil lalu dan segera pamit kepada Dean kemudian menuju pintu rumah sahabatnya itu. Sementara Dean Gariando tafakur di meja makannya sambil menatap sampul novel yang menemaninya makan siang. Ia baru membaca beberapa lembar dan tiba-tiba ia teringat dengan wanita sialan yang membuat hidupnya kacau minggu ini. Nami Anezaki, wanita sialan yang membuat Natalnya tahun ini harus sendirian dan dengan tangan terkilir.
TBC...